Senin, 13 Juli 2026 WIB

Wakil Bupati Toba; Pertemuan Perdamaian Akhirnya Terwujud di Natinggir Simare

Pintor Maruli - Minggu, 10 Agustus 2025 06:00 WIB
Wakil Bupati Toba; Pertemuan Perdamaian Akhirnya Terwujud di Natinggir Simare
Proses mediasi warga.dan PT TPL pasca aksi.bentrok kemarin.

MATATELINGA, Toba : Mengetahui kejadian bentrok antara pekerja TPL dengan warga dusun Natinggir Desa Simare Kecamatan Borbor pada Kamis, (7/8/2025), pemerintah kabupaten Toba beserta Kapolres Toba AKBP. Vinsensius Jimmy Paparaga dan dan Dandim 0210/TU Letkol Ronald Tampubolon mengunjungi desa Simare untuk mendamaikan kedua belah pihak.

Kunjungan dilakukan Sabtu, (9/8/2025) beserta OPD lainnya seperti Kesbangpol, Kasatpol PP, Kadis Kominfo, camat Borbor, Kepala desa Simare dan para asisten lainnya.

Dalam pertemuan yang dihadiri puluhan warga dari kedua belah pihak yang bertikai antara dusun 1,2,3 dan dusun 4 Natinggir, terungkap bahwa ada kesalahpahaman yang mengakibatkan pertikaian dan menimbulkan korban di kedua belah pihak termasuk security TPL yang mendapat luka sayatan senjata tajam di kepala.

Baca Juga:

H

Dalam keterangan kedua pihak yang bertikai, terungkap asal mula kejadian. Menurut keterangan warga dusun Natinggir yang selalu didampingi LSM KSPPM, mereka melarang penanaman eucalyptus di lahan konsesi TPL, karena menurut mereka tanah tersebut adalah tanah Natanggir walaupun sebenarnya lahan tersebut milik pemerintah berstatus Hutan Produksi (HP).

Puluhan orang yang merupakan para pekerja tidak terima mereka diberhentikan bekerja. Kemudian security meminta agar diberikan jalan, namun dipalang sekitar 40 orang warga Natinggir dan akhirnya terjadi bentrok.

Menurut warga Natinggir Romenti Pasaribu, mereka memaksa pekerja berhenti bekerja karena lahan mereka adalah tanah adat.

"Kami tidak pernah berselisih dengan dusun 1,2,3. Ini semua murni karena TPL. Pelarangan kami lakukan karena lahan yang ditanami merupakan tanah adat kami dan sudah ajukan wilayah adat kami. Kami tak mungkin diam saja melihat tanah leluhur kami ditanami TPL," ungkap Romenti Pasaribu.

Baca Juga:

Warga dusun 2, Nelson Hutapea membantah pernyataan Romenti Pasaribu.

Menurutnya, hanya ada 3 keturunan di Natinggir antara lain keturunan Op. Jongguran Simanjuntak, Op. Saur Pasaribu dan Op. Balongguk Pasaribu dan tidak pernah ada masalah dan yang lainnya merupakan pendatang.

Berbagai kekuatiran muncul akibat pertikaian tersebut hingga beritanya menyebar ke berbagai daerah membuat Desa Simare mencekam.

"Mereka-mereka merupakan pendatang yang setelah TPL beroperasi dan kami tidak pernah bertikai karena satu rumpun satu darah. Keterangan mereka tidak transparan mengenai kejadian sebenarnya, karena para korban dari pihak kami tidak disini. Mereka bisa menunjukkan tiga orang pelakunya dan mereka masih dimintai keterangan di Polres," lanjut Nelson Hutapea.

Nasib Hutapea juga menerangkan kejadian yang dialaminya. Nasib merupakan warga dusun 2 dan mengetahui kejadian awal. Awalnya mereka mendatangi Natinggir karena mereka mendengar kabar bahwa Edison Hutapea yang merupakan tokoh masyarakat mendapat pukulan kayu dan lemparan batu, ketika hendak mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai, padahal masih punya hubungan keluarga.

"Saya sendiri kaget dan pergi ke Natinggir untuk bertanya kenapa terjadi pemukulan kepada Edison Hutapea," terang Nasib.

Warga Natinggir malah bertanya kedatangannya berasal dari mana. Nasib kesal dan dia mengatakan kalau situasinya akan ribut jika Natinggir tidak terus terang.

"Rupanya mereka sudah menyiapkan Kampak, parang dan bensin untuk bertikai dengan kami. Dan ada security TPL kena bacok", terang Nasib.

Baca Juga:

Nelson malah sedih mendengar kabar jika mereka dituduh mengancam keamanan mereka dan anak mereka dilarang sekolah padahal tidak benar

"Kalian kenal saya dan kenapa tak bertanya ke saya agar jelas berita yang beredar? Dan tentang spanduk yang kami buat, kami sudah tau sepak terjang mereka (LSM AMAN dan KSPPM), karena mereka sudah sering mengadu domba kita teman sekampung yang masih bersaudara. Dan kami tidak mau kita yang masih satu kampung bertikai karena organisasi yang tak jelas itu," pungkas Nelson Hutapea dan disambut tepuk tangan warga desa.

Kapolres Toba AKBP Vinsensius Jimmy Paparaga mengatakan jika keinginan yang tak terpenuhi dan tak sesuai bisa menimbulkan masalah.

"Komunikasi yang terputus berawal dari persepsi kita yang berbeda hingga muncul masalah. Kita bebas bernyanyi dimalam hari dan tidur dimanapun. Itu kebebasan kita. Yang tidak boleh adalah jika kita menghambat kebebasan orang lain untuk berinteraksi, maka akan muncul masalah," jelas Kapolres Toba AKBP Vinsensius Jimmy Paparaga mencontohkan.

Kapolres berharap agar tidak terjadi Miss komunikasi untuk menghindari masalah.

Terkait masalah yang terjadi dan memakan korban jiwa, Polisi akan terus melakukan proses hukum dan memanggil pihak-pihak yang terlibat.

Dandim O210 TU Letkol Ronald Tampubolon turut prihatin dengan kejadian yang terjadi.

Baca Juga:

"Masih syukur tidak ada korban meninggal dunia. Dan kita kesini mendamaikan kedua belah pihak agar kembali rukun," ungkap Dandim 0210 Letkol Ronald Tampubolon.

Akhirnya kedua belah pihak saling bersalaman dan berfoto bersama dengan wakil bupati Toba Audi Murphy O Sitorus, Kapolres Toba AKBP Vinsensius Jimmy Paparaga dan Dandim 0210/TU Letkol Ronald Tampubolon beserta Camat Borbor James Pasaribu dan Kepala desa Firman Hutapea sebagai bentuk perdamaian.

Pertemuan perdamaian akhirnya selesai dan membawa kelegaan kedua belah pihak dan keamanan semakin kondusif dan terjaga.

Baca Juga:
Editor
: Putra
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Pria Pedesaan Pennsylvania Menembak Mati Tetangganya dan Melukai Polisi
APDESI Percut Sei Tuan Rayakan Ulang Tahun Ke-4 Forwakum Sumut Secara Kejutan
Kejari Sergai dan Kodim 0204/DS Sepakat Untuk Bersinergi Menjaga dan Memajukan Serdang Bedagai
Cerita Duka Pekerja Harian Lepas Korban Amukan Masyarakat Dusun Empat Na Tinggir
Masyarakat Menilai Kericuhan di Desa Simare Akibat Provokasi LSM
Bentrok Warga Vs PT Toba Pulp Lestari,  Satpam Dibacok
 
Komentar
 
Berita Terbaru