Modalitas energi ini membantu menargetkan jaringan jantung abnormal yang bertanggung jawab atas fibrilasi atrium, sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap struktur jantung di sekitarnya. Selain itu, teknologi ini memungkinkan dokter menyesuaikan pilihan energi sesuai dengan kebutuhan klinis dan anatomi spesifik setiap pasien.
Kemampuan penggunaan dua jenis energi ini memberikan fleksibilitas dalam prosedur serta mendukung strategi terapi yang lebih presisi dan terpersonalisasi.
Fibrilasi atrium (AFib), gangguan irama jantung yang paling umum di dunia, memengaruhi lebih dari 60 juta orang secara global. Kondisi ini terjadi ketika ruang atas jantung (atrium) berdetak secara tidak teratur, sehingga mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah secara efisien. Jika tidak ditangani, AFib meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, serta rawat inap berulang, yang secara signifikan dapat memengaruhi kualitas hidup pasien.
Seiring dengan terus meningkatnya kasus fibrilasi atrium (AFib), kebutuhan akan solusi pengobatan yang lebih canggih dan efektif menjadi semakin penting.
Kemajuan ini memungkinkan kami untuk menawarkan kepada pasien pendekatan pengobatan yang lebih presisi, didukung oleh data keamanan klinis yang kuat. Yang lebih penting, hal ini memastikan pasien dengan kondisi gangguan irama jantung yang kompleks memiliki akses terhadap pilihan terapi yang lebih aman dan lebih canggih di dalam negeri, tanpa perlu mencari perawatan ke luar negeri," tambahnya.
Dari perspektif klinis, diperkenalkannya platform Prism-2 yang terintegrasi semakin memperkuat kemampuan IJN dalam menangani kasus aritmia yang kompleks.
Sementara itu Datuk Dr. Azlan Hussin, Konsultan Kardiologi Senior dan Direktur Klinis Elektrofisiologi Intervensi & Perangkat Implan di IJN, mengatakan bahwa fibrilasi atrium tetap menjadi kondisi yang progresif dan menantang.
"Fibrilasi atrium sering kali menjadi lebih sulit untuk ditangani seiring dengan progresivitas penyakitnya. Integrasi perangkat lunak pemetaan canggih dengan teknologi ablasi energi ganda memungkinkan kami untuk mempersonalisasi terapi bagi setiap pasien secara lebih efektif.