MATATELINGA, Berastagi : Gunung yang berada di Kabupaten Karo, kembali mengalami erupsi dengan amplitudo 120 milimeter selama 500 detik pada Rabu (27/12/2017). Letusannya disertai awan panas guguran dengan jarak luncur 3.500 meter ke arah tenggara-timur dan 4.600 meter ke arah selatan-tenggara. Angin bertiup ke arah timur-tenggara, hal tersebut dilaporkan Pos Pengamatan Gunung Sinabung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, pada Wartawan menyebutkan,"Dari puncak kawah keluar asap disertai abu vulkanik kelabu hitam dengan tekanan sedang hingga kuat. Hujan abu vulkanik jatuh di beberapa di desa di sekitar gunung. Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung masih tinggi, statusnya masih awas atau level 4 mulai Juni 2015 sampai sekarang," .
"Meski ribuan penduduk terdampak langsung hujan abu vulkanik namun tidak ada korban jiwa. Juga tidak ada kepanikan akibat letusan karena hampir setiap hari Gunung Sinabung meletus," sebutnya.
Berdasarkan amatan Matatelinga.com, Kamis (28/12) debu vulkanik yang menyebar ke beberapa kawasan wisata di Karo diperkirakan tidak akan menyurutkan minat masyarakat untuk datang berwisata ke kawasan ini. Sebutlah Danau Lau Kawar, Pemandian Air Panas Lau Sidebuk-debuk, Gundaling Berastagi, Gunung Sibayak, Pasar Buah Berastagi, Air Terjun Sipiso-piso serta kawasan wisata lainnya. Kawasan wisata baru yang belakangan diminati adalah Taman Simalem Resort dan Taman Lumbini. Dari pantauan secara umum, kawasan wisata di Tanah Karo banyak yang tidak terawat dan terkesan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengelolaan yang serius dari pemerintah daerah.
Beberapa kawasan wisata yang terimbas langsung akibat aktivitas gunung ini adalah Danau Lau Kawar yang posisinya sangat dekat dengan Gunung Sinabung.
Terlepas dari adanya erupsi gunung Sinabung di Karo, salah satu indikator yang menjadikan beberapa objek wisata di Tanah Karo terkesan kurang diperhatikan adalah masalah kebersihan serta sarana prasarana pendukungnya sangat minim (toilet dan tempat sampah sulit diperoleh). Bukit Gundaling yang sering dimanfaatkan wisatawan lokal dan mancanegara untuk menikmati view (pemandangan) Tanah Karo dari ketinggian.
Untuk masuk ke objek wisata ini, ada retribusi yang akan dikutip dari pengunjung dan setiap mobil pribadi yang masuk. Saat sampai di lokasi, begitu kendaraan parkir langsung disodori karcis parkir dengan tarif sekali parkir Rp. 5.000,- untuk roda 4 dan Rp. 2.000. Banyaknya retribusi dan melambungnya harga-harga makanan dan minuman membuat wisatawan enggan untuk datang kembali ke objek wisata yang sama.
Pantauan di lapangan, banyak masyarakat lebih memilih berwisata ke wahana permainan yang disediakan hotel atau sekadar menikmati kolam renang beberapa hotel yang ada di Berastagi. Selain bersih, terjamin keamanannya, makanannya bersih dan terjangkau, pelayanannya memuaskan dan tak perlu repot dengan urusan parkir kendaraan.
Berastagi yang terletak di Kabupaten Karo di punggung pegunungan Bukit Barisan, merupakan salah satu objek wisata di Sumut yangt menawarkan udara yang sejuk dan panorama yang indah. Kota pariwisata yang kaya dengan dengan komoditi pertanian berupa buah-buahan, bunga dan sayur mayur ini, berjarak sekitar 50 km dari Medan. Akan tetapi untuk mencapai kota itu dibutuhkan waktu lebih dari satu jam, karena jalan tanjakan yang berkelok-kelok dengan sisi jalan berupa jurang yang dalam.dan juga tebing yang curam. Untuk itu setiap kenderaan harus berjalan dengan ekstra hati-hati.
Di sepanjang jalan Medan-Berastagi juga terdapat objek-objek wisata yang ramai dibanjiri pelancong lokal pada hari-hari libur. Objek itu mulai dari pasar buah di Pancur Batu, pemandian di Sembahe, air hangat di Lau Debuk-debuk dan Taman Wisata Sibolangit yang berdampingan dengan bumi perkemahan pramuka nasional.
Menjelang Berastagi persisnya di Tongkoh pada kawasan tikungan yang tajam, pelancong dapat menikmati jagung rebus yang baru dipetik dari pohonnya. Di sini terdapat bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Luas seluruh tahura ini mencapai 55.600 ha yang merupakan tahura ke-3 di Indonesia setelah Tahura Ir.H. Djuanda di Bandung dan Tahura Dr. Mohd Hatta di Padang. Tahura ini diresmikan tahun 1989, yang di lokasi ini tidak saja terdapat rumah adat Karo, tapi juga Batak Toba, Mandailing dan Nias.
Selain berfungsi sebagai lokasi rekreasi hutan, tahura ini juga berperanan sebagai sarana ilmu pengetahuan, pendidikan, pembinaan generasi generasi muda guna memperdalam kecintaan akan pelestarian alam serta meningkatkan hydrologis daerah aliran sungai.
Berastagi sendiri menawarkan berbagai fasilitas untuk berbagai kalangan pelancong mulai dari kalangan papan bawah sampai elite. Fasilitas itu berupa hotel-hotel berbintang, hotel kelas melati, losmen sampai pada rumah-rumah penginapan. Berbagai perusahaan besar juga memiliki pesanggrahan yang sekelas dengan hotel berbintang. Fasilitas lainnya berupa lapangan golf, kolam renang dan kuda tunggangan yang dihela pemiliknya dengan berjalan kaki.
Fasilitas lainnya berupa fasilitas alam diantaranya air terjun "Sikulailap" yang tidak jauh dari kotaq Berastagi. Kemudian lokasi pendakian Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, yang pada hari-hari cerah cukup ramai dengan kawula muda pencinta alam. Tidak terlalu jauh dari Gunung Sinabung terdapat Danau Lau Kawar yang masih alami dan belum terjamah dengan pembangunan. Objek yang terakhir ini menjadi kegandrungan pada remaja karena suasananya yang alamiah dan bebas polusi.