Matatelinga - Jakarta, Pelemahan dollar AS
di pasar global diharapkan dapat mengangkat posisi rupiah meski dalam
level tipis. Nilai tukar rupiah diuji
kekuatannya pada awal pekan ini, Senin (8/9/2014).
Rupiah
sendiri "menolak" untuk melemah ke arah Rp 11.800 per dollar AS.
Walaupun sempat melemah di pembukaan Jumat lalu akibat sentimen
penguatan dollar AS secara global, rupiah akhirnya ditutup menguat tipis
di Rp 11.759 per dollar AS ketika mayoritas mata uang Asia masih terus
melemah hingga penutupan. Penguatan rupiah itu dibarengi oleh turunnya
imbal hasil SUN 10 tahun hingga ke 7,96 persen.
Setelah keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) pada
Kamis (4/9/2014) malam lalu mendorong penguatan dollar AS, di
perdagangan keesokan harinya penguatan Greenback justru tidak bertahan
lama. Ini setelah angka Nonfarm Payrolls AS pertambahannya masih di
bawah perkiraan serta angka bulan lalu. Euro pun naik tipis ke 1,296 per
dollar AS hingga Jum’at (5/9/2014) malam.
Pagi ini ditunggu
data neraca perdagangan China yang diperkirakan menipis surplusnya. Di
sore hari ditunggu data Sentix Investor Confidence Zona Euro.
Menurut riset
Samuel Sekuritas Indonesia, kurang baiknya data AS berpeluang mengurangi
tekanan penguatan dollar AS terhadap rupiah hari ini. "Data perdagangan
China yang bagus juga berpeluang menambah dorongan penguatan terhadap
rupiah hari ini," tulisnya.
Sementara itu, pada awal perdagangan di pasar spot Senin pagi, rupiah bergerak di zona hijau. Seperti dikutip dari data Bloomberg,
mata uang garuda ini dibuka pada posisi Rp 11.735 per dollar AS, atau
0,20 persen dibanding penutupan akhir pekan lalu di level 11.759.
(Mt)