Matatelinga.com, Pembukaan lahan dan hutan kawasan Pulau Sumatera, khususnya di wilayah Asahan dan sekitarnya membuat jumlah populasi Harimau Sumatera (Panther Tigris Sumatrae) semakin terus tergerus. Berdasarkan data World Wide Fund for Nature (WWF), jumlah raja hutan di Sumatera itu hanya berkisar 300-400 ekor dan yang ada di Asahan diperkirakan hanya beberapa ekor saja.
Menurunnya populasi harimau sumatera disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, akibat adanya penurunan kawasan hutan sebagai tempat habitat harimau. Penurunan kawasan ini dilakukan untuk berbagai kegiatan, seperti pembukaan lahan baru. Tentu dengan adanya pembukaan lahan baru itu sangat berpengaruh terhadap populasi harimau itu sendiri.
Kedua penurunan populasi harimau akibat perburuan. Indikasinya bisa dilihat dengan masih banyak perdagangan kulit harimau dan sebagainya.
Disebutkannya, para pemburu ini menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan si raja hutan. Ada yang menggunakan sistim jerat, ada yang menggunakan senjata api dan pula yang menggunakan teknik racun.
Dampak pengerusakan hutan yang dialih fungsikan tersebut, khususnya dibeberapa desa kecamatan Bandar Pasir Mandoge Kabupaten warga penduduknya kini menjadi resah dan sudah banyak ternak hewan milik penduduk menjadi santapannya.
Menurut keterangan Camat Kecamatan Bandar Pasir Mandoge Sofyan Manulang kepada Matatelinga.com saat dikonfirmasi Sabtu (17/9/2016) melalui selularnya membenarkan adanya serangan teror yang dilakukan beberapa Harimau Sumatera terhadap warga penduduk yang bermukim didesa Tomuan Holbung, desa Hutabagasan, desa Hutapadang dan desa Gunting Sidodadi, kami sudah melaporkan kejadian ini kepada Bupati Asahan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang ada di Asahan.
Sofyan Manulang juga mengatakan kejadian ini sudah sejak dua minggu lalu terjadi dan hingga saat ini masih terus berlangsung, sudah banyak hewan ternak berupa lembu, kerbau dan kambing milik warga masyarakat desa tersebut menjadi korbannya.
Kami sangat mengharapkan bantuan pihak terkait untuk segera mengatasi permasalahan ini.
Secara terpisah Tambolon ,51, warga desa Hutabagasan saat ditemui didesa tersebut mengatakan kami warga penduduk didesa ini bila malam sudah tidak lagi tentram dalam beristirahat, teror yang dilancarkan "Nagogo" ( sebutan raja hutan dalam bahasa Batak Toba) sangat membuat kami cemas.
Kejadian ini sudah sejak dua minggu lalu dan hingga saat ini masih terus berlangsung, menurut informasi yang kami dengar sebelum teror Nagogo ini dilancarkan, ada warga seberang desa ini saat menjerat babi hutan, namun yang terjerat anak harimau itu, dan oleh pemilik jerat tersebut anak harimau tersebut dibantainya dan dijadikan santapan.
Sejak saat itulah kami empat warga desa ini menanggung akibatnya, selain itu hewan ternak kami sudah banyak yang diterkamnya, Nagogo itu hanya mengambil hati dan bagian dalam hewan ternak yang diterkamnya, sementara bangkai hewan ternak yang diterkam tersebut di seret dan dibuang kedalam jurang yang ada dihutan ini.
Terpisah Arief salah seorang staf KSDA Asahan yang dihubungi melalui selularnya mengatakan laporan masyarakat terkait adanya hewan buas harimau sumatera ( panther tigris sumatrae) yang mengganggu ketentraman warga akibat dampak dari tidak lagi adanya ruang lingkup hewan buas tersebut dan kelangsungan hidup hewan tersebut terusik, hari ini kami bersama tim berangkat ke lokasi untuk memastikan laporan dimaksud, dan mengambil langkah preventif terhadap kelangsungan hidup hewan yang telah dilindungi tersebut, tukasnya.
(Mtc/ben)