MATATELINGA, Jakarta: Beberapa waktu belakangan ini, pemberitaan tanah air sempat dihebohkan dengan politisi mulai dari pimpinan partai hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui operasi tangkap tangan.
Seperti diketahui, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yakni Romahurmuziy ditangkap karena dugaan pelelangan jabatan di Kementerian Agama, dan yang terbaru anggota DPR, Bowo Sidik yang diduga menerima suap dari PT HKT.
Mengenai fenomena tersebut, pengamat politik, Emrus Sihombing menilai bahwa kejadian itu merupakan cerminan politisi-politisi di Indonesia. Menurutnya, sampai saat ini politisi di Indonesia masih menggunakan ruang politik untuk memperkaya dirinya sendiri.
"Menurut saya itu membuktikan bahwa para politisi kita ini mereka masuk ke dunia politik itu kan dalam rangka mencari memperkaya dirinya atau memperbesar pundi-pundinya. Tidak untuk panggilan," ujar Emrus kepada wartawan, Minggu(31/3/2019).
"Baru kemudian, bahwa proses politik yang terjadi itu membutuhkan biaya yang sangat tinggi, termasuk di internal partai, maupun proses politik di ruang publik," tambahnya.
Padahal bagi Emrus, tujuan seorang politisi masuk ke dalam dunia politik adalah untuk mensejahterakan rakyat, bukan justru mensejahterakan diri sendiri. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar setiap politisi mampu meninggalkan nafsu untuk mendulang kekayaan.
"Sudah pasti, karena biaya politik itu mahal, maka manusia itu kan ekonomikus. Dia akan memperhitungkan berapa cost yang dikeluarkan, berapa pengembalian atau profit yang diperoleh," terang Emrus Sihombing.
"Padahal idealnya, masuk ke kancah politik itu mensejahterakan rakyat, bukan mensejahterakan dirinya. Jadi politisi kita ini adalah tokoh-tokoh yang belum selesai dengan dirinya. Idealnya menurut saya orang-orang yang masuk politik itu adalah yang sudah selesai dengan dirinya," tutupnya.