Matatelinga.com, Senator John McCain dari
Partai Republik mengusulkan pemerintah Amerika Serikat menyalurkan dana kepada
negara-negara yang wilayahnya bersinggungan dengan Laut China Selatan, termasuk
Indonesia. Tujuannya, agar setiap negara memiliki infrastruktur militer yang
siap menghadang Tentara China.
McCain
menyatakan dana senilai USD 425 juta (setara Rp 5,9 triliun) bertahap selama
lima tahun itu bisa disalurkan ke Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan
Vietnam. "Dana itu bisa dipakai untuk menambah pasokan alutsista,
pelatihan, dan pembangunan instalasi militer sekitar Laut China Selatan,"
ujarnya seperti dilansir Irish Times dan dikutip laman merdeka.com, Sabtu (30/5/2015).
Sekadar
mengingatkan, Indonesia tidak punya urusan dengan konflik Laut China Selatan
yang melibatkan adu klaim lebih dari enam negara. Namun, ada kemungkinan peta
China meluas hingga Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
McCain
yang pernah berusaha maju menjadi capres pada pemilu AS 2008 mengatakan bantuan
itu perlu untuk menahan ekspansi China di area Laut China Selatan. Dia berharap
rekan-rekannya di DPR dan Senat mendukung UU Pertahanan yang fokus menghambat
penguatan militer China di Asia.
Kabarnya
Partai Demokrat maupun Partai Republik sepakat dalam setiap UU untuk melemahkan
militer China.
Pertengahan
Mei 2015, pesawat pengintai Amerika Serikat P8-A Poseidon terbang di atas
ketinggian 4.500 meter di atas kepulauan Spratly.
Militer
China tentu tidak tinggal diam. Kapal perang mereka memberi delapan peringatan
kepada pesawat Amerika untuk segera pergi.
Koran
Global Times, milik Partai Komunis China yang bermarkas di Beijing, menurunkan
editorial yang menuliskan ketegangan kian memanas dan perang antara China
melawan Amerika Serikat sulit terhindarkan.
Informasi
teranyar bahkan menyebutkan Jepang buat pertama kalinya akan bergabung dengan
Amerika dan Australia untuk ikut latihan militer di tengah memanasnya isu Laut
China Selatan ini.
"Amerika
ingin sekutunya berbuat lebih banyak. Jepang menjadi tumpuan kekuatan sekutu
Amerika di Pasifik Barat dan Australia jadi jangkar di sebelah selatan,"
kata Euan Graham, direktur Program Keamanan Internasional di Institut Lowy
Sydney.
(Fit)