Setiap hari, ada sekitar 10 sampai 20 anak duduk manis sambil membaca buku atau mewarnai gambar di Rumah Baca Merah Putih yang digagas Wibi Nugraha di pinggir Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan. Kehadiran rumah baca berukuran 8 x 4 meter itu berdinding tepas dan beratap seng. Sekeliling ruangan terlihat rak panjang dan bertingkat yang berisi susunan buku-buku dengan berbagai genre. Deretan rak buku yang dirancang Wibi masih banyak yang kosong.
Oleh : James P. Pardede
Aktivis lingkungan ini sesungguhnya lebih konsen dengan masalah hutan bakau dan konservasi hutan bakau. Seiring waktu berjalan, setiap hari setelah selesai mengurusi bakau di pulau Kunang-Kunang yang masih satu kawasan dengan Danau Siombak, Wibi melihat anak-anak yang tinggal di kawasan Danau Siombak saban sore mandi dan sepertinya tidak ada kegiatan lain yang bisa mereka lakukan. Melihat hal ini, muncul ide kreatif Wibi untuk mendirikan rumah baca.
[adx]
"Kalau mau mengikuti keinginan hati, saya sesungguhnya ingin membeli ini dan itu. Isteri saya yang menguatkan saya untuk mewujudkan rumah baca ini. Dengan uang tabungan yang saya punya, saya mulai mengajak teman-teman dan beberapa pejabat untuk mewujudkan ide saya membangun rumah baca ini," papar Wibi.
Rumah Baca Merah Putih, lanjut ayah tiga anak ini sudah selesai sejak Apri 2019 lalu, dengan koleksi 300 judul buku. Kalau anak-anak datang ke rumah baca ini, mereka selalu bertanya apakah ada buku baru atau gambar baru yang bisa diwarnai. Untuk mewarnai, anak-anak yang datang harus membawa pensil warna sendiri dari rumahnya masing-masing.
Rumah Baca Merah Putih Danau Siombak
"Anak-anak yang datang ke rumah baca, ada yang sudah sekolah, ada yang belum sekolah dan ada juga yang tidak sekolah. Saya bersyukur dengan adanya rumah baca ini, mimpi saya untuk membangkitkan semangat anak-anak rajin mambaca dan mereka bisa mewujudkan mimpinya. Saya mendirikan rumah baca ini, agar anak-anak bisa pintar dan terhindar dari pergaulan bebas terutama narkoba. Anak kurang mampu harus pintar membaca meski tak sekolah," tandas Wibi Nugraha.
[adx]
Dengan adanya Rumah Baca Merah Putih ini, Wibi telah membuka wawasan masyarakat di kawasan Danau Siombak untuk mewujudkan budaya baca ditengah-tengah keluarga. Keluarga yang tidak mampu bisa memanfaatkan buku-buku yang ada di rumah baca. Wibi juga sangat prihatin ditengah gempuran teknologi informasi yang sudah sangat masif mempengaruhi generasi muda dengan berita-berita hoax, harapannya dengan rumah baca ini anak-anak bisa terhindar dan melupakan berita-berita hoax yang tak penting itu.
Kehadiran Wibi Nugraha di Danau Siombak sesungguhnya karena kepeduliannya terhadap potensi mangrove, pelan tapi pasti Wibi telah menunjukkan perubahan di kawasan Danau Siombak. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarga, Ia menekuni pembibitan mangrove dan budidaya ikan nila yang bisa dipanen setiap saat.
"Sebenarnya, sampai hari ini saya punya banyak teman yang bisa memberikan bantuan dan mendukung upaya saya melakukan konservasi hutan mangrove. Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan M Husni
misalnya, atau Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto yang selalu memberikan dorongan semangat dan bantuan untuk mencerdaskan anak bangsa," tandasnya.
[adx]
Juara terbaik 1 Nasional Wana Lestari kategori Kader Konservasi Alam dari Medan, Sumatera Utara, Wibi merasa itu adalah hadiah dari perjuangan panjangnya. Penghargaan ini tidak lantas membuatnya sombong, ia tetap fokus melakukan pemberdayaan masyarakat di Danau Siombak. Danau Siombak menjadi tempatnya beraktivitas seperti melakukan usaha budidaya ikan nila, pemanfaatan kerang lokan dan pembuatan jus buah nipah untuk membantu masyarakat agar mendapat penghasilan tambahan.
Selain mendirikan Rumah Baca Merah Putih, Wibi Nugraha juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait hutan mangrove dengan membuka Kelas Alam Rumah Mangrove Indonesia. Kelas Alam ini mengedukasi masyarakat untuk lebih mengenal 202 jenis tanaman mangrove yang hidup di 124 negara. Bentangan mangrove terpanjang ada di Pulau Sumatera dan ada 115 jenis mangrove yang tumbuh di Pulau Sumatera.
Suami dari Wina Widya ini tanpa sadar telah ikut mengambil peran dalam mendukung budaya literasi keluarga (BuLiKe). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan gerakan literasi harus dimulai dari tiga poros utama. Yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Wibi menjadi bagian dari masyarakat yang ikut berperan menciptakan generasi cerdas lewat Rumah Baca Merah Putih.[adx]
Tiga Poros Utama
Gerakan literasi memang harus dimulai dari tiga poros utama yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Semuanya harus dimulai dan bermula dari keluarga, yang merupakan lingkungan terdekat dari anak. Ungkapan yang mengatakan 'manusia memiliki dua mata, dua telinga, dan satu mulut. Itu artinya kita harus lebih banyak melihat (membaca), mendengar, dan sedikit bicara'.
Ungkapan ini tak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi pada acara pembukaan Bazar Buku Big Bad Wolf di Gedung Eks Bandara Polonia Medan beberapa waktu lalu. Edy Rahmayadi menegaskan bahwa sumber daya manusia yang cerdas, suka bekerja keras, dan tidak banyak berbicara adalah cermin dari orang yang suka membaca buku.
Masih menurut Edy Rahmayadi, budaya literasi bisa dimulai dan dibangun dari keluarga. Kalau orang tuanya rajin membaca buku, maka anak-anaknya juga akan menduplikasi orang tuanya. Sama halnya dengan yang disampaikan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sumatera Utara Nawal Edy Rahmayadi mengapresiasi program literasi yang dilaksanakan oleh Tim PKK Kota Binjai.
[adx]
"Kaum ibu adalah yang paling dekat dengan masyarakat. Untuk itu, program literasi yang digagas Dasa Wisma Anggrek dapat mempercepat pembangunan masyarkat khususnya anak-anak", kata Nawal Edy Rahmayadi.
Dasa Wisma Anggrek terletak di Lingkungan II Kelurahan Sumber Karya Binjai. Dasa Wisma adalah kelompok ibu-ibu berasal dari 10 kepala keluarga (KK) yang rumahnya berdekatan dan bertetangga untuk mempermudah jalannya suatu program. Dasa Wisma Anggrek ini menonjolkan diri sebagai Dasa Wisma Literasi, dimana anak-anak mereka dididik untuk rajin membaca dan mewarnai bersama.
Anggota DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan Sugianto Makmur menyampaikan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang berpengaruh pada pembentukan karakter anak karena di dalamnya terikat oleh ikatan emosi dalam pertalian darah yang kuat. Keluarga merepresentasikan tanggung jawab ekonomi dan sosial. Fenomena yang dekat menjauh dan yang jauh mendekat terjadi dalam lingkup keluarga di era dunia maya. Lunturnya kebiasaan makan malam bersama dalam satu meja berganti dengan konsentrasi pada layar ponsel pintar masing-masing.
[adx]
"Menyikapi hal ini, kita perlu melakukan introspeksi diri dan evaluasi terhadap kebersamaan kita dengan keluarga sampai sejauh mana", paparnya.
Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk penguatan kapasitas wawasan dan pendidikan dalam keluarga tanpa melupakan budaya adiluhung bangsa. Perpustakaan dalam rumah sebagai langkah strategis dalam pengembangan Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe). Ketika sarana dan prasarana sudah siap tinggal langkah aksi dalam bentuk tindakan nyata menumbuhkan kesadaran pentingnya banyak membaca.
Menumbuhkan Kesadaran
Peran orangtua menumbuhkan budaya membaca sangat dibutuhkan dalam semangat literasi keluarga. Ketika orangtua malas, kata Sugianto maka anak akan turut serta. Keteladanan dan pendekatan partisipatoris perlu digalakkan dalam setiap keluarga. Agar ada keinginan untuk memegang buku perlu stimulus dan brain storming dalam bentuk ungkapan malu ketika kurang membaca.
[adx]
"Anak-anak harus diingatkan dan ditanamkan tentang arti pentingnya membaca buku. Teladan ini harus kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Bagaimana mungkin kita memaksa anak untuk rajin baca buku sementara kita sendiri tak pernah menyentuh buku," tandas ayah empat anak ini.
Lalu, apa upaya kita untuk membangun literasi keluarga milenial di era digital seperti sekarang ini? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita menumbuhkan kesadaran tenang arti pentingnya banyak membaca dalam keluarga. Keluarga yang pintar adalah keluarga yang cakap secara literasi.
Berbicara tentang minat baca, ada banyak data yang dipublikasikan di berbagai media yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat kita setiap tahun semakin menurun, ada juga paparan data lainnya memberikan apresiasi bahwa minat baca masyarakat kita semakin meningkat.
[adx]
Jangan terlalu berfokus pada angka-angka ini, yang paling penting sebenarnya adalah dampak yang ditimbulkan dari meningkatnya budaya literasi masyarakat kita. Jangan karena angka-angka yang mengatakan budaya literasi atau minat baca kita menurun, semangat kita untuk membaca buku juga jadi ikut-ikutan menurun. Untuk menopang budaya literasi ditengah-tengah keluarga, berbagai upaya harus segera dilakukan.
Mengingat keluarga memiliki peran penting dalam menghidupkan budaya literasi, tambah Sugianto maka BuLiKe perlu dioptimalkan sejak dini. Pasangan baru yang memulai keluarga kecil perlu memahami pentingnya budaya literasi dalam tumbuh kembang anak. Kecerdasan dan kreativitas berasal dari wawasan dan gagasan yang ditentukan pula dari interaksi dalam rumah.