Sabtu, 25 April 2026 WIB

Di Balik Operasi Pengembalian Keperawanan, Berikut Bahayanya

Redaksi - Minggu, 17 Maret 2019 10:53 WIB
Di Balik Operasi Pengembalian Keperawanan, Berikut Bahayanya
GOOGLE
Ilustrasi
MATATELINGA: Hingga saat ini masyarakat masih memercayai mitos apabila ciri seorang masih perawan adalah keluarnya darah saat pertama kali melakukan hubungan seksual. Darah itu berasal dari selaput dara yang robek lantaran ditembus oleh sesuatu.



Penyebab robeknya selaput dari bukan hanya karena seorang perempuan sudah berhubungan seksual. Aktivitas seperti olahraga, cidera, atau bahkan penggunaan alat medis tertentu juga dapat membuat selaput dara robek. Sayangnya, belum banyak masyarakat yang memahami hal tersebut. Maka tak heran jika ada perempuan yang memutuskan untuk melakukan operasi pengembalian keperawanan atau hymenoplasty.

Operasi ini biasanya dilakukan oleh dokter ginekolog atau ahli bedah. Menurut seorang ahli bedah yang namanya disamarkan menjadi Walter, operasi pengembalian keperawanan dimana selaput dara akan direkontruksi kembali sebenarnya tidak diperlukan secara medis. Namun permintaan untuk operasi ini terus meningkat.

Operasi pengembalian keperawanan biasanya dilakukan bila sudah ada pengaturan rawat jalan. Waktu yang dibutuhkan untuk operasi ini terbilang singkat yaitu kurang dari setengah jam. Hasil dari operasi itu jaringan akan tumbuh kembali dan bahkan mungkin memiliki beberapa pembuluh darah yang dapat menyebabkan pendarahan saat berhubungan seks.



Namun sebenarnya, meskipun operasi pengembalian keperawanan sudah dilakukan, itu tidak menjamin darah keluar. Sebab pada perempuan yang benar-benar masih perawan saja, berdasarkan survei pada 2013, hanya setengahnya yang mengalami pendarahan saat berhubungan seksual pertama kali. Hal itu dikarenakan tebal tipis dan karakteristik selaput dara pada masing-masing perempuan berbeda.

Alih-alih mendapatkan hasil yang diinginkan, perempuan yang melakukan operasi pengembalian keperawanan malah bisa terkena sejumlah masalah. Dijelaskan oleh Walter, dokter yang melakukan operasi ini belajar secara otodidak. Oleh karenanya, pasien perlu berhati-hati agar tidak berakhir pada dokter yang salah.

Selain itu, perlu diingat setiap prosedur medis memiliki risiko. Pada operasi pengembalian keperawanan bisa timbul jaringan parut atau jaringan ragi, penurunan sensitivitas, dan infeksi pada Miss V. Alat kelamin termasuk Miss V memiliki saraf yang lebih sensitif daripada bagian tubuh manusia lainnya. Tindakan tertentu dapat berakibat fatal bila tidak dilakukan dengan benar. Demikian seperti yang dilansir oleh wartawan, Minggu (17/3/2019).

(Mtc/Okz)
Editor
:
Sumber
: Okezone
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru