Matatelinga - Binjai, Mariani (48), lari keluar rumah sembari berteriak minta tolong. Kepanikan itu terjadi sesaat api yang mulai berkobar nyaris membumi hanguskan kediamanya di Jalan Bengkalis No. 43, Lingkungan II, Kelurahan Rambung Dalam, Kecamatan Binjai Selatan, Jumat (16/05/2014).
Beruntung teriakanya membuat warga disana keluar rumah. Mereka pun saling bahu membahu memadamkan api agar tidak menjalar ke rumah lain. Mengingat, didaerah tersebut merupakan padat penduduk. Merekapun berusaha memadamkan api dan mengeluarkan barang-barang berharga dari dalam rumah.
Setelah sekitar setengah jam berjimbaku dengan api. Dengan menggunakan alat seadanya seperti ember dan gayung. Api dapat dipadamkan tanpa bantuan dari pemadam kebakaran yang datang sesaat api telah padam. Meski tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Tapi, sebagian barang dan sebagian rumah habis terbakar. Kerugian sendiri ditaksir sekitar 20 juta.
Menurut korban Mariani (48) istri dari Parman (52), yang saat itu berada di rumah sendiri. Kemunculan api diduga akibat arus pendek listrik. Sebab menurut Mariani, sempat tercium aroma pelastik terbakar dan percikan api dari kabel listrik di dalam kamar anaknya Irwanda (22). "Awalnya kucium pelastik terbakar dan kulihat percikan api dari salah satu kabel dikamar anakku," terang dia.
Mencium dan melihat kobaran serta percikan api itu. Membuatnya berlari kekamar dan melihat kobara api sudah mulai membara. Dengan secara bergegas, dirinya berlari keluar rumah sembari berteriak minta tolong kepada warga sekitar. "Tolong, tolong, tolong, ada api," teriaknya mengulang kejadian.
Mendengar teriakan dari korban, wargapun mulai panik dan berhamburan keluar rumah. Tanpa dikomandoi, mereka (warga-red) langsung bahu membahu mengeluarkan barang dan mengambil air dalam rumah dengan ember untuk menyiram api yang terus berkobar.
"Kami dengar teriakan minta tolong. Jadi, kami langsung keluar rumah sembari mengeluarkan barang berharga. Tidak hanya itu, sebagian warga lain mengambil air dengan ember untuk memadamkan api," terang Wardika, salah satu warga disana.
Setelah berjimbaku dengan kobaran api yang terus membesar. Warga akhirnya berhasil memadamkan api tanpa bantuan dari petugas damkar. Setelah sesaat api padam barulah mobil pemadam turun ke lokasi. "Kalau nunggu mobil pemadam, sudah habis duluan kurasa rumah ini. Makanya kami selalu bersiaga guna memadamkan api. Karena selama ini pengalaman kami begitu. Sudah rumah habis, baru mbil datang guna memadamkan api," singgung Yingrum, warga lainya.
Dengan bantuan warga jugaa, beberapa barang yang berhasil diselamatkan disusun dirumah tetangga. Sementara warga lain, berusaha memperbaiki sebagian rumah yang telah hangus dilalap si jago merah.
(Hendra/Mt-01)