Matatelinga - Binjai, Suasana haru keluarga dan warga terlihat jelas pada saat prosesi pemakaman Sutrisni (15), Rabu (07/05/2014) siang. Gadis belia yang tewas dimeja operasi karena diduga menjadi korban malpraktek oleh dokter saat menjalani pengangkatan amandel ini, diantar dengan penuh rasa haru ke tempat peristirahatan terkahir. Bahkan Ratna Juwita, selaku ibu yang melahirkan dan membesarkanya masih tanpak Shock dan terus meratapi kepergian sang putri.
Setelah disholatkan disalah satu masjid yang berada tak jauh dari kediaman mereka. Korban kemudian dimakamkan di pemakaman umum Desa Sukaramai, Kecamatan Binjai Barat. Para peziara yang berada di lokasi terlihat haru dan tak menyangka kepergian korban begitu cepat.
Apa lagi, operasi yang dijalakan korban menurut beberapa warga bukanlah operasi yang berbahaya. Akan tetapi, kenapa korban tewas dalam kondisi menjalankan operasi. "Memang nyawa ditangan tuha. Tapi heranya, kenapa operasi amandel saja bisa merenggut nyawa seseorang. Memang bagaimana pulak pelayanan dan perawatan serta jalanya operasi berlangsung ya, kok bisa-bisanya meninggal," celoteh beberapa warga disana bertanya.
Tetangga dan keluarga sendiri merasa bingung. Sebab, sebelum operasi yang ditangani dokter Popy dan Jalal, di rumah sakit bangkatan binjai, berlangsung. Kondisi pasien tanpak segar bugar dan cerah tanpa merasakan sakit apapun. "Kondiisnya baik-baik aja sewaktu pergi. Tapi kenapa bisa terjadi seperti ini. Kan gak masuk akal kita selaku orang awam," terang mereka.
Sementara, Ratna Juwita, selaku ibunya yang tanpa masih terlihat shock dan meratapi kepergian anaknya. Mengaku, tidak terima dengan kejadian yang menimpa putirnya. Dirinyapun, mengaku sangat menyesal membawa anaknya ke rumah sakit untuk menjalankan operasi.
"Ini semua salahku, kenapa aku mau dirayu ama dokter Popy, untuk membanya ke rumah sakit. Kalau tidak ku ajak ke rumah sakit. Mungkin anakku sekarang masih hidup. Kami tidak terima dengan perlakuan rumah sakit dan dokter," seru dia dengan menitihkan air mata.
Bahkan, dirinya tidak menyangka kalau operasi yang awalnya hendak menyembuhkna anaknya, malah berakhir dengan meregang nyawa bagi anaknya. "Dia keluar ruimah sehat, tanpa mengeluhkan sakit sedikitpun. Kenapa bisa jadi seperti ini. Kemana tanggungjawab kalian pihak rumah sakit dan dokter," terangnya sedih.
Sementara Fitri, kaka kandung korban mengakui, semasa hidup. Adiknya merupakan orang yang penyayang dan selalu bersedekah kepada setiap orang. Bahkan, setiap kali ada masalah dirinya tidak pernah sedih dan selalu ceriah. Sang adiknya pun merupakan anak kesayangan ibunya dan sangat menyayangi ibu.
"Dia selalu ceriah dan dermawan. Anaknya pintar dan selalu menyayangi ibu. Apapun yang diperintahkan ibu tidak pernah dibantahnya. Makanya kami selaku keluarga dan warga sangat merasa kehilangan dengan kepergianya begitu cepat," sebut dia.
(Hendra/Mt01)