Matatelinga.com, Sejumlah tokoh masyarakat batak sepakat untuk mendaftarkan kain ulos ke lembaga dunia UNESCO.
Hal ini berawal
dari prakarsa Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos yang juga menjadi
panitia Hari Ulos tahun 2016, yang berencana mengadakan sejumlah
kegiatan dalam rangkaian peringatan hari ulos yang kedua.
Sejumlah upaya dilakukan panitia yang diketuai Enni Martalena Pasaribu untuk men sukseskan kegiatan tersebut.
Pada acara
diskusi yang dimoderatori Manguji Nababan dan pembicara utama Prof
Robert Sibarani dan Torang MT Sitorus, Enni mengatakan bahwa pada 17
Oktober 2014, Pemerintah telah mengeluarkan ketetapan bahwa Ulos menjadi
warisan tak benda nasional.
Sehingga, pada 17 Oktober 2015 telah digelar peringatan hari ulos pertama di Jalan Sei Galang, Medan.
Untuk itu,
semakin besar kerinduan para warga pecinta ulos, agar kiranya 17 Oktober
menjadi hari nasional dan Ulos juga terdaftar sebagai warisan budaya
dunia di UNESCO.
Dari sejumlah
tokoh yang hadir seperti Dr RE Nainggolan MM, Parlindungan Purba MM yang
juga Ketua Komite II DPD RI, ND Malau, Mangatas Pasaribu, Jadi Pane,
Robinson Nababan, RAY Sinambela, JP Sitanggang, Bukti Hutagalung, Drs
Thompson Hutasoit dan sejumlah tokoh lainnya, menyatakan sepakat untuk
mengusulkan ulos ke UNESCO.
Seperti dikatakan Parlindungan Purba. Dirinya mendukung
agar ulos didaftarkan ke UNESCO. "Saya pernah berbicara dengan Irman
Gusman terkait hal ini. Saya berharap dunia akan mengenal Ulos,"
ungkapnya, Kamis (4/8/2016).
Hal senada
dikatakan tokoh yang aktif memperjuangkan kawasan Danau Toba ke UNESCO,
Dr RE Nainggolan. Dirinya antusias dengan rencana ulos didaftarkan ke
UNESCO.
"Saya meminta
masyarakat batak untuk bersatu. Masyarakat batak punya beragam
perspektif, ini yang barus disatukan terlebih dahulu. Kita harus
menerima pikiran dan mengembangkanya. UNESCO tidak akan menerima ulos
jika kita belum bersatu," ungkapnya.
Sebagai akademisi
dan yang paham budaya Batak serta aktif di lembaga budaya nasional,
prof Robert Sibarani menjelaskan, persiapan daerah harus matang sebelum
melangkah ke tingkat UNESCO. Terutama tentang kesamaan perspektif
tentang ulos ini harus bisa dibentuk.
"Karena dalam
upaya mempertahankan nilai-nilai kebudayaan ada yang akan dicapai, bukan
sekedar melestarikan atau melindungi ulos tapi harus mengembangkan,"
jelasnya.
Dalam diskusi
juga dibahas mengenai langkah- langkah sebelum menggelar seminar yang
telah direncanakan panitia Hari Ulos pada tanggal 24 Agustus 2016
mendatang.
Masukan dan saran
yang muncul di pertemuan tersebut menjadi agenda penting bagi panitia,
untuk melaksanakan seminar yang akan menjadi kajian akademik tentang
pengusulan Ulos ke UNESCO maupun penetapan hari ulos.
(Mtc)