Dalam keterangannya melalui sambungan telepon, Kepala Puskesmas membenarkan bahwa pencucian peralatan dapur MBG sempat dilakukan di sungai yang berada di sekitar lokasi dapur.
Ia menegaskan bahwa kondisi sungai tersebut sangat berisiko karena hulunya dimanfaatkan masyarakat untuk pembuangan WC. Bahkan, terdapat jembatan di sekitar aliran sungai yang kerap digunakan warga untuk buang air besar.
"Benar memang mereka mencuci di sungai. Air itu pembuangan WC dari hulu sungai desa, ada juga jembatan tempat orang BAB," ungkap Kepala Puskesmas.
Ia mengaku telah menyampaikan temuan tersebut kepada dokter koordinator wilayah dan menegaskan bahwa laporan masyarakat terkait praktik pencucian di sungai telah diterima lebih dari satu kali.
"Karna sudah dua kali laporan dari masyarakat juga. Harapan saya jangan sampai ada KLB di Kecamatan Bukit Malintang ini," tegasnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan masyarakat Bukit Malintang yang menilai keselamatan anak-anak mereka terancam. Warga menyebut praktik pencucian di sungai sebagai bentuk kelalaian serius dalam pengawasan program nasional.
"Ini bukan persoalan kecil. Ini soal kesehatan dan nyawa anak-anak kami. Kalau air sungai yang jelas-jelas jadi pembuangan WC masih dipakai, lebih baik program ini dihentikan sementara sebelum ada korban," tegas seorang tokoh masyarakat Bukit Malintang.
Masyarakat mendesak Satuan Tugas MBG Kabupaten Mandailing Natal serta pemerintah daerah segera turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi menyeluruh dan evaluasi total terhadap pelaksanaan MBG di Bukit Malintang.