Matatelinga - Berlin, Kalangan gereja dan politisi lainnya menolak keras gagasan tersebut.Julia Klockner, wakil ketua Partai Uni Demokratik Kristen (CDU), menuntut larangan mengenakan burka di tempat umum.
Kepada Rheinische Post, Klockner mengatakan burka kerudung penutup seluruh wajah dalam agama Islam tidak mencerminkan keragaman agama, tapi lebih merendahkan perempuan.
Joachim Herrmann, menteri dalam negeri Bavaria dan Partai Sosialis Kristen (CSU), dalam wawancara dengan Bild am Sonntag mengatakan gagasan Klocker di luar proporsi.
Omid Nouripour, politisi Partai Hijau, juga menolak larangan burka secara nasional. Menurutnya, juga kepada Bild am Sonntag, orang-orang yang mengenakan burka memang mengganggu pemandangan. Namun, lanjutnya, masalahnya bukan pada wanita yang mengenakan burka, tapi pihak yang memaksa wanita itu mengenakannya.
"Larangan burka hanya akan menyebabkan orang-orang itu tidak mengijinkan istri dan anak-anak perempuan mereka berada di luar," ujar Nouripour. "Itu tidak membantu siapa pun."
Petra Bosse-Huber, petinggi Gereja Protestan Jerman, mengatakan memang burka membuat mereka yang melihat merasa tidak nyaman. "Tapi itu buka alasan untuk tergesa-gesa mengubah hukum," ujarnya.
Hanya sejumlah kecil perempuan, masih menurut Bosse-Huber, yang akan terpengaruh larangan burka.
Aiman Mazyek, ketua Dewan Pusat Muslim Jerman, mengatakan adalah sedikit masalah karena perempuan yang mengenakan burka akan sulit mendapatkan pekerjaan. Meski demikian, katanya, tidak boleh ada larangan seperti itu.
"Kita harus menyingkirkan diskriminasi," ujar Mazyek kepada Bild am Sonntag. "Burka bukan masalah besar, tapi kecil. Muslim yang akan memecahkan masalah ini."
Namun beberapa negara bagian Jerman telah melarang perempuan mengenakan burka, terutama mereka yang menjalankan fungsi publik. Larangan juga dikenakan di sekolah dan perkantoran.
(Mt/Inc)