MATATELINGA - Bandung : Lapas Kelas IIA Banceuy Bandung terus memperkuat program pembinaan warga binaan melalui berbagai kegiatan yang konstruktif dan produktif. Mengusung semangat "Dari Sangkar ke Sanggar", pembinaan tidak lagi hanya berorientasi pada masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan, karakter, dan kemandirian saat kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Banceuy Bandung, Eris Ramdani, menegaskan bahwa pembinaan di lapas dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan minat dan potensi masing-masing warga binaan.
"Setiap warga binaan yang masuk terlebih dahulu kami asesmen untuk mengetahui passion dan potensi yang dimiliki. Setelah itu mereka ditempatkan pada bidang kegiatan kerja yang sesuai, seperti peternakan, perikanan, pertanian, konveksi, dan bakery," ujar Eris.
Baca Juga:
Saat ini, sekitar 96 warga binaan aktif mengikuti program kegiatan pada 16 Pokja .
Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah budidaya ayam petelur sebagai bagian dari program ketahanan pangan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Di Lapas Banceuy terdapat 1.100 ekor ayam petelur yang produksinya terus meningkat.
"Hasil panen telur saat ini sudah mencapai sekitar 240 butir per hari dan terus mengalami peningkatan. Selain itu kami juga mengembangkan budidaya ikan lele yang hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan dapur lapas," jelas Eris.
Menurutnya, kegiatan produktif tersebut tidak hanya mengisi waktu warga binaan secara positif, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung melalui konsep learning by doing.
Baca Juga:
"Kami ingin ketika mereka selesai menjalani masa pidana dan kembali ke masyarakat, mereka sudah memiliki bekal keterampilan yang bisa menjadi modal hidup," katanya.
Selain mendapatkan pembinaan, warga binaan yang bekerja juga memperoleh premi atau upah sesuai ketentuan. Lapas Banceuy juga bekerja sama dengan perbankan untuk membuka rekening bagi warga binaan yang telah memiliki dokumen administrasi.
Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Banceuy Bandung, Topan Ahmad Hadia, mengatakan bahwa sektor konveksi menjadi salah satu program pembinaan yang paling diminati warga binaan.
Melalui kerja sama dengan pihak ketiga, termasuk perusahaan konveksi, warga binaan mendapatkan pelatihan menjahit hingga mampu menghasilkan produk yang memenuhi standar industri.
Baca Juga:
"Kami sudah beberapa kali menerima pesanan dari luar, mulai dari pembuatan seragam Sekolah Rakyat hingga pakaian dalam jumlah besar. Ini menjadi bukti bahwa hasil karya warga binaan memiliki kualitas yang mampu bersaing," ujar Topan.
Ia mengungkapkan, sebagian besar peserta pelatihan sebelumnya sama sekali tidak memiliki kemampuan menjahit.
"Banyak yang datang dari nol. Di sini mereka belajar hingga mampu menjahit dengan baik. Harapannya setelah bebas nanti mereka bisa membuka usaha sendiri dan memperoleh penghasilan yang halal," katanya.
Untuk memperkuat proses transfer keterampilan, Lapas Banceuy juga menunjuk warga binaan yang telah memiliki pengalaman di bidang konveksi sebagai mentor bagi rekan-rekannya.
Baca Juga:
Saat ini sekitar 20 warga binaan aktif mengikuti pelatihan konveksi dan jumlah peminatnya terus meningkat.
Program pembinaan berbasis keterampilan ini menjadi implementasi nyata transformasi pemasyarakatan yang menempatkan lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembelajaran, pembinaan, dan pemberdayaan.
Semangat "Dari Sangkar ke Sanggar" menjadi simbol perubahan bahwa warga binaan tidak hanya menjalani pidana, tetapi juga dipersiapkan menjadi pribadi yang produktif, mandiri, dan siap berkontribusi positif ketika kembali ke tengah masyarakat.
Baca Juga: