Kamis, 07 Mei 2026 WIB

Perjalanan Zulqarnain hingga ke Siberia

Redaksi - Jumat, 13 Desember 2019 08:00 WIB
Perjalanan Zulqarnain hingga ke Siberia
Hand Over
MATATELINGA,Jakarta: Ilmu pengetahuan modern berupaya mencari tahu rute perjalanan Zulqarnain yang termasyhur. Didalam Alquran dengan menggambarkan kisah perjalanan Zulqarnain secara detil. 

Allah berfirman,


“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Dia pun menempuh suatu jalan, hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam lautan yang berlumpur hitam dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata ‘Hai Zulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Zulqarnain menjawab, ‘Orang yang aniaya kelak kami akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada tara. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.’ Dia lalu menempuh jalan (yang lain) hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya. Dia lalu menempuh suatu jalan (yang lain bagi) hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua buah bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, ‘Hai Zulqarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu supaya kamu membuat dinding di antara kami Kami dan mereka?’ Zulqarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.’ Apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulqarnain, ‘Tiuplah (api itu)’, hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.’ Mereka pun tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Zulqarnain berkata. ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku. Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (QS Al-Kahfi: 83-98).

Dalam sebuah seminar internasional tentang kemukjizatan Alquran tahun 2004 di Dubai, dua orang pakar, Prof. Asma Al-Farraj Al-Kutubi dan Prof. Sarah Al-Khuri mengemukakan uraian kajian ilmiah yang mempelopori upaya penelitian dengan diawali oleh pendalaman terhadap ayat-ayat Alquran.

Sementara kajian-kajian lainnya terhadap aspek kemukjizatan ilmiah Alquran umumnya diawali terlebih dulu oleh analisis ilmiah, lalu mencari relevansinya pada ayat-ayat Alquran yang sejalan dengan prinsip-prinsip ilmiah.

Sesungguhnya kajian ini memerlukan banyak riset ilmiah lintas disiplin ilmu secara paralel, seperti geologi, geografi, metalurgi, arsitektur, arkeologi, historiologi, antropologi, linguistik, dan sebagainya.

Sesungguhnya, kajian ini juga meyakini bahwa Zulqarnain, seperti disebutkan dalam Alquran, memulai perjalannya dari barat atau 'dunia baru' yaitu Amerika Utara dan Selatan, menuju ke Timur atau 'dunia klasik' yaitu Asia, Afrika, dan Eropa.

Sebuah studi menguatkan asumsi bahwa perjalanan Zulqarnain dilakukan lewat darat melalui Selat Bering yang memisahkan antara barat laut Amerika utara dan timur laut Asia. Selat itu mengering sehingga bisa dilewati. Itu terjadi pada zaman es karena tinggi permukaan laut menjadi rendah dan membeku.

Studi tersebut juga meyakini bahwa Zulqarnain tiba di Siberia karena daerah itu, meski dekat Kutub Utara selalu mendapat sinar matahari sepanjang tahun, seperti yang diungkapkan dalam Alquran “... hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” Itu berarti tidak ada penghalang antara matahari dan mereka. Dan diketahui pula bahwa matahari selalu bersinar selama dua bulan penuh selama musim panas di daerah ini.

Diyakini pula bahwa Zulqarnain bertemu dengan Eksimo yang tinggal di Siberia, karena dia belum bertemu suatu kaum pun selama perjalannya. Hal itu benar, sebab Siberia memang tidak dihuni oleh siapapun kecuali suku Eksimo.

Hal lain yang diyakini oleh studi ini adalah perjalanan Zulqarnain yang mencapai pegunungan Kaukasus di Rusia sekarang, dan di sana dia menjumpai suatu kaum yang tinggal di utara pegunungan tersebut. Mereka digambarkan tinggal di antara dua bukit besar dan sesungguhnya Yakjuj-Makjuj menginvasi kaum itu dari arah selatan.

Lazimnya, kaum yang memiliki peradaban lebih kaya dan kekuatan militer lebih baik akan menginvasi kaum yang lebih miskin peradabannya dan lemah dan kekuatan militernya. Itu berarti kaum Yakjuj-Makjuj terhitung sebagai bangsa yang lebih berperadaban daripada kaum yang tinggal di antara dua bukit besar tersebut.

Oleh karena itu, kaum yang tertindas ini meminta pertolongan kepada Zulqarnain untuk membuatkan benteng pelindung.

Yakjuj-Makjuj sesungguhnya bukanlah bangsa jin tapi manusia. Hal itu dijelaskan dalam beberapa kitab tafsir Alquran, antara lain Tafsir Ibnu Katsir. Namun, bangsa itu dikenal gemar berperang karena memang mereka memiliki kekuatan militer yang luar biasa dan peradaban yang maju bila dibandingkan dengan bangsa penghuni lembah dua bukit besar.

Peradaban bangsa Yakjuj-Makjuj ada kaitannya dengan peradaban yang berkembang di selatan Kaukasus. Yang membuat peradaban mereka kuat adalah bahwa semua peradaban pasca-Romawi relatif berkembang secara terbatas di kawasan selatan perbukitan Kaukasus dan tidak menyebar ke kawasan lain.

Studi ini meyakini pula bahwa runtuhan dinding Zulqarnain itulah yang sekarang ini dikenal dengan Benteng Derbent yang ada di perbukitan Kaukasus atas dasar argumen-argumen berikut:

1. Bentuk benteng serupa dengan Benteng Derbent.


2. Posisi benteng terletak pada rute perjalanan Zulqarnain, yaitu perbukitan Kaukasus.

3. Kawasan utara perbukitan Kaukasus belum terjamah oleh penaklukan pada sejarah masa lalunya, karena semua penaklukan besar dalam sejarah "seperti penaklukan Alexander yang agung dan penaklukan Islam "belum menjangkau perbukitan Kaukasus, seakan kawasan itu belum pernah mengalami pertempuran dengan dunia luar.

4. Adanya lautan berlumpur hitam di barat 'dunia baru' dan itu tidak ada barat 'dunia lama'. “... hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam lautan yang berlumpur hitam dan dia mendapati di situ segolongan umat...” Sesungguhnya, laut berlumpur hitam itu dikenal juga dengan sumur energi panas yang biasa ditemukan di daerah gunung berapi sebelah barat Amerika Utara, Amerika selatan, Selandia Baru, dan Islandia.

5. Dinding benteng yang digambarkan oleh Zulqarnain terdiri atas besi atau bebatuan yang mengandung kadar besi tinggi seperti uraian Alquran “potongan-potongan besi”. Hal itu sepenuhnya selaras dengan banyaknya kandungan unsur besi dalam jumlah besar di perbukitan Kaukasus.

6. Studi ini meyakini bahwa ketika Zulqarnain meminta tembaga dari kaum setempat, maksudnya adalah meminta cairan aspal dan bukan tembaga, karena tembaga mencegah besi menjadi karat oleh sebab-sebab berikut:

a. Kandungan tembaga tidak ditemukan di perbukitan Kaukasus, dan

b. Tembaga membutuhkan panas yang ekstrim untuk melelehkannya, lalu dituangkan ke atas besi. Sementara cairan aspal tidak butuh api untuk melelehkannya, tapi sebaliknya ia takkan beku pada suhu normal.

7. Dapat dipahami bahwa Zulqarnain memotong batu yang mengandung unsur besi lalu menyalakan api untuk melelehkannya. Dia lalu menambahkannya cairan aspal hitam ke dalam besi cair itu. Kalau saja dia mencampurkan aspal hitam dengan besi dalam keadaan api menyala, pastilah campuran itu akan terbakar. Komposisi cairan aspal dengan cairan besi menjadikannya campuran yang kuat. Itulah prinsip yang dipakai hari ini dalam proses pembuatan besi dan baja.

Adapun puncak dua bukit itu terlebih dahulu dihancurkan oleh Zulqarnain sebelum diperkuat dengan dinding besi tadi, sampai kedua permukaan bukit itu sama tingginya seperti yang diungkapkan dalam ayat, ”Apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu ...” atau gunung yang berjauhan itu.

Sesungguhnya, dinding besi yang dibuat Zulqarnain mengisi celah antara dua gunung agar kedua puncaknya menjadi sama tinggi dan tinggi dindingnya pun sama.


Dia juga meminta kaum penghuni tempat itu agar menyalakan api untuk melelehkan besi yang terkandung dalam bebatuan sampai menyala.

Api itu lalu dituangkan ke cairan aspal hitam dan memperkukuh benteng itu karena ketinggiannya yang menjulang. Kekukuhan dinding baja itu pun tak bisa ditembus oleh mereka.

Demikian kisah ini dikutip dari Buku Pintar Sains dalam Al-Quran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah, Dr. Nadiah Thayyarah.
Editor
:
Sumber
: Okz
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru