"Klien kami dipaksa keluar dari pesawat secara terburu-buru tanpa pemberitahuan resmi dan tanpa menunjukkan surat perintah," ujar Qodirun. "Peristiwa itu terjadi di hadapan seluruh penumpang dan menimbulkan stigma, tekanan, serta rasa malu bagi klien kami," tambahnya
Ia menjelaskan, sesampainya di garbarata, Iskandar kembali dihadang petugas yang membawa surat penangkapan terhadap seseorang bernama Iskandar. Setelah pemeriksaan identitas dilakukan, para petugas akhirnya menyadari bahwa orang yang mereka cari bukanlah kliennya
Baca Juga:
"Meski petugas Avsec sempat meminta maaf secara lisan, kerugian immateriil dan pencemaran nama baik sudah nyata terjadi," tegas Qodirun.
Menurut Qodirun, akibat insiden itu Iskandar mengalami tekanan psikologis, gangguan aktivitas profesional, serta kehilangan reputasi sebagai tokoh publik.
Lebih lanjut, Qodirun menilai bahwa tindakan pemaksaan dan salah identifikasi tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum serta pelanggaran hak asasi manusia. Ia menegaskan bahwa petugas kepolisian, Avsec, maupun kru Garuda semestinya memberikan perlindungan kepada penumpang, bukan justru mempermalukan di ruang publik.
Kami meminta agar pihak-pihak terkait menyampaikan permintaan maaf dan klarifikasi resmi secara terbuka kepada klien kami. Selain itu, harus ada evaluasi dan perbaikan prosedur agar kejadian serupa tidak terulang," ujarnya.
Baca Juga:
Dalam
somasi terbuka itu, kuasa hukum memberi tenggat waktu empat hari sejak tanggal pengumuman untuk menunjukkan itikad baik. Jika tidak dipenuhi, mereka siap membawa kasus ini ke ranah hukum, baik perdata maupun pidana, atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran HAM.
"Somasi ini adalah langkah awal menegakkan hak-hak klien kami secara sah dan proporsional. Kami tidak akan ragu menempuh jalur hukum apabila tidak ada itikad baik dari pihak-pihak yang bertanggung jawab," tutup Qodirun.
Sebelumnya diberitakan, Iskandar ST sempat diamankan sejumlah petugas berpakaian preman di dalam pesawat Garuda Indonesia rute Kualanamu–Soekarno Hatta. Ia diduga menjadi korban salah tangkap karena memiliki nama sama dengan seorang tersangka kasus judi online. Akibat peristiwa itu, penerbangan sempat tertunda dan Iskandar mengaku dipermalukan di depan penumpang lain.
Baca Juga: