Selasa, 28 April 2026 WIB

Besok , Petugas SP2020 Mulai Cacah Data ke Rumah Warga, Incar 84% Warga di Sumut

- Senin, 31 Agustus 2020 12:15 WIB
Besok , Petugas SP2020 Mulai Cacah Data ke Rumah Warga, Incar 84% Warga di Sumut
mtc/amel
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi dalam Kick Off Sensus Penduduk September 2020, Senin (31/8/2020).
MATATELINGA, Medan : Sebanyak  84% penduduk Sumatera Utara (Sumut) belum tercatat pada Sensus Penduduk (SP) Online 2020  dan harus dicatat pada SP September 2020 besok.

"Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat mobiltas penduduk yang pasti terjadi dalam beberapa bulan terakhir," ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi dalam Kick Off Sensus Penduduk September 2020, Senin (31/8/2020).

Dijelaskannya, hasil Sensus Penduduk Online 2020, telah tercatat sebanyak 2,34 juta penduduk Sumatera Utara atau sekitar 15,84% dari proyeksi jumlah penduduk Sumatera Utara tahun 2020. Pada SP2020 Online juga telah berhasil mencatat 561,89 ribu keluarga atau sekitar 14,78% keluarga di Sumut yang tercatat.

"Ini adalah hasil kerja kita bersama, tidak hanya milik BPS namun juga atas kontribusi para stakeholder dan tim media yang juga turut hadir disini. Tentunya tidak mudah bagi kita untuk memperolehnya karena begitu banyak hal yang telah kita curahkan bersama untuk mencapainya. Semoga semangat kerjasama ini dapat terus kita rawat dan pelihara bersama," tuturnya.

Ditengah perjalanan SP2020 ini, ungkap Syech Suhaimi, kita berhadapan dengan badai pandemi Covid-19, yang tak hanya melanda Indonesia saja namun seluruh belahan dunia. Karenanya, BPS dituntut untuk beradaptasi.

Ke lapangan, kata dia, petugas sensus dilengkapi atribut khusus, akan mengenakan rompi dan tas berlogo SP2020 dan BPS, membawa perangkat sensus, mengenakan name tag sebagai identitas resmi. Dan yang utama menggunakan masker, fase shiled dan dibekali hand sanitizer.

Dalam siaran virtual, Kepala BPS Pusat, Suhariyanto menjelaskan kick off ini merupakan penanda dimulainya kegiatan SP2020 di seluruh Indonesia. Kegiatan ini membuktikan semangat tidak akan  surut meski ada pandemi Covid-19. "Kuncinya adalah dengan menerapkan protokol kesehatan dengan 3M. Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak," tuturnya.

Menurut Suhariyanto, tidak akan ada kebijakan yang tepat tanpa data yang akurat. Dengan demikian data SP2020, tidak hanya penting untuk mendapatkan data, namun untuk menentukan arah pembangunan.

Dijelaskannya, di tahun 2020, untuk pertama kalinya, Sensus Penduduk dilaksanakan dengan cara kombinasi, juga menggunakan data Disdukcapil. Sebanyak 51,36 juta penduduk sudah berpartisipasi SP Online, atau baru 19% penduduk Indonesia. 

"Karena itu SP2020, dilanjutkan dengan pencacahan lapangan untuk mendata seluruh penduduk Indonesia," terangnya.

Dalam mencacah, imbuh dia, petugas sensus harus menjalani protokol kesehatan yang sangat ketat. "Kami berharap masyarakat mau menerima petugas sensus tanpa takut terpapar Covid-19. Dan dapat memberikan informasi secara benar dan jujur ke petugas," papar dia.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menuturkan, SP2020 sangat penting untuk mendapatkan data kependudukan Indonesia. Lantaran sekitar 99% sudah masuk database Disdukcapil. 

"SP2020, diharapkan dapat mencover 100% penduduk Indonesia. Sehingga pembangunan benar-benar dapat dilaksanakan siginifikan. Termasuk percepatan dana bantuan ke daerah untuk pembangunan," ucapnya.

SP2020, lanjutnya, dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19. Protokol kesehatan harus benar-benar diterapkan. Sehingga tidak terjadi cluster penularan, baik antar petugas atau ke masyarakat.

"Mari kita dukung Sensus Penduduk 2020. Agar pemerintah memiliki data yang kuat untuk mendukung pembangunan," tandasnya. (mtc/amel)

Editor
:
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru