Matatelinga.com, Sepanjang tahun 2015, pasar saham Amerika Serikat (AS) cukup mengalami tekanan akibat kondisi perekonomian global dan ketidakpastian kenaikan tingat suku bunga Bank Sentral AS Federal Reserve (the Fed).
Selain itu, harga minyak dunia yang turun drastis sepanjang tahun 2015 juga memberikan peran yang signifikan terhadap flukutuasi pasar saham di AS. Sepanjang tahun 2015, saham-saham di sektor energi secara total mengalami penurunan sebesar 24 persen.
Penurunan harga saham pada sektor energi ini menjadi yang terburuk sejak terjadinya resesi ekonomi pada tahun 2008 lalu. Saham sektor energi hanya mampu tumbuh positif pada level tertinggi sebesar 0,34 persen.
Selain karena penurunan harga minyak mentah dunia, perlambatan ekonomi China juga turut mempengaruhi perdagangan saham di AS. Indeks saham S&P 500 bahkan sempat turun sebesar 11 persen pada bulan Agustus 2015 akibat kekhawatiran perlambatan ekonomi China setelah mencapai rekor tertinggi pada Bulan Mei. Namun, S&P 500 juga turut terbebani dengan perusahaan energi yang turun sebesar 77 persen. Bahkan delapan dari 10 saham terburuk merupakan perusahaan energi.
"Jika Anda membandingkan penutupan saham 31 Desember 2014 dengan hari ini, Anda akan melihat perbedaan yang signifikan dengan penutupan tahun lalu dengan saat ini. Patut menjadi pelajaran adalah bahwa orang-orang harus melihat penurunan harga saham yang terjadi pada hari-hari besar " ujar Kepala Strategi Bursa Efek di New York, Donald Selkin seperti dikutip Reuters dan dilansir laman okezone.com, Jumat (1/1/2016).
Dow Jones Industrial Average juga mengalami penurunan pada tahun 2015. Dow Jones tercatat turun sebesar 2,23 persen dan menjadi penurunan tahunan terbesar sejak tahun 2008 lalu.
Nasdaq Composite menjadi satu-satunya yang megalami kenaikan pada tahun ini. Nasdaq sepanjang tahun 2015 mencapai kenaikan sebesar 5,73 persen setelah melewati masa-masa yang sulit sejak tahun 2000 lalu.
(Fit)