Matatelinga - Jakarta, Sepanjang triwulan akhir 2013 hingga awal 2014, beberapa kekuatan ekonomi Asia mengalami pelemahan, di antaranya Jepang, India, dan China.
Ketiga
negara tersebut selama ini dipandang sebagai penggerak ekonomi global,
khususnya di kawasan Asia. Melemahnya ekonomi Jepang, China, dan India
mengirim sinyal kompleksitas pemulihan global yang semakin tinggi.
Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia belum
berhasil menunjukkan kinerja terbaiknya pascakrisis 2008.
Defisit
transaksi berjalan Jepang semakin dalam seiring kinerja perdagangan
yang juga memburuk. Ekonomi Jepang pada kuartal terakhir 2013 hanya
bertumbuh 0,7 persen atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 1
persen. Adapun defisit transaksi berjalan mencapai 1,59 triliun yen
(USD15,4 miliar) yang sebagian besar diakibatkan laju impor yang jauh
melebihi ekspor. Di sisi lain China dan India yang sepanjang 2009–2011
menjadi katalisator pertumbuhan Asia dan dunia masih tertekan oleh
kinerja ekonomi domestiknya.
India pada triwulan terakhir 2013
hanya mampu tumbuh 4,7 persen dan sepanjang 2012–2013 hanya tumbuh
kurang dari 5 persen. Ini jauh dari kinerja sebelumnya yang mampu
mencapai 8–9 persen pada periode 2008–2010. Inflasi yang meroket di
India memaksa bank sentral India menaikkan suku bunga acuan beberapa
waktu lalu ke level 8 persen. Nilai tukar rupee juga terus tertekan
sepanjang triwulan akhir 2013 hingga awal 2014. Di sisi lain, upaya
rebalancing pertumbuhan China juga belum menunjukkan hasil
menggembirakan.
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China
tahun 2014 ditargetkan berada pada level 7,5 persen atau lebih rendah
dari target sebelumnya 7,7 persen. Perlambatan ini dipandang sebagian
kalangan sebagai imbas dari perubahan strategi pertumbuhan China
sehingga terjadi beberapa penyesuaian yang berdampak pada laju ekonomi
domestik.
Kendati demikian, pada periode Januari–Februari 2014,
sejumlah indikator ekonomi China relatif menurun yang memicu spekulasi
sulitnya pertumbuhan 7,5 persen dicapai hingga akhir tahun. Bahkan
sejumlah analis memperkirakan pada kuartal I-2014 pertumbuhan ekonomi
China berada di bawah 7,5 persen.
Data industri manufaktur China
hanya tumbuh 8,6 persen di bawah target 9,5 persen dan merupakan kinerja
industri terburuk dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan investasi aset
tetap mencapai level terendah sepanjang 13 tahun terakhir sebesar 17,9
persen atau lebih kecil dari proyeksi 19,4 persen. Neraca perdagangan
China juga menunjukkan anjloknya kinerja perdagangan pada Februari 2014
dengan defisit mencapai USD22,9 miliar (bulan sebelumnya surplus USD31,9
miliar).
Ekspor tumbuh negatif 18,1 persen, sementara impor
tumbuh positif 10,1 persen. Otoritas keuangan China juga melansir
besaran dana pinjaman yang disalurkan periode Februari 2014 sebesar
644,5 miliar yuan atau lebih rendah dari 1,32 triliun yuan pada Januari
2014. Kondisi ini menjadi jawaban dari melemahnya permintaan komoditas
China akibat memburuknya sejumlah indikator ekonomi negara itu.
Hal
ini tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap permintaan
komoditas global mengingat China merupakan salah satu negara dengan
permintaan komoditas terbesar selama 10 tahun terakhir. Bagi Indonesia,
pelemahan ekonomi Asia, khususnya China, mendorong terus dilakukannya
penguatan struktur dan fundamental perekonomian. Sepanjang 2013 hingga
awal 2014, pemerintah terus mendorong sejumlah kebijakan ekonomi sebagai
stimulus untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kinerja ekonomi
domestik.
Pada 2013, ekonomi nasional tertekan oleh melebarnya
defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, dan ancaman
risiko inflasi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan
paket kebijakan ekonomi secara bertahap masing-masing paket pertama pada
Agustus 2013 dan paket kedua Desember 2013. Paket kebijakan ekonomi ini
diarahkan untuk memperkokoh fundamental ekonomi dan upaya mitigasi
risiko ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Paket pertama
dilakukan melalui upaya perbaikan neraca transaksi berjalan, penguatan
nilai tukar, menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya beli
masyarakat dan tingkat inflasi, serta menstimulasi investasi. Sementara
paket kedua ditempuh dengan mengedepankan perbaikan neraca perdagangan
melalui pengurangan impor barang konsumsi dan mendorong nilai ekspor
melalui peraturan kemudahan impor tujuan ekspor. Paket ini diharapkan
dapat memperbaiki neraca perdagangan dan mempersempit defisit neraca
transaksi berjalan.
Kedua paket itu telah menghasilkan sejumlah
perbaikan yang menggembirakan, termasuk penguatan fundamental yang
sedang berlangsung saat ini. Inflasi sepanjang 2013 dapat dikendalikan
dan ditekan ke level 8,3 persen, nilai tukar rupiah terus menguat, dan
iklim investasi terus membaik. Memang beberapa target dari paket
kebijakan masih menyisakan sejumlah tantangan seperti perbaikan neraca
transaksi berjalan yang belum optimal dari kedua paket tersebut.
Untuk
itu, saat ini pemerintah sedang mempersiapkan paket kebijakan ekonomi
ketiga yang fokus pada penyeimbangan neraca pembayaran dan perbaikan
neraca transaksi berjalan. Paket kebijakan ekonomi ketiga itu akan
diarahkan untuk memperbesar dan menahan aliran modal tetap berada di
pasar domestik. Paket tersebut akan mengatur lebih lanjut repatriasi
keuntungan investor asing sehingga dapat diinvestasikan kembali di
Indonesia.
Relaksasi investasi ini diharapkan dapat memperkecil
defisit neraca transaksi berjalan sekaligus menstimulasi investasi
lainnya yang distribusinya akan diarahkan pada pembangunan sektor riil.
Tentunya revisi daftar negatif investasi (DNI) tetap mengedepankan
kepentingan nasional serta terus mendorong pengusaha lokal untuk lebih
berperan dalam sistem perekonomian nasional.
Paket kebijakan
ekonomi ini tentu sangat diharapkan dapat semakin memperkokoh struktur
fundamental ekonomi nasional yang kini terus menguat seiring dengan
bekerjanya paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pada 2013.
PROF FIRMANZAH PhD
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan
(KNIA/Okz)