Rabu, 23 September 2026 WIB

Rico Waas Tegaskan Pelestarian Budaya Jadi Tanggung Jawab Bersama

Putra - Rabu, 23 September 2026 17:14 WIB
Rico Waas Tegaskan Pelestarian Budaya Jadi Tanggung Jawab Bersama
Diskusi rico waas

Rico Waas mengatakan, penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga menjadi pengingat akan tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan leluhur. Menurutnya, kekayaan budaya Medan merupakan kemewahan yang harus terus dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.
Ia menilai keberagaman budaya Kota Medan menjadi kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah. Berbagai tradisi, seni, pakaian, musik, tarian, kuliner, serta warisan budaya masyarakat Melayu, Batak, Karo, Jawa, Minang, Aceh, India, Tionghoa, dan kelompok lainnya menjadi kekayaan yang perlu terus dieksplorasi.


"Kadang-kadang orang lupa mencintai kalau tidak mengenal. Begitu kita mengenal, kita akan mau merawat dan mempromosikannya," ujar Rico Waas
Menurutny, cagar budaya tidak hanya penting karena nilai sejarahnya, tetapi juga dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat luar daerah maupun mancanegara. Karena itu, bangunan dan kawasan bersejarah harus diperkenalkan dengan baik sehingga tumbuh kecintaan masyarakat untuk menjaga sekaligus mempromosikannya.


Pentingnya memperkenalkan tradisi yang mulai jarang dikenal juga terlihat dalam kegiatan tersebut melalui penampilan Tari Inai Melayu Deli dari Sanggar Rumah Talur, denganmarasumber dan penata tari M. Muhar Omtatok danpenata musik Datuk Zumaidi Abdullah.
Ia mengapresiasi penampilan tersebut dan berharap Tari Inai serta berbagai tarian yang menjadi warisan budaya tak benda Melayu Deli terus diperkenalkan dan dipromosikan.

Baca Juga:

Tari Inai Melayu Deli merupakan tari klasik yang menjadi bagian dari ritus masyarakat Melayu, biasanya ditampilkan pada malam berinai besar menjelang pernikahan bangsawan. Tarian ini dibawakan penari laki-laki bujang dalam jumlah ganjil dengan membawa inai dan dian, serta menggunakan dulang pahar. Geraknya menggunakan pola sembah delapan penjuru mata angin dan tujuh petala, diiringi gendang dua muka, serunai, bangsi, gong, dan lagu magis Senandong Dedeng. Tradisi ini diyakini telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Editor
: Putra
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Ops Cipkon KRYD, Pawas Polsek Sunggal Pimpin Patroli Titik Rawan Kamtibmas
Pemko Medan Pacu Transformasi Layanan Publik Berbasis AI
Kominfo Binjai Terima Audiensi APPI, Jalin Sinergi Publikasi dan Keterbukaan
PSI Dorong Perubahan Perda PDRD Medan Tak Bebani Masyarakat
Jawab Fraksi DPRD Medan, Rico Waas Tegaskan P-APBD 2026 Difokuskan Untuk Banjir, Infrastruktur, Pendidikan Hingga Medan Utara
Pembukaan Kongres Gampera, Wesly Silalahi Pukul Gong di Serbaguna
 
Komentar
 
Berita Terbaru