Minggu, 12 Juli 2026 WIB
ISIS

20 Negara Diduga Jadi Pemasok Alat Peladak Untuk ISIS

Admin - Kamis, 25 Februari 2016 14:24 WIB
20 Negara Diduga Jadi Pemasok Alat Peladak Untuk ISIS
google
Ilustrasi
Matatelinga.com, Muncul sebuah laporan dari Peneliti Senjata Konflik (CAR) yang menyebutkan 51 perusahaan dari 20 negara menjadi pemasok komponen alat peledak ISIS. Sebanyak 13 perusahaan Turki diduga terlibat rantai pemasok tersebut. Jumlah itu merupakan yang terbanyak dibandingkan negara lain.

ISIS diketahui mengontrol sebagian besar wilayah di Irak dan Suriah. Turki sendiri berbatasan langsung dengan kedua negara tersebut. Ankara sudah mengetatkan perbatasan mereka untuk mencegah peredaran senjata dan tambahan pasukan ISIS. Namun, faktanya perusahaan mereka terlibat sebagai pemasok komponen.

Seperti diwartakan Reuters dan dikutip dari laman okezone.com, Kamis (25/2/2016), Direktur Eksekutif CAR James Bevan menyesalkan sikap Pemerintah Turki yang menolak bekerja sama untuk penyelidikan tersebut. Akibatnya, CAR tidak dapat menyelidiki sejauh mana efektivitas peraturan yang dibuat Ankara guna melacak peredaran komponen-komponen itu.

Pemerintah Turki menolak untuk mengomentari laporan studi CAR tersebut. Kelompok yang berbasis di Inggris itu melakukan studi mereka selama 20 bulan atas mandat dari Uni Eropa.

Dalam studinya, CAR mendapat akses ke komponen-komponen tersebut dari mitra mereka yakni pejuang YPG Kurdi di Suriah, Polisi Federal Irak, Dewan Keamanan Kurdi, dan Pasukan Regional Kurdi. Komponen-kompone itu didapat selama perang besar di Rabia, Kirkuk, Mosul, dan Tikrit di Irak serta Kobani di Suriah.

CAR juga menyatakan sempat coba mengontak perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pasokan komponen itu. Namun, mereka tidak merespons dan menyatakan tidak bertanggung jawab ke mana barang tersebut pergi setelah meninggalkan pabrik.

Tujuh perusahaan India yang terlibat sebagian besar memproduksi detonator, kabel, dan sekering yang berhasil ditemukan CAR. Komponen itu diekspor secara legal di bawah izin Pemerintah India ke entitas di Lebanon dan Turki. Kemudian, perusahaan-perusahaan dari Brasil, Rumania, Rusia, Belanda, China, Swiss, Austria, dan Republik Ceko juga terlibat.



(Fit)
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru