Matatelinga - Jakarta, ada yang lebih menyenangkan saat makan seafood bisa menggunakan
tangan dengan bebasnya, juga tanpa dibatasi ukuran piring. Pengalaman
tersebut dapat Anda rasakan di restoran Holy Crab.
Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika melihat berbagai pesanan seafood tersaji
di atas meja tanpa piring? Inilah yang dilakukan restoran Holy Crab
saat menyuguhkan pesanan para tamunya. Hidangan yang dipesan diletakkan
begitu saja di atas meja, lalu Anda bisa bebas makan tanpa keharusan
menyingkirkan piring, sendok, dan garpu saat memisahkan bagian seafood yang tidak dimakan.
Memang diletakkan di atas meja, namun ada kertas khusus seukuran meja yang Anda pilih untuk mengalasinya. sumber sempat
menyambanginya, sebelum restoran ini dibuka untuk umum mulai hari ini,
Senin, 3 Februari 2014. Kami memilih meja berisi empat kursi. Tak lama,
seorang pelayan datang menyelimuti meja kami dengan kertas putih besar
yang food safety alias aman untuk makanan.
Tak lama,
hidangan yang kami inginkan datang, yang dibawa menggunakan plastik
makanan transparan oleh pelayan. Dia kemudian meletakannya di atas meja
seraya memberikan sea sheller, alat untuk membuka cangkang
kepiting. Sebelum bicara lebih jauh tentang menu lezatnya, sang pemilik
sekaligus Executive Chef restoran Holy Crab, Albert Wijaya menemani kami
sambil menjelaskan konsep unik cara para tamu makan di restoran
besutannya.
“Saya terinspirasi dari Lousiana seafood style, makanan dihidangkan langsung di atas meja, enggak pakai piring,” katanya kepada sumber saat ditemui di restonya yang beralamat di Gunawarman No.55 Jakarta Selatan, baru-baru ini.
“Saya sempat sekolah di Amerika, makan di resto lousiana style seperti ini. Saya rasa, ini belum ada di Indonesia, makanya kemudian saya bawa supaya masyarakat bisa mencicipi,” tambahnya.
Dengan
gaya tersebut, Albert membawa cara makan tidak biasa kepada para tamu.
Dengan inspirasi gaya tersebut juga, olahan kepiting dieksplorasi lebih
dalam dan siap menjadi kepuasan tersendiri bagi para penikmat seafood. Menurut Albert, penduduk Lousiana sering mengonsumsi menu berbahan kepiting karena memang menjadi salah satu kota penghasilnya.
Bicara
soal menu, pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah kuliner AS
ini mengatakan bahwa olahan kepiting ala Lousiana lebih banyak
menggunakan mentega dan bawang putih sebagai kekuatan rasanya. Namun,
dia meraciknya lagi dengan bumbu khusus demi menyesuaikan lidah
masyarakat Indonesia kebanyakan.
“Untuk ini, saya buat lebih pedas, juga campuran rempah-rempahnya lebih banyak, lebih dari 15 jenis,” ungkapnya.
Dungeness crab, misalnya,
yang menjadi menu andalan Holy Crab. Kepitingnya biasa hidup di
perairan yang dingin dan memiliki cangkang lebih tipis dibandingkan
kepiting lokal, ini hanya diolah dengan direbus sebentar lalu dimasak
dengan saus spesial racikannya. “Karena basicly kita pakai seafood bagus,
tanpa banyak bumbu sebenarnya kepiting ini mengeluarkan citarasa
sendiri. Dan ternyata jadi lebih nikmat kalau diberi bumbu lebih
banyak,” ujarnya.
Albert mendatangkan kepiting langsung dari Amerika Serikat, Kanada, dan Alaska demi menjaga kualitas hidangan. “Seafood lokal juga banyak yang berkualitas, tapi kita lebih mempertimbangkan penangkaran seafood yang tidak merusak lingkungan, juga dijamin segar,” jelasnya
Menu yang sempat kami cicipi adalah snow crab dan shrimp. Keduanya
digabungkan bersama potongan jagung manis rebus dan sosis dengan saus
yang melimpah dan terlihat menggoda. Kami segera merobek plastik
pembungkusnya.
Bawang putih cincang segera bisa kami temukan pada
saus sebagai bumbu yang mendominasinya, juga lelehan mentega yang
membuat saus ini terasa kian gurih. Lainnya terasa banyak rempah berpadu
apik di lidah. Dengan level pedas medium, bagi kami cukup untuk bumbu
lainnya bisa ditelusuri dengan lidah. Bila ingin lebih pedas, tersedia
pilihan level mild hingga holy moly alias superpedas. Disediakan pula pelengkap berupa saus cabai, saus tomat, lada bubuk, dan garam halus.
Albert membantu kami untuk membuka cangkang kepiting yang ternyata tidak keras ini. “Selagi makan, bagian seafood yang tidak termakan bisa diletakkan di samping tangan seraya asyik memilih seafood lain di plastik,” tuturnya.
Menu-menu lain yang ditawarkan, seperti king crab legs sebagai menu termahal di Holy Crab, snow crab legs, dan lobster yang seasonal price atau berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Juga ada blue crab, mud crab, shrimp, dan clams yang ditawarkan mulai Rp20 ribu-45 ribu per 100 gram. Untuk pilihan menu camilan, ada crispy
fish fingers, crispy chicken strips, deep fried calamari, deep fried
chicken wings, onion rings, sausage, sweet corn, cajun fries, sweet
potato fries, dan steamed rice mulai harga Rp15 ribu sampai Rp60 ribu per porsi.
“Untuk minuman, normal saja karena lebih spesifik pada crab. Hanya mineral water, soft drink, hot tea, dan bir. Kami punya suguhan spesial, yaitu frosted beer, di mana bir yang disimpan pada suhu tertentu sehingga menjadi semi beku ketika dihidangkan kepada para tamu,” tambahnya.
Restoran Holy Crab berdaya tampung sekitar 130 orang, terbagi menjadi dua lantai dan semuanya non-smoking area. Tersedia pula dua semi private room; dengan kapasitas 10 orang dan 30 orang. Albert menjamin kenyamanan para tamu lewat interior ruangan yang dibuat cozy. Ornamen
yang menjadi pengisinya siap membawa Anda bak berada di tempat
pelelangan ikan, tentu tanpa bau amis. Materialnya berupa bata, seng,
juga kayu yang terkesan tidak kaku.
“Fasilitas WiFi akan kami
sediakan, tetapi kami tidak sarankan. Karena makannya akan berantakan
dan supaya tamu bisa lebih menikmati makan,” ujarnya.
Yang lebih menarik, Anda bisa meminjam tongsis alias tongkat narsis di meja kasir saat ingin berfoto bersama teman makan. So, Anda
tidak perlu ribet memikirkan sudut tepat untuk menempatkan kamera
ponsel. Momen ini tidak boleh dilewatkan, apalagi di Holy Crab, yang
menawarkan pengalaman makan tidak biasa. Sebenarnya, bila tidak ingin
memakai tongsis, Anda juga bisa meminta bantuan pelayan.
“Pelayan sudah kami training supaya bisa mengambil foto dengan cara dan sudut yang baik,” pungkasnya.
Holy Crab buka mulai pukul 17.00-22.00 WIB setiap Senin hingga Jumat dan pukul 12.00-22.00 pada Sabtu dan Minggu.
(Okc/KNIA)