Robi mengungkapkan, ketiadaan sosok ayah membuatnya 'dipaksa' oleh keadaan, untuk kuat dan tabah menjalani berbagai persoalan hidup.
"Saya saya jualan es buah, jadi kenek (kondektur) bus Medan - Brastagi sepulang sekolah. Saya jalani semuanya," jelasnya.
Baca Juga:
Robi menjelaskan kehidupan jalanan begitu akrab dengan dirinya. Kendati saat ini, berstatus menjadi legislator dan eksekutif partai, ia selalu senang berdialog dengan wong cilik.
"Bagi saya berbincang itu adalah obat. Memberikan bantuan itu merupakan cara kita bersyukur. Saya kerap sisihkan pendapatan saya, karena tahu di situ ada hak orang lain yang harus kita bantu," tambahnya.
Ketiadaan sosok ayah, tak lantas membuat
Robi berpangku tangan. Ia menyelesaikan sekolahnya dengan lancar dan meniti hidup dengan cara bersyukur.
"Bagi saya rezeki itu tidak akan tertukar. Allah sudah berjanji. Yang penting kita berusaha," ungkapnya.
Baca Juga:
Menurut
Robi sebagai seorang anggota dewan, juga memiliki tanggung jawab moral dengan lingkungan sekitar.
"Kepekaan sosial kita harus terus diasah. Ibu Mega selalu berpesan agar menangis dan tertawa bersama rakyat. Karena rakyat adalah sumber kita, saya pegang teguh ucapan Ibu Mega itu," pungkasnya.(Irwansyah)