Matatelinga.com, Ratusan warga Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kota Medan dipimpin Walikota LIRA DPD Kota
Medan, Drs. Saman Lubis, terlihat memadati pekuburan Muslim Kayu Besar Jl.
Thamrin Medan, Sabtu,(5/6/2016), guna menziarahi makam para
tokoh anti komunis di Sumatera Utara, yakni makam Alm. DR. Drs. H. Ibranim Sinik. Juga makam
mereka yang jadi korban saat pertikaian dengan komunis, yaitu: Alm. Adlin
Prawira Negara BA, M. Yakub, dan Ibrahim
Umar (M. Yakub dan Ibrahim Umar, juga dijadikan nama jalan di Kota Medan).
Walikota LIRA DPD Kota Medan Drs. Saman
Lubis, seusai membacakan Yasin, Tahtim dan Tahlil mengatakan, kegigihan dan semangat
serta perjuangan DR. Drs. H. Ibranim Sinik yang tak kenal lelah dan menyerah kepada komunis,
harus dilestarikan dan diwariskan kepada
generasi penerus. Apalagi lanjutnya, PKI sebagai organisasi kader dikenal memiliki
kemampuan konsolidasi organisasi yang sangat baik, hingga mampu mengelola propaganda, agitasi, infiltrasi, provokasi,
dalam menarik perhatian serta menggugah simpati
publik.
“Saat ini dilahirkan kesan atas nama HAM, jika aktifis komunis dan kader Partai Komunis
Indonesia adalah korban. Padahal sejarah mencatat, mereka sudah dua kali gagal melakukan kudeta terhadap NKRI; yakni
pada tahun 1948 dan tahun 1965. Harusnya dua kali kegagalan yang dibayar mahal oleh kader PKI, merupakan bukti paham komunis dan PKI tidak
dapat tumbuh dan berkembang ditengah masyarakat Indonesia yang heterogen dan
berpaham ketuhanan ”, tegas Saman Lubis.
Dilanjutkan Saman Lubis, sifat dan gerakan
komunis yang reaksioner dan revolusioner memang awalnya cukup menarik simpati
publik, terutama bagi mereka para
aktifis dan intelektual muda. Namun
gagalnya kudeta PKI di Madiun tahun 1948 dan di Jakarta tahun 1965, bukti ambisi
kader komunis yang selalu menghalalkan
segala cara untuk berkuasa, tidak sesuai dengan semangat musyawarah dan
gotongroyong rakyat Indonesia.
“Jika dikatakan komunis tidak pernah
membakar buku, untuk menyudutkan mereka yang bukan komunis tidak demokratis. Tapi perbuatan kader komunis lebih tidak
demokratis, berusaha membakar percetakan, agar suratkabar tidak terbit. Dan ini yang dialami Alm. Ibrahim Sinik ketika
masih hidup saat tengah konflik dengan PKI. Dan niat PKI lewat Pemuda Rakyat membakar
percetakan itu berhasil digagalkan oleh masa Pemuda Pancasila di pimpin H. Yan
Paruhum Lubis (Ucok Majestik)”, ujar Saman Lubis. Ditambahkannya, jika kaum komunis saat ini mengatakan mereka
hanyalah korban. Lantas bagaimana dengan warga masyarakat yang jadi korban
kebrutalan dan keganasan komunis, khususnya di Sumatera Utara dan Kota Medan.
“Di Simalungun ada Pelda Sujono, di Kota
Medan ada M. Yakub dan Adlin Prawira Negara (korban dalam peristiwa Kampung
Kolam). Kemudian Ibrahim Umar, yang tewas ditembus peluru keamanan konsul RRC
di Medan saat demo didepan gedung konsul masa itu. Demikian pula puluhan
masyarakat lainnya, seperti yang tergabung dalam Pemuda Pancasila”, siapa yang akan minta maaf kepada para korban
PKI itu”, lugas Saman Lubis.
Karenanya untuk napak tilas perjuangan masyarakat
Sumatera Utara menghadapi komunis tersebut, DPD LIRA Kota Medan berencana
membuat buku yang mencatat kronologis berbagai
peristiwa dalam era 1962 hingga 1966 di Sumatera Utara dan Kota Medan. Dengan harapan, buku tadi dapat memberikan pencerahan
kepada para akademisi, intelektual, dan aktifis muda. Agar tidak termakan
propaganda sesat mereka yang masih bermimpi, ingin menghidupkan kembali PKI dan paham komunis di Indonesia,khususnya
di Sumatera Utara dan Kota Medan.
Terlihat turut mendampingi Walikota DPD LIRA Kota Medan Drs.
Saman Lubis saat ziarah ke makam Dr. Drs. H. Ibrahim Sinik, makam Adlin Prawira
Negara, makam M. Yakub dan makam Ibrahim
Umar; Sekretaris Daerah: Wahyu, Asisten
I: Alfiannur Syafitri, Kadis Penataan Organisasi: Rinno Hadiwinata (Renno),
Kadis Pendidikan: Drs. Salwiddin
Manurung, Hendra, dan Humas Helmi Nasution, S.Ag.
(Mtc)