Rommy Van Boy Tampung Keluhan Warga Medan Polonia
MATATELINGA MATATELINGA, Medan Anggota DPRD Kota Medan, Rommy Van Boy, menampung sejumlah keluhan warga Medan Polonia terkait pelayanan K
Berita Sumut
MATATELINGA -Jakarta : Marsialapari dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Ketika seorang warga hendak mengerjakan sawah, orang-orang datang membantu. Setelah pekerjaan selesai, giliran berpindah ke sawah warga lainnya.
Tenaga berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Hari ini membantu tetangga, esok menerima bantuan dari tetangga sebagai imbal balas kebaikan, semacam arisan.
Tidak ada kuitansi. Tidak ada perjanjian tertulis. Yang menjadi pengikat adalah kepercayaan untuk dan kesadaran bahwa kehidupan tidak mungkin dijalani seorang diri.
Baca Juga:
Bagi Hamsir Siregar RCM, Ketua Umum FORMAT (Forum Masyarakat Tabagsel), marsialapari bukan sekadar tradisi gotong royong dalam mengerjakan sawah. Di dalamnya terdapat nilai sosial tentang timbal balik, kepedulian, persaudaraan dan kesediaan hadir ketika orang lain membutuhkan.
"Yang harus kita jaga bukan semata-mata cara lama bekerja di sawah, tetapi nilai yang ada di balik marsialapari. Teknologi boleh berubah, tetapi jangan sampai semangat saling membantu ikut hilang," kata Hamsir dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay.
Marsialapari tumbuh dari falsafah sosial masyarakat Tabagsel yang menempatkan kebaikan sebagai sesuatu yang harus diteruskan.
Salah satu ungkapan yang hidup di tengah masyarakat berbunyi: "Molo pahae simanggurak, akkon pahulu do sitippulon. molo ra iba manjagit na dilehen ni halak, akkon ra do iba paulakkon."
Baca Juga:
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa seseorang yang menerima kebaikan dari orang lain semestinya bersedia mengembalikan kebaikan itu.Nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui marsialapari.
Dari Sawah ke Sawah
Dalam praktiknya, masyarakat bekerja secara bergiliran. Ketika sawah seorang warga membutuhkan tenaga, sejumlah warga datang membantu. Setelah pekerjaan di lahan tersebut selesai, mereka berpindah ke lahan warga lainnya.Begitu seterusnya.
Pekerjaan yang terasa berat jika dilakukan sendiri menjadi lebih ringan karena ditanggung bersama. Namun, menurut Hamsir, kekuatan marsialapari tidak berhenti pada persoalan tenaga kerja.
Di tengah pekerjaan, masyarakat berinteraksi. Mereka berbincang, bercanda, bertukar cerita dan kabar kampung.Suasana bekerja pun menjadi lebih riang.Dalam penuturan masyarakat setempat, suasana bekerja dengan riang dan penuh kebersamaan itu dikenal dengan nuansa marngair.
Baca Juga:
"Di sawah bukan hanya padi yang ditanam. Ada hubungan sosial yang ikut tumbuh," ujar Hamsir.
Menurut dia, sawah pada masa itu juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat.Di sana orang bekerja sekaligus memperkuat persaudaraan.
Ketika Mesin Masuk Sawah
Perubahan zaman kemudian membawa teknologi ke sektor pertanian.Traktor, mesin pengolah tanah, alat panen dan berbagai teknologi pertanian membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien.Hamsir menilai perkembangan tersebut tidak perlu ditolak.
Petani, kata dia, justru harus mendapatkan akses terhadap teknologi agar produktivitas meningkat, beban kerja berkurang dan kesejahteraan membaik."Persoalannya bukan traktor. Bukan mesin. Bukan pula sistem upah. Petani tentu berhak mendapatkan upah yang layak," katanya.
Yang perlu dijaga, lanjut Hamsir, adalah jangan sampai kemajuan teknologi membuat hubungan sosial berubah sepenuhnya menjadi hubungan transaksi.Jika dahulu seseorang membantu karena kesadaran sosial, jangan sampai setiap bentuk bantuan hanya diberikan ketika ada pembayaran.
"Jangan sampai ketika mesin menggantikan sebagian tenaga manusia, transaksi juga menggantikan kepedulian," ujarnya.
Menyelamatkan Roh Marsialapari
Baca Juga:
Menurut Hamsir, mempertahankan marsialapari tidak berarti masyarakat harus kembali menggunakan peralatan pertanian tradisional.
Kebudayaan, kata dia, selalu mengalami perubahan. Karena itu, marsialapari harus dapat beradaptasi dengan kehidupan modern. Semangatnya dapat diterapkan dalam kelompok tani, koperasi, kerja bakti, kegiatan sosial desa, usaha bersama ataupun berbagai bentuk kolaborasi masyarakat.
"Bentuknya boleh berubah. Teknologinya boleh berubah. Tetapi rohnya jangan berubah," kata Hamsir.
Roh tersebut adalah kesediaan membantu, membangun kepercayaan dan memahami bahwa setiap orang pada suatu saat akan membutuhkan orang lain.
Hamsir mengingatkan agar marsialapari tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.Ia khawatir generasi mendatang mengenal marsialapari hanya melalui buku, dokumentasi budaya atau cerita orang tua."Jangan sampai anak-anak kita nanti tahu istilah marsialapari, tetapi tidak pernah mengalami nilai yang ada di dalamnya," ujarnya.
Baca Juga:
Menurut Hamsir, jika suatu hari marsialapari hanya menjadi istilah budaya, masyarakat bukan hanya kehilangan sebuah pola kerja.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya nilai sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
"Kalau yang hilang hanya cara mencangkul bersama, mungkin itu bagian dari perubahan zaman. Tetapi kalau yang hilang adalah kepedulian dan kesediaan membantu sesama, yang hilang adalah sebagian dari jati diri kita," kata dia.
Marsialapari, menurut Hamsir, merupakan bagian dari kekayaan sosial masyarakat Tabagsel—Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Padangsidimpuan dan wilayah sekitarnya.
Baca Juga:
Nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Karena itu, pembangunan desa dan modernisasi pertanian tidak cukup hanya berbicara mengenai produktivitas, teknologi, pupuk, benih, irigasi dan alat mesin pertanian.
Ada modal sosial yang juga harus dirawat.Masyarakat membutuhkan teknologi untuk maju, tetapi juga membutuhkan solidaritas untuk bertahan.
"Kita tidak perlu kembali ke masa lalu. Yang perlu kita lakukan adalah membawa nilai baik dari masa lalu ke masa depan," ujar Hamsir.
Ia pun menyampaikan satu pesan sederhana. Teknologi boleh membuat pekerjaan di sawah menjadi lebih cepat. Mesin boleh menggantikan sebagian tenaga manusia.Tetapi hubungan antarmanusia tidak boleh kehilangan kepedulian.
Baca Juga:
"Sawah boleh dikerjakn mesin, tetapi persaudaraan tetap harus dikerjakan manusia."
Bagi Hamsir, itulah pesan yang perlu terus diwariskan dari marsialapari: manusia boleh hidup semakin modern, tetapi tidak boleh lupa bahwa pada suatu hari, setiap orang akan membutuhkan tangan orang lain.
Baca Juga:
MATATELINGA MATATELINGA, Medan Anggota DPRD Kota Medan, Rommy Van Boy, menampung sejumlah keluhan warga Medan Polonia terkait pelayanan K
Berita Sumut
MATATELINGA, Deliserdang Polsek Dolok Masihul meringkus dua pria terduga pelaku pencurian dengan pemberatan pembongkaran rumah di Lingkunga
Berita Sumut
Dari dulu, sekarang, dan hingga nanti, tujuan Asuransi Astra selalu sama, yaitu memberikan ketenangan bagi siapa saja yang membutuhkan perli
Ekonomi
MATATELINGA, Senayang Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran serta memperkuat upaya pencegahan Kebakaran
TMMD
MATATELINGA, Medan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas menyambut baik program Jaksa Sahabat Pendidik. Program ini menjadi langkah pen
Lifestyle
MATATELINGA,Rantauprapat Tim gabungan Satuan Reserse Narkoba (Satres Narkoba) Polres Labuhanbatu bersama Badan Narkotika Nasional Kabupate
Berita Sumut
MATATELINGA, Medan Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto kembali melakukan mutasi dan promosi jabatan mulai dari perwira menengah (pamen) h
Berita Sumut
MATATELINGA,Simalungun Polres Simalungun Polda Sumatera Utara kembali menunjukkan komitmennya sebagai institusi yang berintegritas dan hum
Berita Sumut
MATATELINGA, Labura Kebun sawit warga dijadikan lapak transaksi jualbeli barang terlarang, petugas Unit Reskrim Polsek Aek Natas, jebloska
Berita Sumut
MATATELINGA,Simalungun Polres Simalungun Polda Sumatera Utara terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam di wilayah huk
Berita Sumut
MATATELINGA, Toba Satresnarkoba Polres Toba bersama Tim BNN Kabupaten Simalungun melaksanakan kegiatan Gerebek Sarang Narkoba (GSN) Barak /
Berita Sumut
MATATELINGA, Rantauprapat Mengancam keselamatan jiwa anak didik. Pasalnya, pagar pengaman komplek SD Negeri 13 Rantau Utara, yang terletak
Berita Sumut