Senin, 06 Juli 2026 WIB

Sumut Terkena "Virus" Puluhan Bunga Papan Terpampang di Lapangan Merdeka

- Minggu, 30 April 2017 20:32 WIB
Sumut Terkena "Virus" Puluhan Bunga Papan Terpampang di Lapangan Merdeka
Matatelinga.com
MATATELINGA, Medan: Semangat pengiriman papan bunga bukan hanya di Jakarta. Kini sudah seperti terkena virus, menyebar ke daerah-daerah. Tak ketinggalan, Sumut ikut kena 'sengat' pesona Ahok-Djarot. Kiriman bunga papan ini tepat di momentum Dirgahayu ke 69 Pemprovsu.

Ratusan pejalan kaki dan pengguna jalan terkesima saat melintas di seputaran Lapangan Merdeka Medan, Minggu (30/4/2017) pagi. Betapa tidak, di jantung kota ini, terpajang puluhan bunga papan untuk Ahok-Djarot. Walau sejumlah netizen meng-'kafir-kafir'-kan mereka berdua. Tak hanya pujian semata, bunga-bunga papan ini, sekaligus dialamatkan sebagai kritik tajam terhadap kepemimpinan di Sumut, yang dianggap jauh dari ideal.



Uniknya lagi, bunga papan itu datang dari warga sipil. Entah dari siapa. Kata-kata yang dibubuh di bunga papan itu, lucu-lucu isinya tapi sarat makna. Ada yang bernada sindiran, apa pujian, ada juga pantun dan juga doa serta harapan.

Bahkan untuk Ahok dan Djarot disematkan sebutan "Lae", panggilan akrab ala Batak Toba yang diberikan P Simanjuntak. "Lae Ahok & Djarot Tusonma Hamu Padua, Hupamonang Hamu Pe," tulisnya. Simanjuntak penuh harap Lae Ahok & Djarot hijrah ke Medan. Simanjuntak berharap Ahok & Djarot berkenan memimpin Sumut.

Pujian gokil dikirim Kiru, yang menyebut dirinya sebagai 'warga Sumut yang selingkuh jadi warga Jakarta'. Ia mengirimkan pesan yang bunyinya. Pesan cinta terlarang. "Pak Ahok, cinta terlarang itu haram. Tapi mencintai Bapak adalah Halal," katanya.



Krisis kepemimpinan tersua dari bunga papan kiriman warga Medan. Mereka terang-terangan mengaku sebagai 'warga Medan yang merindukan keberadaan gubernurnya.' Mereka seperti kena 'sengat Ahok'. "Terima kasih Pak Ahok, semoga karya dan prestasimu dapat dicontoh gubernur lain," begitu teksnya.

Permintaan buat Ahok agar peduli dengan Medan terlontar dari Anak Simalingkar. Mereka berharap Ahok mau melirik dan bertelut untuk kota yang dibangun Guru Patimpus ini.  "Ahok, kutahu kau tak ke Medan, tapi kumohon doakanlah Medan," diaminkan Anak Simalingkar.

Lantaran berlaku tegas dan jujur, keras dan lantang serta tak gentar menghadapi banyak cercaan, Keluarga Tuk-tuk Rihit Lontung mencap Ahok  sebagai "Batak Manakkas" alias Batak Tulen. "Batak Manakkan" itu, menurut Fromin, adalah pemimpin yang "berani karena benar" dan "Integritasnya teruji membangun negeri."



Lewat pesona Ahok-Djarot, tak heran jika Inang-inang Sambu mendoakan agar Sumut kelak memiliki pemimpin sepasti Ahok-Djarot, yang "Berkinerja bagus dan berkepemimpinan melayani," kata Ron-Ethan. Sehingga ketika masa jabatan gubernur itu berakhir, ia seperti pantun "Bunga Melati-nya" kelompok Rabu KTB: "Bunga melati bunga yang indah, dirangkai untuk hari meriah. Mauliate kami untuk Badja, teladan untuk generasi muda."

Dan ketika pemimpin itu sudah tak memimpin lagi, ia meninggalkan jejak kebaikan. "Meninggalkan warisan berupa "tata kota yang lebih rapi," timpal Keluarga M Siahaan . Kota yang begituan, sambung Siahaan, didambakan jutaan orang. Bahkan, sekalipun ia lengser dari posisinya, ia tetap pemimpin yang jadi teladan(role model). Pemimpin beginian selalu disanjung orang, dan senantiasa ditawari hidangan nikmat. "Datanglah ke Medan," pinta Keluarga Papi Karin Sitorus. Ia menawarkan "banyak lepat Toba" untuk Ahok-Djarot.

Namun sebuah sinyal kecewa diserukan  Tonggo Manurung. Kekalahan Ahok di pilkada DKI Jakarta, menjadi empedu bagi 'lidah nurani' Manurung yang mengaku begitu "lama membangun asa akan kepemimpinan yang baik di negeri ini." Kekalahan Ahok seperti kehilangan satu sosok pemimpin besar. "Hilang Ko Ahok, beri bukti tak terbilang," tulisnya, sebagai sebuah penegasan akan kinerja baik Ahok sebagai pemimpin yang telah memberi bukti.

(Mtc)
Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru