Matatelinga - Binjai, Setelah sebelumnya Ketua DPRD Kota Binjai Zainuddin Purba menyatakan,
kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap dua tim sukses Partai Nasdem,
tidak langsung ada berkaitan dengan JPS. Tapi ada dugan orang yang
melaporkan kepada JPS, masalah uang serangan fajar yang diberikan oknum
tertentu kepada saksi korban pada saat pemilu legeslatif tangal 9 april
lalu. Dan orang-orang inilah yang diduga merupakan aktor dibaliknya.
J
Payo Sitepu (JPS), selaku ketua MPC Ormas Kota Binjai, yang kembali
ditemui wartawan koran ini dibalik jeruji dibawa pengawasan anggota jaga
(polisi-red), Selasa (13/5/2014) menyatakan, jika dibalik aksi
kekerasan yang diakuinya dilakukanya merupakan permainan dan campur
tangan dari elit politik.
"Memang saya akui, saya yang melakukan
penyiksaan karena geram melihat kader saya yang secara mentah-mentah
menipu dan menghabiskan uang saya," terang JPS, yang beberapa saat lalu
mendapatkan kunjungan dari sanak family.
Tapi, dibalik
keberanian kedua kader ormas yang diketuainya, dipaparkanya, kalau
mereka melakukan tindakan seperti itu dengan menghabiskan uang dan
menipunya mentah-mentah. Bukan tanpa alasan yang jelas dan disokong oleh
seseorang dibelakangnya. Karena mereka tahu siapa orang yang ditipu.
"Kalau
tidak, mana mungkin mereka berani melarikan uang dan menipu saya. Kam
pikir saja, mereka merupakan kader dan mereka juga tahu sepak terjang
saya dulu. Jadi, jika tidak ada yang menyokong mereka. Mana mungkin
mereka berani melakukan itu. Coba kam pikir secara logika," tanya JPS.
Tapi,
dirinya enggan menyebutkan siapa orang yang dimaksud dibalik tindakan
penipuan yang dilakukan kedua kadernya itu. "Kam pasti tahu siapa
orangnya. Pastinya, saya akan bertanggungjawab atas tindakan saya ini.
Saya tahu kesalahan saya dan karena kehilaf akibat terbawa suasana.
Namun, saya meminta laporan saya tentang penipuan yang dilakukan kedua
kader saya diterima Polres Binjai," tanya dia lagi sembari tersenyum.
"Uang
itu uang saya pribadi. Dimana uang itu merupakan uang capek kepada 10
kader yang disiapkan disetiap lingkungan Kecamatan Binjai Utara. Uang
itu merupakan sebagai kinerja untuk mengawasi dari luar jalanya
pemilihan legislatif agar tidak terjadi kecurangan. Jadi itu uang bukan
untuk uang beli suara. Keduanya aja yang salah kaprah dalam mengartikan
perintah," timpal dia.
Kecurigaan itu muncul, disebutkanya,
lantaran segala permasalahan yang mencuat kepermukaan di Kota Binjai.
Sehingga kota tidak aman dan terus bergejolak terjadi jelang pemilihan
legislatif. "Nah, disinilah dimanfaatkan elit politik ini untuk
mengambil hati masyarakat. Jadi ini murni kepentingan elit politik dalam
mengambil hati masyarakat untuk merauk suara," duga dia.
Diurutnya,
berbagai kasus yang terjadi jelang pemilihan legislatif. Dimulai dari
kericuhan antara ormas yang diketuainya dengan ormas lain di Kelurahan
Mencirim, Kecamatan Binjai Timur. Ini terjadi disaat pihak ormasnya
hendak melakukan rapat koordinasi untuk mendukung para kader yang
mengikuti pemilihan legislatif dan diusung dari beberapa partai
termaksud partai Demokrat, Nasdem dan lainya.
"Jadi dalam rapat
koordinasi yang dihadiri M Sazali ketua Demokrat Kota Binjai yang juga
wakil ketua MPO (Majelis Pimpinan Organisasi-red), Dr Edi selaku wakil
ketua saya dan juga ketua Nasdem Kota Binjai. Kita sepakati, jika kita
mendukung kader kita yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.
Dimana para kader ini diusung dari berbagai partai termaksud dalam
pertemuan dihadiri oleh Fauzi Fahri, kader kita," jelas dia.
Dijelaskanya,
ketika kami mau bersatu untuk mendukung kader kami agar duduk di kursi
pemerintahan inilah dimunculkanya (elit politik-red). Isu perang antar
ormas yang saya ketuai dengan ormas lain. Sehingga konsentrasi kami
menjadi buyar dimana harus mengurus organisasi dan kader yang mau duduk
di kursi legislatif.
"Selama ini saya pegang ormas, tidak pernah
terjadi gesekan antar ormas lain dengan ormas yang saya ketuai.
Hubungan kami sesama ormas juga harmonis. Seperti hubungan saya sama
ketua AO, baik-baik saja dan tanpa pernah ada gesekan. Kalau pun sempat
terjadi, tidak pernah merambat kemana-mana dan cepat dicegah. Karena
kami sesama ketua ormas ingin kota ini aman dan tenteram. Kasihan
masyarakat, jika terjadi kericuhan dimana-mana," timpalnya.
Sama
seperti terjadi di pasar bawa (pajak tafiv-red). Ini timbul disaat saya
terlibat kasus ini dan dikejar pihak kepolsian sehingga saya berhasil
diamankan. Kalau tidak timbul kasus yang menimpa saya. Peristiwa bentrok
dipasar tavif tidak mungkin terjadi. Dan menahan seluruh anggota ormas
agar tidak mengambil tindakan yang dapat mencederai ormas itu sendiri.
"Karena
saya pastinya akan berusaha mencegahnya dan langsung berkoordinasi
dengan para ketua ormas. Tapi, nayatanya saya lagi berhalangan dengan
kasus yang menimpa saya. Jadi momen-momen seperti inilah yang diambil
oleh oknum elit pilitik ini," terang dia.
"Dan perhitungan
suara guna menetapkan para calon legislatif. Ini juga momen yang diambil
oleh oknum tersebut. Agar saya tidak bisa mengawasi tindak tanduknya.
Setiap momen ini saya duga segaja dimanikanya untuk mencari simpatisan
dan suara masyarakat. Agar dia dapat meraih keuntungan," timpal dia
kembali.
Sementara pihak kepolisian masih terus memburu terhadap
14 orang lagi yang diduga ikut terlibat dari kasus penyiksaan dua tim
sukses nasdem. Dan mereka tanpaknya hanya berkutik pada tindak pidananya
saja. Dengan akan memanggil dokter Edi, selaku wakil ketua ormas yang
diketuai JPS.
"Kita masih dilapangan guna mencari keberadaan
dari 14 orang yang sudah masuk dalam daftar pencarian kita. Memang kita
besok ada menjadwalkan pemanggilan dokter Edi, selaku wakil ketua. Kita
hanya ingin memintai keterangnya terkait kasus ini," tegas Kapolres
Binjai AKBP Marcellino Sampouw SH Sik melalui Kasat Reskrim AKP Revi
Nurvelani, sembari menutup telpon selularnya.
(Hendra/Mt-01)