Matatelinga - Nay Pyi Taw, Dalam
kesempatan ini Presiden SBY menyempatkan diri untuk berpamitan dengan
para pemimpin negara ASEAN. KTT ASEAN ke-24 yang digelar di Myanmar
menjadi KTT terakhir yang akan dihadiri oleh Presiden SBY.
"Ini akan menjadi terakhir kalinya
saya menghadiri KTT ASEAN setelah sepuluh tahun, setiap tahun kita
bertemu bersama-sama. Saya ingin meminta maaf jika selama sepuluh tahun
ini, mungkin ada sesuatu yang saya lakukan dianggap para pemimpin tidak
berkenan," kata SBY dalam
Sidang Pleno KTT ASEAN di Myanmar International Convention Centre, Nay Pyi Taw, Myanmar, Minggu (11/5/2014).
SBY
mengatakan dirinya banyak belajar berbagai hal selama 10 tahun
Indonesia berperan dalam organisasi perhimpunan bangsa-bangsa Asia
Tenggara ini, Menurutnya, kerjasama dengan negara-negara ASEAN berbeda
dengan kerjasama negara-negara seperti G8, G7, dan Uni Eropa. Sebab,
kerjasama ASEAN lebih menonjolkan penanaman budaya dan nilai-nilai.
"Di
dalamnya ada kepedulian, saling berbagi, memberi dan menerima. Kadang
kami memberi pertimbangan satu sama lain, membangun konsensus.
Dan kami tahu ada kepentingan nasional yang sama antar anggota ASEAN," ungkapnya.
SBY
mencontohkan, saat ASEAN menghadapi konflik Thailand dan Kamboja
beberapa waktu lalu, keluarga ASEAN duduk bersama-sama mencari solusi.
Hal yang sama dilakukan negara-negara anggota ASEAN ketika Myanmar
dihadapkan pada persoalan embargo.
"Kami tidak dapat ditarik oleh
Amerika Serikat atau oleh Tiongkok," ujar SBY. Dalam kasus Laut Cina
Selatan, SBY meminta untuk tidak menggunakan pendekatan militer,
melainkan pendekatan diplomasi.
Hal itu merupakan wujud salah satu kekuatan ASEAN. "Saya ingin ASEAN memiliki pendekatan yang baik untuk negara-negara
lain, ke dunia, kami memiliki pola pikir yang sesuai denganperkembangan zaman,” imbuhnya.
"Terimakasih atas kebersamaan dan kerjasamanya selama ini," tutup SBY.
Dalam
KTT ini hadir 10 pemimpin negara ASEAN termasuk SBY.Mereka yang hadri
diantaranya adalah Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei
Darussalam, PM
Kamboja Hun Sen, PM Laos Thongsing Thamavong, PM Malaysia Tun Abdul
Razak, Presiden Filipina Benigno S. Aquino III, PM
Singapura Lee Hsien Loong, Deputi PM Thailand Phongthept Epkanjana, dan PM Vietnam Nguyen Tan Dung.
(Dtc/Mt-01)