MATATELINGA, Medan :Guna mencari kepastian hukum, Kasus pembacokkan yang telah terjadi beberapa bulan lalu di Lokasi Pukat Banting I Kelurahan Bantan Kecamatan Medan Tembung, Kian terus bergulir bahkan, sampai ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Hal itu berdasarkan keterangan yang disampaikan Korban, Usop Suripto (46) saat mendatangi kantor matatelinga.com di Jln Sentosa Baru Kelurahan Sei Kera Hilir II Kecamatan Medan Perjuangan, Kamis,(19/1/2023).
Usop menjelaskan, Kronologis yang sebenarnya adalah, bahwa dirianya lah yang menjadi korban keberingasan ketiga orang yang diduga sebagai pelaku, yakni, Vinsen, David dan William. Namun, statement yang disampaikan di berbagai media, menurut Usop, malah pemberi statement memutar balikkan fakta yang sebenarnya terjadi. Dan terkesan penggiringan opini dalam mendudukkan suatu perkara. Padahal, paska kejadian pembacokkan tersebut, Usop justru yang berniat melerai pertengkaran antara David, Vinsen dan William dengan penjaga komplek agar tidak menimbulkan keributan yang berkepanjangan.
"Awal kronologis yang sebenar-benarnya tanpa saya rekayasa sedikitpun menceritakan dari awal. Pada saat itu, 17 Agustus malam, saya keluar dari rumah. saya lihat ada pertengkaran dua pemuda yang keturunan tionghoa bernama Vinsen dan David dengan penjaga komplek bernama Dicky Chandra. Pada saat itu saya keluar, saya samperin dan bertanya kepada vinsen, ada apa ribut-ribut?". Kata Usop
Sambung Usop, Pada saat itu, diketahui bernama David sudah tidak ada di tempat, diduga David memanggil. "Jadi, saya tanya si vinsen gara-gara apa, gara-gara parkiran dan sebagainya. Terus, saya bilang jangan ribut-ribut lah, kita orang minoritas, tinggal disini harusnya berbaur dengan mereka (warga setempat). Kalau panggil orang, nanti ributnya tambah panjang, bisa-bisa ributnya antara etnis. Itu tujuan saya melerai pada saat itu Pak". Tuturnya
Selanjutnya, Usop sempat mengingatkan kepada para Pelaku untuk melaporkan masalah tersebut kepada Kepala Lingkungan (Kepling), Agar Kepling yang menyelesaikannya.
"Kita ngomong baik-baik waktu itu, tidak ada keributan. Setelah beberapa menit, tibalah adeknya, yanh kita ketahui bernama David dan Wiliam. Begitu mereka sampai dengan membawa 2 buah samurai di tanganya, turun dari sepeda motor langsung mau menyerang si Dede yang melerai pertama kali. Sedangkan bernama Dicky sudah saya suruh pergi, jadi dia mau membacok si dede, (kau yah yang mau memukul abang saya?). langsung saya tahan dadanya, saya tidak mencekik dia. Saya bilang, jangan kau serang dia, dan kau enggak boleh bawa-bawa senjata, nanti di laporkan kau ke polisi". Tandasnya
Seketika itu, lanjut Usop, Langsung Wiliam menyabet tangannya dengan menggunakan senjata tajam jenis samurai, sehingga mengenai jari kelingking dan jari manis Usop.
"Setelah itu saya lari ke pinggir, mengambil batu bermaksud untuk menakut-nakutinya. Ternyata, saya di todong pake pistol oleh David. saya ketahui, mereka abg beradik semua. Ketika saya di todong pistol, saya lari kebelakang rumah, dan mencari alat seadanya, yaitu sebuah besi stenlis putih. Saya keluar lagi, dan bertanya, knapa lu bacok saya.? Saya kan hanya misahin. Dia malah ngancam-ngancam saya, ku bunuh kau nanti". Ucapnya sembari menirukan perkataan Wiliam
"Jadi enggak terima dia, makin menyerang. Dia (Wiliam) menyerang kepala saya, saya hanya menepis. Tidak ada saya diluan mukul dia. Faktanya itu begitu. Karena dia menyerang membabi buta dengan 2 samurai, saya tidak sanggup nahan lagi, jadi saya tahan pake tangan. Akibatnya, koyak tangan saya, terdorong saya lagi, akhirnya saya jatuh. Dibacok lagi saya di lantai tanpa berhenti". Sambungnya
Lanjut dikatakannya, setelah melihat jatuh satu senjata yang digunakannya, barula warga setempat berani mendekat dan menangkap si pelaku.
"Jadi, warga disitu, kalau di anggap preman saya tidak terima. Warga situ bukan preman. Karena ada keributan, warga situ memisahkan. Kalau tidak ada mereka, saya mati di tempat. Itu kronologis sbenarnya. Setelah itu saya di bawa ke rumah sakit muhammadiyah sempat di tolak. Lalu di bawa ke methodis di tolak juga, karena tidak sanggup menangani saya, akhirnya saya diterima di rumah sakit Colombia". Terangnya
Pasca di rawat di Rumah sakit, Istri Usop kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Percut Sei Tuan. " Istri saya yang melaporkannya. Setelah 8 hari saya di rawat di rumah sakit, baru saya dapat memberikan keterangan kepada pihak Kepolisian di sebuah hotel yang berada di Medan. Karena pada saat itu, stamina saya masih belum pulih seutuhnya". Ujarnya
Setelah dimintai keterangan, lanjut Usop, Kejanggalan-kejanggalan pada perjalan perkara yang di alaminya mulai kelihatan. Seperti, hasil keterangan yang tidak sesuai dengan ketikkan pihak Polsek. "Kita minta di rubah, katanya nanti saja. Setelah saya baca, ada yg tidak sesuai, saya minta di rubah. Begitu sudah saya teken, nanti saja di rubah. Kita tunggu panggilan lanjutan. Saya tunggu 2 minggu lebih, tidak ada kabar. Bahkan, visum saya aja di ambil setelah 20 hari". Ungkap Usop
Usop juga secara tegas membantah, jika dirinya bersama dengan warga setempat dianggap sebagai komploton preman atau sejenisnya. Sebab, dirinya hanya melerai
"Pada saat itu murni warga, bukan preman sama sekali. Kalau benar mereka preman, mungkin ketiga pelaku tidak bisa keluar dari tempat kejadian". Tegasnya
Dirinya juga mengaku sudah menyurati banyak pihak, dari mulai LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) guna meminta perlindungan hukum, dan juga ke Mabes Polri, Kadiv Propam Polri, hingga ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dengan nomor: B-1931D/Kompolnas/11/2022.
"Jadi, secara hukum, si pelaku ini sudah jelas membawa senjata sajam, dan menodongkan senjata api ke saya. Bahkan membacok saya secara sadis. Saya meminta, pelaku di hukum seadil-adilnya sesuai peraturan yg berlaku". Katanya dengan tegas.
Ia juga berharap kepada aparat hukum dan juga pengadilan, agar memberikan hukum yang seadil-adilnya, supaya para pelaku mendapatkan efek jera. (Kos/Mtc)