MATATELINGA, Jakarta: Pemerintah Malaysia tidak akan lagi memberi dukungan kepada Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi terkait penanganannya terhadap krisis yang menimpa etnis Rohingya di Provinsi Rakhine. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad mengatakan, Suu Kyi telah berubah dan dia tidak lagi percaya kepada pemenang Nobel Perdamaian itu.
"Dia tidak mau mengatakan apa pun terhadap tindakan yang diambil oleh militer Myanmar terhadap Rohingya. Jadi, kami membuat hal itu cukup jelas, bahwa kami tidak benar-benar mendukungnya lagi," kata Mahathir dalam wawancara dengan televisi Turki TRT World di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Jumat sebagaimana dilansir The Star, Senin (1/10/2018).
|
Mahathir mengatakan bahwa ketika Suu Kyi berada di bawah tahanan rumah, Malaysia berkampanye untuk membebaskannya. Namun, ketika dia menulis surat kepada Suu Kyi, dia tidak menerima balasan dan merasa "sangat kecewa".
"Kami telah mengeluh kepada dunia tentang perlakuan Myanmar terhadap Rohingya. Bahkan, kami sendiri telah menerima cukup banyak warga Rohingya di negara kami," katanya.
Dalam pidatonya di PBB pada Jumat lalu, Mahathir kembali mengangkat penderitaan yang dialami Rohingya yang terpaksa melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh. Dia juga mengkritik pihak berwenang di Myanmar dan Suu Kyi yang telah menyangkal terjadinya kekerasan terhadap etnis minoritas Muslim itu.
Suu Kyi telah mendapat banyak sorotan terkait sikapnya dalam mengangani isu kekerasan terhadap Rohingya di Provinsi Rakhine. Seruan untuk mencabut penghargaan Nobel Perdamaiannya telah bermunculan, bahkan beberapa penghargaan lain yang pernah diterimanya, termasuk gelar warga negara kehormatan Kanada telah ditarik.