Matatelinga - Medan, Gunung Sinabung mulai menunjukkan tanda-tanda menuju normal. Hal ini
terungkap dalam rapat koordinasi Pemprovsu dengan BNPB, kementerian dan
instansi terkait membahas penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung.
Dalam rapat yang berlangsung di rumah dinas Gubsu, Jl Sudirman, Medan,
Kamis (30/1) ini juga mengemuka rencana mengembalikan 4.639 KK dan
13.828 jiwa pengungsi dari 16 desa di luar radius 5 Km jika kondisi
SInabung terus menurun.
Gubernur Sumatera Utara H Gatot Pujo Nugroho ST MSi saat
memimpin rapat menjelaskan, diperlukan kebersamaan semua pihak terutama
bimbingan dan arahan
serta fasilitasi dari BNPB yang sangat sarat pengalaman dalam menangani
kebencanaan di dalam dan luar negeri.
"Kami berharap melalui Rakor ini terbangun sinergitas antara
Pemprovsu dengan BNPB/Kementerian dan Lembaga Terkait, sehingga
terbangun komitmen bersama bahwa bencana adalah urusan kita semua,"
katanya memberikan pengantar pada Rakor yang dipimpin langsung kepala
BNPB Syamsul Maarif .
Hadir dalam rapar tersebut Kasdam/1 BB, wewakili Kapolda Sumut, dari
Kementerian PU, Kementerian Pertanian dan Kementerian Pendidikan serta
Kesehatan. Sementara dari Pemprovsu hadir seluruh jajaran kepala SKPD
terkait
Gubsu juga memberikan arahan langsung kepada pimpinan SKPD jajaran
Pemprovsu menindaklanjuti apa-apa yang menjadi perhatian dari
penyampaian dan arahan Kepala BNPB sebagai Komandan Satgas Nasional.
Gubsu mengapresiasi peran TNI POLRI yang terus aktif dan sigap
memberikan pelayanan kepada masyarakat pengungsi di Kabupaten Karo.
Rencana
pemulangan pengungsi dari 16 desa diungkapkan Kepala BNPB Syamsul
Maarif. Menurutnya saat ini perkembangan Gunung Sinabung dari hari ke
hari semakin baik dan tenang. Sehingga diusulkan pengungsi dari 16 desa
di luar radius 5 km sudah bisa kembali ke pemukiman. Rencana ini masih
dalam tahap sosialisasi dan pengamatan terus menerus.
Tahap pertama, lanjutnya setelah PVMBG menyatakan bahwa radius 5 km
sudah aman, maka kita akan memulangkan 16 desa dengan jumlah 4.639 KK
sebanyak 13.828 jiwa.
Pemulangan baru bisa dilaksanakan dengan catatan infrastruktur desa
sudah ready. Mislnya jalanan sudah bersih bisa dilalui, aliran listrik
PLN harus hidup. Jika kondisi terus membaik maka masuk tahap kedua,
memulangkan warga dari radius 3 km.
Makanya, kalau seandainya 16 desa ini di kembalikan ke desa
masing-masing maka pemerintah juga harus memperhatikan lahan pertanian
mereka baik, penyediaan bibit, benih dan alat-alat pertanian. Selain itu
diberikan cash for work (padat karya) sebesar Rp.50.000,- per hari,
jaminan hidup dari Kemensos Rp. 6.000, termasuk orang yang tidak
mengungsi contohnya orang yang membantu pembersihan dan perbaikan lahan
perkebunan pengungsi.
"Itu kalau benar-benar aman, kalau kita lihat dari hasil pemantuan di
radius 5 KM pohon pisang dan talas masih tumbuh di bekas lahan yang terkena
awan panas, hal ini membuktikan bahwa lahan tersebut masih bisa
ditanami," kata Syamsul Maarif yang segera melaporkan perkembangan ini ke Presiden.
Untuk masalah pendidikan UN tetap dilaksanakan sesuai jadwal, maka akan
disediakan tempat khusus untuk bimbingan belajar bagi ag akan segera mnak-anak
pengungsi.
"Dari USU sudah siap untuk memberikan bimbingan. Juga bantuan keperluan
sekolah akan disampaikan Kemendikbud berupa pakaian seragam dan
keperluan proses belajar mengajar lainnya," katanya.
Untuk bantuan ke Siswa akan diberikan. Bea siwa yakni 1 juta untuk siswa
SD, 1,5 untuk siswa SMP sederajat dan 2 juta untuk siswa SMA sederajat
per tahunnya sedangkan untuk mahasiswa diberikan
2,1 Juta per semester.
Erupsi Mulai Berkurang
Sementara itu Kepa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG) Hendrasto menyampaikan paparan singkat tentang kondisi SInabung
terkini. Antara lain dipaparkan tentang : Erupsi yang disertai awan
panas yang besar terjadi pada tanggal 11 dan 16 Januari 2014, dan
berangsur berkurang jumlahnya hingga saat ini.
Kemudian, pertumbuhan kubah lava dan aliran lava masih terjadi.
Guguran-guguran lava pijar dari kubah /aliran lava terus terjadi ke arah
Selatan-Tenggara yang mencapai jarak terjauh lk. 1500 m.
Data kegempaan didominasi oleh Gempa Guguran (400-450/hari)dan Gempa
Hybrid (rata-rata 150/hari), diinterpretasikan sebagai proses
pertumbuhan kubah /aliran lava masih berlangsung di Kawah G unung
Sinabung. Jumlah Gempa Guguran perlahan naik sejak 23 Januari 2014.
Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Low Frekuensi (LF) dan Tremor menerus
masih terekam.
Data deformasi dan hiposenter gempa mengindikasikan adanya perpindahan
tekanandari tempat yang dalam menuju tempat yang lebih dangkal.
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi
ancaman bahaya Gunung Sinabung, lanbjutnya bahwa status kegiatan Gunung
Sinabung masih tetap AWAS (Level IV)
Maka. Potensi bahaya saat ini dan yang akan datang adalah: Erupsi masih
berpotensi terjadi, yang menghasilkan material berukuran abu (hujan abu
lebat) sampai lapili (berukuran 2-6 cm) yang ancamannya dapat mencapai
radius 5 km. Erupsi juga dapat disertai awan panas yang mengarah ke
Selatan dan Tenggara sejauh lk. 5 km.
Juga Pertumbuhan kubah berpotensi menimbulkan aliran lava, guguran lava
pijar dan aliran awan panas yang mengancam ke arah Selatan dan
Tenggara.Begitu juga Potensi longsor di lereng Utara (Lau Kawar) Gunung Sinabung
masih tinggi. Pemicunya karena terdapat lubang tembusan fumarola baru
yang diikuti beberapa kali kejadian longsor di lereng Utara.
Potensi untuk terjadinya lahar masih tinggi yang berasal dari endapan
abu/material erupsi dan sering terjadinya awan panas dan curah hujan
tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di
Gunung Sinabung
" Untuk itu, Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendaki dan
melakukan aktivitas pada radius 5 km dari Kawah Sinabung. Begitu juga
masyarakat di 17 Desa dan 2 Dusun yaitu : Desa Guru Kinayan, Desa
Sukameriah, Desa Berastepu, DesaBekerah, Desa Gamber, DesaSimacem, Desa
Perbaji, Desa Mardinding, DesaKuta Gugung, Desa Kuta Rakyat,
DesaSigarang-garang, Desa Sukanalu, DesaTemberun, Desa Kuta Mbaru, Desa
Kuta Tonggal, Desa Tiga Nderket, Desa Slandi dan Dusun Sibintun serta
Dusun Lau Kawar agar diungsikan," ujarnya.
Untuk Masyarakat di Kecamatan Naman Teran (Desa Kebayaken, Desa Naman,
dan Desa Kutambelin), yang terletak di Timur Laut dan berada di luar
radius 5 km berpotensi terkena material jatuhan. Desa Kuta Tengah,
DesaPintubesi, dan Desa Jeraya (Kecamatan Simpang Empat), yang terletak
pada arah Tenggara bukaan kawah Gunung Sinabung dan berada di luar
radius 5 km dari puncak berpotensi terkena awan panas. Keenam desa
tersebut agar agar diungsikan.
dan Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan
apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung
dan mulut serta pelindung mata.
Untuk masyarakat yang terganggu akibat hujan abu vulkanik lebat
terutama anak – anak dan masyarakat rentan lainnya di sekitar Gunung
Sinabung, dapat diungsikan sementara hingga hujan abu lebat mereda
"Bagi atap rumah masyarakat yang terkena dampak dari hujan abu vulkanik
tebal, agar segera membersihkan atap bangunan, untuk mencegah robohnya
atap karena beban berat," katanya.
Sehubungan masih adanya potensi terjadinya hujan maka masyarakat yang
bermukim dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap
waspada terhadap ancaman bahaya lahar.
Diminta agara masyarakat di sekitar Gunung Sinabung untuk tetap tenang,
tidak terpancing isyu-isyu tentang erupsi Gunung Sinabung, dan agar
senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten Karo/Muspida Karo
yang senantiasa mendapat laporan tentang aktivitas Gunung Sinabung.
Perwakilan dari USU juga memaparkan bahwa pihaknya Mulai minggu depan
akan melaksanakan bimbel khususnya untuk anak SMA. Hal ini dilakukan
full hari Sabtu dan Minggu 100 orang satu kelas, hingga 5 kelas.
Perwakilan dari Unimed juga menyampaikan dalam rapat bahwa Seluruh
mahasiswa yang kuliah di Unimed. Yang orangtuanya adlah korban erupsi
Gunung Sinabung akan dibebaskan uang kuliah
(Adm)