MATATELINGA : Pertumbuhan ekonomi digital telah mengubah tatanan bisnis, pemerintah dan masyarakat, di mana kini berbagai layanan, pekerjaan, kegiatan sosial dan pendidikan tersedia secara online. Ekonomi digital memiliki kontribusi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi, memfasilitasi perdagangan, menciptakan lapangan kerja baru dan peluang bisnis yang menjanjikan.
Oleh : James P. Pardede
Di zaman ini, siapapun yang tidak cepat tanggap mengadopsi teknologi perlahan akan tertinggal dengan teknologi yang lebih baru dan maju. Secara masif, hal ini tentu saja berpengaruh pada perilaku berbisnis dan kondisi ekonomi global, sehingga lahirlah ekonomi digital.
Ekonomi digital adalah aspek ekonomi yang berbasiskan pada pemanfaatan dan pemberdayaan teknologi informasi dan komunikasi digital. Di Asia Tenggara, ekonomi digital sedang berkembang pesat seiring dengan besarnya potensi pasar. Ada lima teknologi yang paling potensial memicu pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara, kelima hal tersebut yaitu mobile internet, big data, internet of things, automation of knowledge, dan cloud technology.
Berada di Asia Tenggara, Indonesia sendiri merupakan pasar yang potensial bagi ekonomi digital. Besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia dibuktikan melalui nilai USD 27 miliar pada tahun 2018. Angka ini membuat Google optimistis bahwa 10 tahun lagi ekonomi digital Indonesia akan mencapai nilai USD 100 miliar. Tak ayal, faktor yang dapat mendukung perkembangan tersebut adalah pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia.
Perkembangan ekonomi digital sendiri berbanding lurus dengan penggunaan internet di Indonesia. Salah satu bukti dari hal ini adalah menjamurnya berbagai usaha start up, bahkan kini 4 di antaranya sudah bergelar Unicorn. Diharapkan, ekonomi digital di Indonesia juga dapat diaplikasikan ke sektor-sektor industri lainnya.
Peserta Pelatihan Mitra Santri Nusantara
Semakin memasyarakatnya penggunaan ponsel dan internet sampai ke pelosok desa membuat bisnis berbasis online semakin bertumbuh dengan cepat, di mana penjualan bisnis online meningkat 40 persen setiap tahunnya.
Berbagai perkembangan ini menawarkan peluang untuk mendorong pengembangan ekonomi digital lokal dan regional sebagai cara untuk mendukung pertumbuhan dan pembangunan regional. Di wilayah-wilayah di mana akses fisik ke pasar menjadi kendala signifikan, teknologi digital dapat membantu mengatasi sebagian kendala jarak dan infrastruktur ini.
Akan tetapi, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan ekonomi digitalnya, antara lain: regulasi yang memberatkan; persebaran infrastruktur dan sumber daya manusia yang tidak merata untuk mendukung ekonomi digital; kesenjangan dalam ketersediaan dan kapasitas untuk memanfaatkan TIK; dan kurangnya kerja sama antar pemangku kepentingan dan kebijakan terkoordinasi untuk mendorong ekonomi digital.
Tantangan dan Peluang
Menyikapi tantangan dan hambatan yang dihadapi pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju pesat, Ketua Presidium Nasional Mitra Santri Nusantara, KH Akhmad Khambali menggagas terbentuknya Gerakan 1000 StartUp Milenial Santri dengan Program Insan Preneur yaitu Indonesia Santri Enterpreneurships.
Menurut Akhmad Khambali, gerakan ini bertujuan agar setiap santri dan mahasiswa memiliki kemandirian usaha dengan bekerjasama multi stake holder.
Beberapa waktu lalu, Mitra Santri Nusantara telah menggelar seminar ekonomi yang membahas masalah keumatan sesuai tantangan zaman. Di antaranya adalah pemberdayaan ekonomi umat untuk menghadapi kapitalisme global melalui pemberdayaan ekonomi pondok pesantren, moderasi Islam dan peran ulama dalam menjaga keutuhan NKRI.
Ketua Presidium Nasional Mitra Santri Nusantara, KH Akhmad Khambali
Kehadiran Mitra Santri Nusantara dalam mendukung perkembangan ekonomi digital hanya sebagai mediator atau penghubung antara pengusaha dengan pemilik dana atau pemilik modal yang bisa bermitra dalam pengembangan usahanya.
Jika berbicara tentang kendala yang dihadapi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada saat ini adalah dimulai dari masalah sulitnya mendapatkan modal usaha. Bukan hanya untuk memulai, untuk pengembangan usaha juga pelaku UMKM mengalami kendala dalam mendapatkan suntikan modal.
"Untuk masalah permodalan, saat ini pelaku usaha kecil sangat berat dalam mencari modal, apalagi kalau datang ke Bank, persyaratannya sangat berat. Antara lain harus ada jaminan, pinjam sama rentenir bunga berbunga, sehingga sangat berat," kata Akhmad Khambali.
Kendala kedua masalah market, lanjut Khambali, terkadang Pemerintah menggalakan pengembangan UMKM, namun tidak pernah di pikirkan untuk marketnya, sehingga banyak UMKM yang akhirnya gulung tikar.
Persoalan ketiga adalah regulasi Pemerintah yang kadang hanya terkesan pencitraan, faktanya dilapangan saat pelaku usaha mengurus perizinan dan yang lainnya kadang prosedurnya sangat panjang dan perlu 'biaya' ini itu.
Keempat adalah kurang adanya pembinaan yang berfocus pada skill, jadi pelatihan yang dilakukan kadang hanya sebatas pemenuhan target saja, bukan sebuah peningkatan skill yang sesungguhnya.
"Itu sebabnya, pelaku UMKM perlu Mitra Usaha yang sesuai agar para pelaku usaha kecil ini bisa berkembang dan bisa memiliki Market yang jelas. Salah satu Mitra strategis yang biasa mengadakan pelatihan-pelatihan wirausaha adalah Mitra Santri Nusantara," tandas Akhmad Khambali yang sudah keliling Nusantara memberikan pembekalan kepada pelaku usaha.
Intinya, kata Khambali kendala usaha kecil harus diminamilir dan diberikan solusinya. Seperti dalam dalam mendapatkan modal usaha, ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, promosi dan pemasaran, dukungan teknologi modern, administrasi dan pengelolaan keuangan, belum adanya jaringan kemitraan dan kurang respect terhadap koperasi.
"Persoalan-persoalan di atas kita pecahkan lewat pelatihan-pelatihan yang digelar sampai ke seluruh pelosok nusantara," tandasnya.
Upaya-upaya yang sudah dilakukan Mitra Santri Nusantara adalah melakukan pelatihan sesuai muatan lokal daerah yang melaksanakan pelatihan, membuat aplikasi Starup Online agar pelaku usaha khususnya UMKM memiliki market dari hulu sampai hilir serta pendampingan usaha bagi pelaku usaha yang baru saja memulai usahanya.
'Kita selalu menanamkan sikap optimis kepada pelaku usaha agar memanfaatkan tantangan yang ada menjadi peluang yang menjanjikan di masa depan," katanya.
Akhmad Khambali menambahkan, beberapa jenis usaha yang sudah mendapat pelatihan dan pendampingan dari Mitra Santri Nusantara adalah pengolahan kripik pisang, kebab, bisnis online, es krim, kios sembako, home industri sarung batik, empek-empek khas Santri Magelang, Es Kang Santri, pembibitan alpokat dan barista.