Matatelinga - Jakarta, Habibie
menulis kisah eksklusivitas Prabowo dalam Buku 'Detik-detik Yang
Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi'. Seperti dikutip
detikcom dari buku tersebut, Jumat (13/6/2014), pada tanggal 22 Mei 1998
tepatnya pukul 06.10 WIB BJ Habibie menelepon Jenderal TNI Wiranto dan
menunjuknya sebagai Menhankam/Panglima ABRI dalam kabinet yang baru saja
dibentuk.
Letjen Prabowo Subianto dicopot dari jabatan
Pangkostrad pada Mei 1998 karena menggerakkan Konstrad tanpa
sepengetahuan Pangab. Selama berkarier di militer, Prabowo dekat dengan
eksklusivitas sebagai menantu Presiden Soeharto yang baru lengser 21 Mei
1998.
Tak sampai 3 jam kemudian Wiranto melaporkan hal penting
ke Habibie. Yang dilaporkan Wiranto adalah pergerakan Kostrad di bawah
komando Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto yang tanpa sepengetahuannya.
Habibie pun langsung mencopot Prabowo Subianto.
Tak lama setelah
telepon ditutup, Habibie mendapat laporan dari ADC bahwa Pangkostrad
Letjen Prabowo Subianto minta waktu bertemu. Dalam pertemuan itu Prabowo
meminta masa jabatannya ebagai Pangkostrad diperpanjang, namun Habibie
menolaknya. Habibie sendiri memahami kesalahan Prabowo itu bisa jadi
karena eksklusivitas yang melekat pada dirinya.
"Karena Prabowo
adalah menantu Presiden Soeharto di mana budaya feodal masih sangat
subur, maka dalam gerakan dan tindakannya sering terjadi konflik antara
disiplin militer dan disiplin sipil. Apapun yang dilakukan akan
ditolerir dan tidak pernah mendapat teguran dari atasannya," kata
Habibie dalam buku tersebut.
"Kebiasaan pemberian eksklusivitas
kepada Prabowo adalah mungkin salah satu penyebab gerakan pasukan
Kostrad tanpa tanpa konsultasi, koordinasi, dan sepengetahuan Pangab
terjadi," lanjut Habibie.
Menurut Habibie, kebiasaan tersebut
mungkin terjadi bukan karena kehendak Presiden Soeharto. Tetapi
lingkungan feodal lah yang memperlakukannya demikian.
"Walaupun
saya sangat akrab dan dekat dengan Prabowo, ia menganggap saya sebagai
salah satu idolanya, kebiasaan tersebut tidak boleh saya tolerir dan
biarkan ini satu pelajaran bagi semu abahwa dalam melaksanakan tugas,
pemberian eksklusivitas kepada siapa saja, termasuk kepada keluarga dan
teman, tidak dapat dibenarkan," katanya.
Habibie pun lega saat
menemuinya Prabowo tak lagi mengenakan senjata apapun. Meskipun
pertemuan Habibie pasca melepas jabatan Pangkostrad dari Prabowo
berlangsung panas.
"Kemudian ketika Prabowo masuk ke ruang saya,
melihat bahwa Prabowo tidak memakai senjata apa pun, saya merasa puas.
Hal ini berarti pemberian eksklusivitas kepada Prabowo tidak
dilaksanakan lagi," katanya.
(Dtc/mt)