MATATELINGA, Jakarta : Nilainya kerap sekali mengalami perubahan hampir pada setiap harinya. Dan kali ini, pada Kamis (29/12/2022), harga minyak mentah bergerak melemah menyusul kabar penurunan stok minyak di Amerika Serikat yang jauh dari ekspektasi.
Tolok ukur harga minyak dunia itu juga sedang diterpa ekspektasi kenaikan suku bunga pada tahun depan mengingat Federal Reserve tetap bersikeras untuk menahan gejolak inflasi meskipun risikonya adalah perlambatan ekonomi alias resesi.
Kendati demikian, penurunan harga dimungkinkan akan terbatas karena sentimen pemulihan ekonomi di China dan pemangkasan ekspor minyak dari Rusia akan mendongkrak harga kembali, dilansir Reuters.
Baca Juga:Edy Rahmayadi Minta Kepala Desa Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur Desa
Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin akan melarang ekspor minyak mentah dan produk minyak mulai 1 Februari 2023 selama lima bulan ke negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap harga jual Moskow.
Koreksi harga dipicu peningkatan kasus Covid-19 di China yang dapat memupus harapan permintaan, kendati Beijing telah melonggarkan sejumlah pembatasan.
Minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Februari turun 0,5%, menjadi USD82,84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 50 sen, atau 0,6%, menjadi USD78,46 per barel, seperti dikutip dari Okezone, Kamis (29/12/2022).
[br]
Persediaan minyak mentah AS turun sekitar 1,3 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 23 Desember 2022, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute.
Angka tersebut kurang dari yang diharapkan dari perkiraan 1,5 juta barel, sebagaimana diproyeksikan analis. Pemerintah AS akan merilis angka mingguan terbarunya hari ini.