Matatelinga.com, Bank sentral Amerika (the Fed) akhirnya menaikkan suku bunga secara bertahap, dimulai dengan menaikkan sebesar 25 basis poin dari 0-0,25 persen menjadi 0,25- 0,50 persen.
Kebijakan ini ditempuh the Fed setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar 15- 16 Desember 2015. Rapat FOMC ini memandang perbaikan pasar tenaga kerja dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini menjadi momentum menaikkan suku bunga, meninggalkan zona suku bunga murah ke era kebijakan ketat.
Kenaikan suku bunga the Fed tahun 2015 sepertinya tidak terlalu mengkhawatirkan seperti dugaan banyak kalangan, khususnya risiko terjadinya capital-outflow secara besar-besaran. Namun, langkah The Fed untuk menaikkan suku bunga tidak hanya berhenti pada tahun ini saja. Direncanakan tahun 2016-2018, suku bunga the Fed akan dinaikkan kembali secara bertahap sampai pada level optimum.
Pada awal bulan ini bank sentral Eropa (ECB) kembali menurunkan suku bunga acuannya dari minus 0,2 persen menjadi minus 0,3 persen dan mempertahankan program stimulus pasar sebesar 60 miliar euro per bulan hingga 2017. Keputusan the Fed terhadap kebijakan suku bunga acuannya dalam jangka pendek setidaknya telah meredam spekulasi di pasar. Hal ini sekaligus memberikan ruang kepastian yang lebih bagi pengelolaan sistem keuangan global, regional dan domestik.
Hal itu pula yang tentunya diharapkan oleh banyak negara ketika the Fed akan melakukan kenaikan lanjutan di sepanjang 2016. Bagi Indonesia, kondisi ini perlu terus diikuti dengan penguatan fundamental ekonomi di tahun 2016. Penguatan fundamental dapat dilakukan melalui empat faktor berikut; pertama, kebijakan nilai tukar Rupiah perlu mendapat perhatian besar bagi otoritas moneter mengingat sepanjang 2015, nilai tukar mengalami tekanan yang cukup dalam (terdepresiasi sekitar 8-9 persen sepanjang Januari- November 2015).
Dengan naiknya proyeksi defisit ini, pemerintah berharap ruang fiskal masih dapat mendorong sejumah agenda pembangunan di 2015. Memang menjadi persoalan ketika target penerimaan pajak sebagai tulang punggung APBN tidak terpenuhi. Tercatat hingga akhir November 2015, realisasi penerimaan pajak baru mencapai Rp841 triliun atau 65 persen dari target APBNP 2015 sebesar Rp1.294,2 triliun.
Proyeksi realisasi penerimaan pajak hingga 31 Desember 2015 diperkirakan hanya akan mampu menyentuh angka Rp950 triliiun atau 73 persen dari target APBNP 2015. Dengan realita ini tentunya pemerintah dapat mengalkulasi ulang proyeksi penerimaan pajak 2016 yang ditargetkan dalam APBN 2016 sebesar Rp1.360,1 triliun.
ap tumbuh.
Meskipun dengan angka suku bunga di kisaran 6 persen, suku bunga kredit Indonesia masih relatif tinggi di banding negara negara seperti Vietnam, Malaysia dan Singapura. Keempat hal ini menurut pandangan saya perlu menjadi perhatian pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla khususnya dalam menahan efek perlambatan ekonomi global. Keempat faktor ini berimbas langsung pada upaya penguatan daya beli masyarakat sekaligus mendorong penguatan ekonomi domestik, tentunya di samping sejumlah pembangunan infrastuktur yang sedang berjalan. Dilansir dari laman okezone.com
(Fit)