Jumat, 01 Mei 2026 WIB

Masyarakat Sari Rejo Ancam Demo Saat Pelaksanaan Pemilu 2019

- Senin, 21 Januari 2019 18:10 WIB
Masyarakat Sari Rejo Ancam Demo Saat Pelaksanaan Pemilu 2019
Mtc/fae
Seribuan masyarakat Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia untuk kesekian kalinya menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Kota Medan, Senin (20/1). Kali ini, warga ingin mengadu kepada Gubsu Edy Rahmayadi terkait perm
MATATELINGA, Medan: Seribuan masyarakat Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia untuk kesekian kalinya menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Kota Medan, Senin (21/1/2019).  Kali ini, warga ingin mengadu kepada Gubsu Edy Rahmayadi terkait permasalahan sengketa lahan mereka. 


Dalam aksinya, mereka datang menggunakan berbagai kendaraan. Mulai dari roda empat, roda dua, hingga odong-odong (kendaraan roda empat yang dirangkai dengan gerbong).  Massa kemudian memblokir Jalan Diponegoro. Hingga lalu lintas pun harus dialihkan.  Massa langsung berorasi di depan gerbang.  Sambil membentangkan poster berisi tuntutan penerbitan sertifikat tanah. 

"Kalau tidak ada juga solusi, kami akan tetap begini. Berunjuk rasa sampai Pilpres nanti," ujar Ketua Forum Masyarakat (FORMAS) Sari Rejo Pahala Napitupulu di hadapan massa. 

Hingga saat ini mereka heran. Kenapa belum ada solusi dari pemerintah, meski perkara ini sudah dimenangkan hingga tingkat MA. 


"MA itu keputusan tertinggi. Diatasnya hanya keputusan Tuhan," ungkapnya. 

Pahala juga mengaku selama ini dia mendapat tekanan dari masyarakat. Dalam pembahasan mereka sempat tercetus untuk memboikot Pemilu. 

"Kami akan turun ke jalan saat pemilu," ungkap Pahala .

Jika boikot dilakukan, dipastikan akan mempengaruhi partisipasi pemilih di Kota Medan. Karena di Sari Rejo saat ini dihuni oleh sekitar 7 ribu kepala keluarga, dengan jumlah penduduk 28. 093 jiwa. Belum lagi warga pendatang yang ada di sana juga mencapai sekitar 9 ribu jiwa. 

Konflik lahan yang mendera Sari Rejo disebut Pahala sudah terjadi puluhan tahun. Sehingga dia heran kenapa masalah itu seakan tidak punya solusi.  


Desakan kepada pemerintah untuk memberikan solusi sudah dilakukan. Unjuk rasa hingga mendatangi pemerintah pusat juga dilakukan. Namun hasilnya masih saja nihil. 

Mereka juga seakan menjadi anak tiri. Selama ini Presiden Joko Widodo terus membagikan sertifikat tanah. Sehingga mereka iri. 

Belum lagi soal pengembang yang dengan gampangnya mendapatkan sertifikat. Kawasan Sari Rejo kini banyak berubah, sudah berdiri pusat ekonomi yang cukup besar. 

"Timbul kecurigaan, ada sindikasi yang tersistematis TNI AU dengan  BPN dan Pemko Medan. Karena di sekitar tanah sari rejo, sudah ada sertifikat. Sedangkan kami tidak dapat," ungkapnya.

Mereka menuntut 260 hektar yang selama ini dihuni dihapus dari aset negara. Menyusul keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan mereka. 

"Penghapusbukuan itu yang diduga jadi mainan. Karena proses ini susah puluhan tahun," ungkapnya. 

Dalam pertemuan tadi, rencananya pemprov akan melakukan pembahasan soal Sari Rejo. ATR/BPN dan instansi terkait akan dilibatkan dalam pembahasan. Sehingga bisa ditemukan solusi.

Warga Sari Rejo memberikan tenggat waktu hingga satu bulan sebelum Pemilu 2019 dilakukan. Pihak Pemprov Sumut juga tampaknya mengamini.

"Saya tadi minta ada beberapa tahapan. Setelah pertemuan ini saya akan lapor ke Gubernur. Ke Kakanwil BPN juga. Kita akan lihat progres permasalahaannya. Nanti kita akan kordinasi dengan instansi terkait. Termasuk Forkopimda. Lanud kemudian dengan menteri keuangan. Jdi kita cari masalahnya. Karena permasalahan tanah ini menjadi fokus pak gubernur," tandasnya. 

Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru