MATATELINGA. Tangerang - Sulitnya mencari sebuah pekerjaan membuat orang rela melakuan hal apa saja untuk mendapat kan uang khusus nya menyelamat kan perut sejengkal. Kali ini, saat sedang melayani tamunya yang memesan jasa open booking order (BO), dua gadis remaja yang baru lulus sekolah di Kota Tangerang terjaring razia oleh petugas Satpol PP, pada Kamis (10/06/2021) lalu.
Satpol PP Kota Tangerang juga menyegel hotel yang digunakan ke dua kupu-kupu malam tersebut untuk melayani tamu jasa open booking. Pihak hotel dianggap menyediakan sarana prostitusi dan melanggar aturan.
“Kita telah segel, ada dua kamar yang terbukti digunakan sebagai sarana prostitusi,” paparnya.
Baca Juga:Tingkatkan Kualitas Pelayanan & Fasilitas Kesehatan, Bobby Nasution Segera Evaluasi Manajemen RS Pirngadi
Keduanya saat itu sedang berada di sebuah kamar hotel di wilayah Kota Tangerang, Banten. Kabid Gakumda Satpol PP Kota Tangerang Iwan Syarifudin mengatakan bahwa keduanya disinyalir merupakan pekerja prostitusi daring. Saat ini keduanya sudah dibawa ke Dinas Sosial Kota Tangerang untuk dilakukan pembinaan.
“Atensi dari pimpinan yakni Kasatpol PP, kami amankan dua orang terduga pelaku open BO yang diduga menyewa kamar untuk digunakan sebagai sarana prostitusi. Kita melakukan pembinaan dengan mengirim mereka ke dinas sosial,” tandasnya, Sabtu (12/06/2021).
[br]
Sementara itu, salah satu pelaku prostitusi Bunga (bukan nama sebenarnya) masih berusia 18 tahun dan mengakui bahwa dia terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kepada petugas, dia mengaku bahwa setelah lulus dari SMA belum mendapatkan pekerjaan. “Saya gimana mau cari kerja, (tapi ) ijazah saja belum ada kan baru lulus sekolah tahun ini. Tolong pak jangan telepon ibu saya, dia bakalan marah kalau tahu saya kerja kayak gini,” ucap Caca kepada petugas.
[br]
Lain lagi dengan N (17), saat diminta untuk menelepon orangtuanya dia justru terlihat satai lantaran orangtuanya sudah mengetahui pekerjaannya itu. Dia terpaksa menjadi pekerja prostitusi karena menjadi tulang punggung keluarga.
“Mamah sudah cerai. Saya menggantikan posisi bapak buat nutup kebutuhan sehari-hari, kayak makan, bayar listrik, sama yang lain,” kata Novi.
Ia mengaku bahwa penghasilannya selama ini hampir seluruhnya dikirimkan untuk kebutuhan sehari-hari di rumahnya. Sementara dia hanya mengambil secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Cuma ambil buat jajan sama makan aja, sisanya dikirim semua,” kata dia. (Mtc/Okz)