MATATELINGA, Di tengah arus modernisasi yang semakin pesat, Paguyuban Parsadaan Padang Lawas Utara (ParPaluta) berdiri sebagai upaya nyata bagaimana kearifan lokal dapat dipertahankan dan dikembangkan. Terbentuknya ParPaluta dilandasi oleh semangat untuk melestarikan warisan budaya leluhur yang termaktub dalam adat Dalihan Natolu, sebuah falsafah yang menekankan keharmonian dan kekerabatan.
Sejalan dengan falsafah daerah, "Aek lalu, batu so," bermakna bahwa zaman boleh maju, tetapi kearifan lokal atau adat istiadat Dalihan Natolu tetap terjaga.
Selain itu, ada makna lain yang disampaikan, yaitu jangan sampai kita terjebak dalam iri dengki dan hal-hal kecil ketika orang lain sudah berbicara tentang kemajuan besar. Orang sudah berbicara ke bulan, kita jangan berkutat pada pertengkaran spele yang dilandasi iri dan dengki dalam istilah daerah disebut "gut-gut."
ParPaluta juga memiliki visi yang terbukti sudah diimplementasikan, yaitu "Manjappal tu balian, mangalngei tu bagasan," yang berarti berkarier di perantauan dan kemudian berbagi ke kampung halaman. Semangat pelestarian kearifan lokal ini mendorong para tokoh asal Paluta yang berdomisili di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten untuk membidani kelahiran perkumpulan ini.
Baca Juga:
Tokoh sentral
ParPaluta meliputi Maradaman Harahap sebagai Ketua Dewan Pembina, Agullahim Harahap sebagai Ketua Dewan Penasehat, Hamsiruddin RCM Siregar sebagai Ketua Umum, Akhmad Gojali Harahap sebagai Wakil Ketua Umum I, Dr. Kiman Siregar sebagai Wakil Ketua Umum II, Ali Amson Harahap sebagai Wakil Ketua Umum III, Charles F. Rambe sebagai Sekretaris Jenderal, dan Pandapotan Siregar sebagai Bendahara Umum.
Kepengurusan ParPaluta periode kedua ini akan dikukuhkan pada 10 Agustus 2025 di Gedung Kemenag, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Acara ini akan dihadiri oleh para tokoh dari berbagai daerah, terutama dari Tapanuli Bagian Selatan.
Menurut Hamsiruddin, semangat ParPaluta adalah "berkolega," yang berarti saling mendukung dan membesarkan. Falsafah kampung "Tappal marsipagodangan, udut marsipaginjangan" juga menjadi pedoman dalam kegiatan ParPaluta. Kemudian ketika terjadi musibah, seperti kebakaran di Paluta, para pengurus dengan cepat memberikan donasi dengan partisipasi anggota.