"Ini bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang guru, terutama di era serba teknologi sekarang, dimana anak-anak sudah akrab dengan teknologi dan semua informasi bisa diakses dengan kemajuan teknologi tersebut. Di Riad Madani, kepada setiap guru diberi kesempatan untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuannya agar tidak hanya mengajar di kelas, tapi juga belajar untuk mendapatkan hal-hal baru dan pola ajar yang baru agar anak didik tidak mudah bosan," jelasnya.
Dalam perjalanan Riad Madani menapaki usia hingga 17 tahun, kata Ade Sudendra Wahyu Lubis sudah banyak prestasi yang diukir oleh sekolah, guru dan murid. Prestasi akademik, prestasi ekstrakurikuler dan prestasi di bidang olahraga.
"Deretan prestasi itu tidak terlepas dari dukungan orang tua dan guru yang mengajar, semangat peserta didik yang pantang menyerah dan memiliki jiwa kompetisi akan menjadi bekal untuk bersaing dengan peserta lainnya," katanya.
Satu hal penting dan menjadi budaya di sekolah Riad Madani, kata Sukmawati Nasution adalah dimana seluruh siswa setiap pagi sebelum pelajaran sekolah dimulai selalu diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan doa bersama.
Baca Juga:
Kemudian, lanjut Sukmawati Nasution peserta didik di Riad Madani diberikan kesempatan untuk memilih mau ikut ekstrakurikuler apa dan diberikan dukungan semangat untuk mengikuti berbagai kompetisi, seperti lomba melukis, lomba mewarnai, pertandingan futsal, catur, karate, bernyanyi serta kompetisi lainnya.
"Dengan mengikuti berbagai kompetisi, maka siswa kita akan dilatih untuk tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tapi juga kemampuan untuk berkompetisi dengan menjunjung tinggi sportifitas," tandasnya.
Harapan kita di usia Riad Madani yang ke-17, program pembelajaran terus ditingkatkan, fasilitas pendukung semakin lengkap dan dukungan dari semua pihak ikut mendorong pencapaian tujuan Riad Madani dalam menghasilkan lulusan yang cerdas, berkarakter, berdaya saing dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islami.
