Matatelinga.com, Wanita dengan masalah
hipertensi kronis dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan malformasi jantung,
para ahli mengatakan pada kesempatan Hari Hipertensi Sedunia. Untuk itu, mereka
menyerukan upaya bersama untuk menyebarkan kesadaran tentang mengontrol
hipertensi.
Hipertensi
merupakan masalah kesehatan umum yang dihadapi selama kehamilan. Tiga dari
setiap 100 kehamilan, menghadapi komplikasi akibat kondisi tersebut. Gangguan
hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas baik pada
ibu maupun janin.
"Seorang
wanita dikatakan menderita hipertensi kronis ketika tekanan darahnya melebihi
140/90 mmHg sebelum kehamilan atau pada usia kehamilan 20 minggu. Anak-anak
yang lahir dari wanita hipertensi dapat meningkatkan risiko cacat bawaan hingga
50 persen," menurut Dr Manoj Kumar, seperti dikutip dari Zeenews
dan dilansir laman okezone.com, Senin (18/5/2015).
Wanita yang
menderita hipertensi kronis dapat meningkatkan risiko preeklamsia 20 sampai 25
persen. Kondisi yang ditandai oleh tekanan darah tinggi konstan dan adanya
protein dalam urin, adalah penyebab kematian terbanyak setelah pendarahan.
Untuk itu, wanita hamil perlu mengontrol tekanan darah untuk menghindari
komplikasi kehamilan.
"Wanita
yang menderita hipertensi perlu menjalani diet sehat dengan perbanyak
buah-buahan dan sayuran segar. Yang terpenting, kurangi asupan makanan olahan
dan dikemas yang kaya sodium dan lemak trans, yang juga rendah kalium dan
kalsium, sehingga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah,” jelas Dr Kumar.
Meminimalisir
penggunaan garam ke dalam bahan makanan atau bumbu jadi yang tidak jelas kadar
garamnya, merupakan satu cara pencegahan. Selain itu, mengontrol stres melalui
latihan meditasi dan teknik relaksasi lainnya juga bisa menjadi solusi.
Wanita hamil
dengan hipertensi kronis juga harus rajin melakukan pemeriksaan janin selama
mengandung, begitu juga setelah melahirkan, untuk mencegah cacat bawaan pada
anak mereka. "Antisipasi tepat waktu dan mendeteksi penyakit “pembunuh
diam” ini dapat mengurangi angka kematian dan morbiditas," sarannya.
(Fit)