Jumat, 01 Mei 2026 WIB

DPP Kerukunan Puak Batak Bersaudara: Jangan Emosi Tanggapi Konsep Wisata Halal Danau Toba

- Rabu, 04 September 2019 14:41 WIB
DPP Kerukunan Puak Batak Bersaudara:  Jangan Emosi Tanggapi Konsep Wisata Halal Danau Toba
Mtc/ist
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kerukunan Puak Batak Bersaudara, Mayjend TNI (Purn) Sumiharjo Pakpahan berharap agar polemik wisata halal di Danau Toba, yang canangkan Pemprovsu tidak disikapi dengan emosinal. Dia meminta warga melihat dampak positi
MATATELINGA, Medan: Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kerukunan Puak Batak Bersaudara, Mayjend TNI (Purn) Sumiharjo Pakpahan berharap agar polemik wisata halal di Danau Toba, yang dicanangkan Pemprovsu agar tidak disikapi dengan emosional. Dia meminta warga melihat dampak positif dari wacana tersebut.

"Jadi kita harus berpikir positif dan tidak emosional menanggapi masalah ini. Kerukunan Puak Batak Bersaudara tujuannya adalah rukun. Setiap ada pernyataan tentunya, lebih baik kita tanyakan langsung sebelum mengembangkan isu," ungkap Sumiharjo kepada wartawan di Medan, Rabu (4/9) siang.


[adx]


‎Sumiharjo meminta kepada pihak-pihak yang bertentangan agar berpikir postif terkait hal ini, dan tidak memperkeruh suasana. Menurutnya dengan polemik tersebut, yang dirugikan adalah orang Batak di Danau Toba sana.

"Ini yang harus kita jaga. Jangan sampai pernyataan satu diplesetkan, pihak-pihak yang berkepentingan," tukasnya.

Untuk diketahui, wisata halal itu, merupakan kebutuhan dan hak bagi wisatawan muslim untuk mendapatkan fasilitas seperti makanan dengan sajian halal dengan dilengkapi tempat beribadah seperti Masjid atau Musolah. Ia mengatakan bukan berarti akan merusak adat istiadat dan kearifan lokal. Malah sebaliknya, ‎akan banyak menarik kunjungan wisatawan muslim dari berbagai negara untuk berkunjung ke Danau Toba.


[adx]


"Menanggapinya, akan dibuat nanti aturan halal menurut Islam, tidak. Itu tanggapan kita yang salah. Halal menurut satu agama, belum tentu halal satu agama lainnya," jelas Sumiharjo.

Sumiharjo mengaku, sangat memahami kebutuhan serta hak bagi seorang muslim untuk menjalani ibadahnya. Dia mengatakan sudah sepantasnya, Danau terbesar di Asia Tenggara itu ramah dengan wisata muslim. Apa lagi, Wisatawan Mancanegra (Wisman) berkunjung ke Danau Toba didominasi Wisman asal Malaysia, mayoritas pemeluk agama Islam.

"Kita harus menunjukan kerukanan itu, kita mendidik manusia itu, taat kepada agamanya. Yang Islam salat 5 waktu, salat Jumat. Kalau tidak ada rumah ibadah disana (Danau Toba), sudah tidak Ketuhanan Yang Maha Esa itu. Jangan emosional untuk menanggapai satu hal," tandasnya..


[adx]


Ia mengajak masyarakat untuk mencermati apa disampaikan oleh Gubernur Sumut. Karena, setiap kebijakan Pemerintah akan memberikan dampak baik bagi masyarakat sendiri.

‎"Wisata halal menurut Pak Gubernur itu, pendapat saya secara analisa dan cermat seperti itu. Halal bagi seseorang, belum tentu halal bagi orang lain," jelas Sumiharjo.

"Kalau itu (Wisata Halal) adalah cara yang terbaik untuk mengangkat PAD di kawasan Danau Toba, dan mengangkat ekonomi kerakyatan, mengapa kita harus menolak . Tentunya kita mendukung. Kita bukan mendukung wisata halal. Tapi, jawab sendiri saja. Kita mempunyai Pancasila, Pemerintah hadir untuk menyiapkan itu semua, terutama bagi pengunjung yang datang kesana (Danau Toba)," imbuh Sumiharjo.


[adx]


Sumiharjo mengungkapkan jangan polemik ini, berdampak negatif dengan kunjungan wisatawan ke Danau Toba. Ia bertanya siapa akan dirugikan, pasti masyarakat selaku pelaku usaha pariwiata Danau Toba sendiri.

‎"Seperti data BPS (Badan Pusat Statistik) 55 persen wisman datang dari Malaysia. Mereka mengomong, kita kesana pas hari Jumat kita mau salat tidak ada masjid.‎ Yang rugi siapo?," kata Sumiharjo.

Ia mengatakan wisatawan terus berdatangan ke Danau Toba dengan melihat fasilitas yang lengkap termasuk untuk beribadah. Kemudian, merasa aman dan nyaman. Dengan itu, target 1 juta wisman akan cepat terealisasi di Danau Toba. (mtc/fae)
Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru