Jumat, 14 Agustus 2026 WIB

Kenapa Nelayan Melaut 26 Desember Dapat Sanksi....?

Admin - Jumat, 25 Desember 2015 16:29 WIB
Kenapa Nelayan Melaut 26 Desember Dapat Sanksi....?
google

Matatelinga.com,  Dalam hukum adat laut Aceh ada beberapa hari pantang melaut, yakni setiap Jumat, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha (masing-masing tiga hari), setiap Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus, hari tsunami 26 Desember dan hari yang bertepatan dengan khanduri laot (ritual kenduri laut).

Nelayan seluruh Aceh berhenti melaut selama dua hari, untuk mengenang 11 tahun bencana tsunami yang merenggut lebih 200 ribu jiwa. Mereka menghentikan aktivitas melaut sejak tadi malam.

Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftah Cut Adek mengatakan, 26 Desember sudah diputuskan sebagai hari pantang melaut di Aceh, karena tanggal itu bertepatan dengan terjadinya tsunami Aceh tahun 2004.

“Karena hari ini bertepatan dengan hari Jumat, jadi nelayan mulai tadi malam sudah tidak melaut sampai besok 26 Desember yang merupakan hari tsunami,” ujar Miftah dilansir Okezone, Jumat (25/12/2015).

Karena tidak melaut, nelayan menyandarkan boat-boat mereka di dermaga perikanan, seperti terlihat di Pelabuhan Perikanan Lampulo, Banda Aceh. Ratusan kapal ikan parkir di sepanjang Krueng (sungai) Aceh kawasan itu.

Menurutnya, imbauan larangan melaut besok sudah diputuskan dalam rapat Panglima Laot (pemimpin lembaga adat laut) seluruh Aceh, dan telah disampaikan kepada nelayan seluruh daerah.

“Nelayan baru diperbolehkan kembali melaut hari Sabtu sore nanti mulai pukul 18.00 WIB,” ujar Miftah.

Jika ada nelayan yang melanggar ketentuan ini, kata dia, akan dikenakan hukum adat laut yakni boat atau kapalnya ditahan paling sedikit tiga hari atau maksimal tujuh hari. Sementara hasil tangkapannya disita Lembaga Panglima Laot. "Ini sudah ketentuan hukum adat," sebutnya.

Untuk mengisi hari pantang melaut ini, Panglima Laot mengimbau, nelayan untuk menggelar doa bersama baik secara komunitas maupun bergabung dengan masyarakat.

“Kita anjurkan nelayan-nelayan untuk berdoa kepada syuhada-syuhada korban tsunami yang sudah mendahului kita 11 tahun yang lalu. Karena waktu tsunami dulu sebagian besar korbannya adalah keluarga nelayan,” sebutnya.

 

 

 

(Mtc)

SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru