MATATELINGA, Tebing Tinggi: Terkait dengan luapan Sungai Bahilang dan Sungai Padang menggenangi di 5 kecamatan di Kota Tebing Tinggi. Berarti, seluruh kecamatan di kota yang dikenal sebagai Kota Lemang itu terendam. Saat ini, Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tebing Tinggi sedang mendata warga yang terdampak.
Kepala BPBD Tebing Tinggi, Wahid sitorus Senin siang tadi (16/12/2019) mengatakan, hingga pukul 14.00 wib, pihaknya menerima laporan dari kelurahan bahwa yang terdampak banjir hanya di 4 kecamatan yakni di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Bajenis, Padang Hulu, dan Rambutan.
Namun, dia juga baru menerima laporan dari lapangan bahwa banjir juga terjadi di Kecamatan Padang Hilir di dua kelurahan. Dia tidak merinci kelurahan mana saja yang terdampak. Menurutnya, saat ini anggotanya sedang berada di lapangan melakukan pendataan.
"Seperti dari Padang Hilir, baru-baru ini juga terdampak. Banjir juga sebanyak 2 kelurahan," katanya.
Dijelaskannya, dari lima kecamatan tersebut, Tebing Tinggi Kota adalah yang paling luas terdampak. Pantauan di lapangan, kecamatan ini menjadi pusat dari Kota Tebing Tinggi dengan adanya pusat perekonomian dan dan pemerintahan. Kantor Polres Tebing Tinggi dan DPRD Kota Tebing Tinggi berada di kecamatan ini.
Catatan BPBD Tebing Tinggi, di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, banjir terjadi di 6 kelurahan, 9 lingkungan, 1.448 kepala keluarga dan 7.240 jiwa. Kecamatan Padang HUlu, banjir terjadi di 1 kelurahan, 6 lingkungan, 570 KK, dan 2.850 jiwa. Kecamatan Bajenis banjir terjadi di 1 kelurahan, 3 lingkungan, 245 KK dan 988 jiwa.
Sedangkan Kecamatan Rambutan, banjir terjadi di 5 kelurahan, 14 lingkungan, 87 KK dan 283 jiwa. "Di Padang Hilir, anggota kita masih melakukan pendataan. Sekarang ini anggota kita juga masih melakukan pendistribusian logistik," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Nanang (59) mengatakan banjir kali ini merupakan yang terbesar setelah tahun 2001. Saat itu, banjir hingga setinggi dada orang dewasa. Sementata Hermawan (38), pemilik toko kelontong di daerah tersebut mengatakan, banjir menjadi momok tersendiri bagi orang yang membuka usaha di sekitar Sungai Bahilang. Sungai itu hanya berjarak sekitar 30 meter saja dari tokonya.
"Apalagi kalau di Siantar juga hujan deras, pasti di sini limpahannya," katanya.
Menurutnya, yang menjadi persoalan tidak hanya barang-barang menjadi basah. Banyak aktifitas ekonomi yang terganggu akibat banjir. "Ya lihat sendiri lah. Kalau banjir, orang lewat di depan toko ini harus melintasi banjir. Mendingan lah kalau hanya sebetis, dulu itu tingginya hampir setengan badan orang dewasa," katanya.