Jumat, 04 September 2026 WIB

Menanam Harapan Kembalinya Pohon Langka di Tengah Kota

Pintor Maruli - Selasa, 09 Desember 2025 16:42 WIB
Menanam Harapan Kembalinya Pohon Langka di Tengah Kota
Pohon langka.

"Pohon langka yang ditanam di ruang terbuka hijau dapat membantu melestarikan spesies pohon yang terancam punah sehingga pohon langka tersebut masih terus ada untuk dinikmati generasi mendatang serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pohon langka yang juga memiliki makna budaya dan sejarah yang penting. Penanaman pohon di area perkotaan terbukti mampu memperbaiki iklim mikro dengan menurunkan suhu hingga beberapa derajat di tengah padatnya bangunan dan aspal," ungkap Thoyibah Pohan fakultas merupakan mahasiswi Pascasarjana Kehutanan USU lewat pesan, Senin, (8/12/2025).

Penanaman pohon langka di Taman Bio‑Trans bertujuan mendidik masyarakat tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan memberi contoh nyata bagaimana ruang kota bisa hijau dan nyaman.

Baca Juga:
Dia menuturkan jika di taman kota, pohon membantu mendinginkan lingkungan dan menciptakan ruang teduh yang nyaman bagi masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan. Menurutnya, pohon yang ditanam di ruang kota membantu menyaring polusi udara dan mengubah CO₂ menjadi oksigen, sehingga membuat kualitas udara lebih baik. Ruang terbuka hijau yang ditanami pohon di perkotaan juga memberikan ruang rekreasi dan jeda sejenak dari aktivitas kota yang padat, membantu kesehatan mental masyarakat [10]. Oleh karena itu, beberapa kota di Indonesia mulai menunjukkan contoh nyata pengelolaan ruang terbuka hijau yang berhasil melibatkan masyarakat secara langsung.

Salah satu contoh nyata yang bisa dijadikan inspirasi dalam menjaga pohon langka adalah pengelolaan Hutan Kota Srengseng di Jakarta, yang mendorong masyarakat terlibat langsung dalam merawat pohon sehingga ruang hijau terasa lebih hidup. Di tempat lain, Hutan Kota Ranggawulung menunjukkan bagaimana keterlibatan komunitas lokal mampu memperkaya jenis pohon dan memperkuat upaya konservasi di ruang kota. Program KTP Pohon yang dikembangkan berkolaborasi dengan BRIN memungkinkan pengunjung mengakses informasi identitas tanaman secara digital dan akurat. Jika dulu papan nama pohon hanya ditulis dengan cat, sekarang KTP Pohon dibuat lebih rapi dengan kode warna yaitu warna merah untuk tanaman yang berasal dari daerah panas atau kering, warna biru untuk jenis tanaman air, dan warna putih untuk tanaman yang tumbuh di tempat lembap.

Penerapan KTP Pohon di Kota Malang juga mempermudah proses pengawasan dan perawatan karena setiap pohon, baik besar maupun kecil, memiliki identitas tersendiri yang tercatat sistematis. Pada KTP Pohon ini ada kode QR yang bisa langsung dibaca petugas Disperkim, sehingga data pohonnya muncul di aplikasi khusus di smartphone untuk memudahkan pengecekan dan perawatan. Pendekatan berbasis partisipasi masyarakat juga dapat diterapkan pada pelestarian pohon langka agar penanaman pohon dapat berlanjut menjadi pemeliharaan jangka panjang yang lebih efektif. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas ini juga membuka ruang bagi sekolah-sekolah untuk ikut terlibat, sehingga kegiatan konservasi bisa terhubung dengan program pendidikan seperti Adiwiyata. Program Sekolah Adiwiyata dari KLHK menjadi contoh bagaimana kegiatan lingkungan dapat berjalan baik ketika siswa dan guru diberi ruang untuk ikut merawat pohon di lingkungan sekolah.
Di Riau, para pelajar SMK Negeri 1 Tualang ikut menanam beberapa pohon langka seperti pohon kulim, meranti bunga, dan meranti batu di kawasan Tahura Sultan Syarif Hasyim sebagai bagian dari peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia, yang digelar serentak di berbagai daerah oleh Forum Pohon Langka Indonesia. Di Malang, sekitar 300 penggiat lingkungan dari berbagai komunitas dan sekolah Adiwiyata juga menanam pohon langka seperti juwet, matoa, dan gayam dalam kegiatan yang diinisiasi Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia di TPA Supit Urang.

"Keterlibatan generasi muda dan masyarakat luas terbukti penting, karena upaya menjaga pohon langka di kota akan lebih kuat jika dilakukan secara kolektif," ungkapnya

Baca Juga:
Untuk menjaga kelestarian pohon langka di kota, langkah pertama adalah melakukan pemetaan dan inventarisasi spesies yang ada di RTH, sehingga kita tahu pohon apa saja yang perlu diprioritaskan untuk ditanam sebab praktik pengelolaan pohon belum dilakukan dengan optimal oleh sebagian besar kota-kota di Indonesia yang ditandai dengan keterbatasan data pohon, baik data kuantitas (jumlah dan lokasi pohon) maupun kualitas (fisik dan kesehatan pohon). Jenis pohon prioritas yang direkomendasikan antara lain ulin (Eusideroxylon zwageri), ramin (Gonystylus sp.), dan merbau (Intsia sp.), yang semuanya masuk kategori terancam punah menurut IUCN, sehingga penanaman dan pemeliharaannya menjadi penting (IUCN Red List). Setelah inventarisasi, dilakukan penanaman bibit pohon langka di RTH secara bertahap dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, sekolah, dan universitas.

"Analoginya seperti menabung "tabungan hijau" kota: setiap pohon yang ditanam adalah investasi untuk masa depan lingkungan. Pemeliharaan rutin seperti penyiraman, pemupukan, dan pemangkasan wajib dilakukan agar pohon langka tumbuh sehat, sama seperti merawat tanaman hias di halaman rumah tapi dalam skala lebih besar dan untuk kepentingan publik. Dengan strategi ini, taman kota tidak hanya menjadi tempat teduh dan hijau, tetapi juga berfungsi sebagai "museum hidup" pohon langka, tempat masyarakat bisa belajar, bersantai, dan merasakan manfaat langsung dari konservasi. Setelah mengetahui solusi dan cara perawatannya, penting juga untuk memahami kondisi kesehatan pohon langka agar intervensi lebih tepat sasaran," kata dia.

Beberapa laporan konservasi menyebut bahwa kondisi pohon langka di beberapa taman kota masih relatif stabil, terutama setelah penanaman ulang seperti di Hutan Kota GBK, di mana ulin (Eusideroxylon zwageri) yang ditanam dilaporkan tumbuh sebagai bagian dari program regenerasi ruang hijau kota. Namun, studi pemantauan kesehatan pohon di RTH di Kabupaten Banggai menunjukkan bahwa meskipun banyak pohon sehat, terdapat berbagai tipe kerusakan pada cabang, daun, dan struktur pohon yang harus diwaspadai. Penilaian kerusakan ini menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM), sehingga kondisi pohon langka di RTH dapat dipantau secara ilmiah dan intervensi perawatan bisa dilakukan lebih tepat waktu. Tantangan lain menurut para praktisi adalah bahwa konservasi pohon langka di kota sering dihadapkan pada keterbatasan anggaran perawatan, terutama untuk spesies yang pertumbuhannya lambat dan membutuhkan pemeliharaan jangka panjang.

Penulis berharap program penanaman dan pemeliharaan pohon langka di kota tidak berhenti sebagai inisiatif satu pihak, melainkan menjadi gerakan bersama antara pemerintah, komunitas, sekolah, dan masyarakat. Dengan partisipasi aktif masyarakat, setiap pohon langka yang tumbuh di ruang kota akan menjadi simbol keberlanjutan lingkungan dan warisan hijau bagi generasi mendatang. Melalui kolaborasi dan edukasi, kita bisa memastikan bahwa taman pohon langka di RTH tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga sebagai laboratorium hidup yang mengajarkan pentingnya konservasi bagi semua masyarakat kota. Semoga inisiatif ini menginspirasi kota lain untuk menanam harapan hijau melalui pohon langka, sehingga setiap ruang publik menjadi warisan ekologis yang dapat dinikmati semua orang.

Baca Juga:

Editor
: Putra
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Ruas Badan Jalan Pidie Jaya–Bireuen, Aceh Kembali Terendam, Karena Banjir Lagi
Menembus Batas : LazisKu Salurkan Bantuan Lewat Jalur Sungai
Kapolsek Perdagangan Hadiri Penanaman Perdana Jagung di Lahan 72,5 H PTPN IV Bandar Betsy
Nyalakan Pohon Terang, Wesly; Momen Refleksi Mendalam Akan Kasih dan Kehadiran Tuhan
Ketua Bhayangkari Cabang Langkat Salurkan Bantuan untuk Pengungsi Banjir di Hinai
Kelangkaan BBM Terkendala Pendistribusian, Rico Waas Imbau Warga Medan Tidak Panik Karena Stok BBM Cukup
 
Komentar
 
Berita Terbaru