MATATELINGA. Istanbul �" Taliban harus "mengakhiri pendudukan di tanah saudara mereka" dan menganggap remeh peringatan dari kelompok militan itu tentang konsekuensi jika pasukan Turki tetap berada di Afghanistan untuk mengoperasikan bandara Kabul. Ucap Recep Tayyip Erdogan selaku Presiden Turki.
Dia mengatakan pendekatan Taliban bukanlah cara umat Islam harus berurusan satu sama lain.
Ankara, yang telah menawarkan untuk menjalankan dan menjaga bandara Kabul di ibu kota setelah NATO menarik diri, telah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai dukungan keuangan, politik, dan logistik untuk penempatan tersebut.
Baca Juga:Hari Raya Idul Adha 1442 H, Raja Salman Memberi Apresiasi Kepada Negara Muslim
Pekan lalu Taliban memperingatkan Turki atas rencana untuk menahan beberapa pasukan di Afghanistan untuk menjalankan bandara, menyebut strategi itu tercela, dan memperingatkan konsekuensinya.
"Dalam pernyataan yang dibuat oleh Taliban tidak ada ungkapan 'Kami tidak menginginkan Turki'," kata Erdogan ketika ditanya tentang komentar tersebut.
Secara terpisah, Erdogan mengatakan bahwa dia berharap untuk mengangkat pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini tentang masalah pengakuan internasional untuk Kosovo dan akan mengusulkan kerja bersama mengenai masalah tersebut untuk meningkatkan jumlah negara yang mengakuinya.
[br]
Taliban memerintah Afghanistan dengan tangan besi dari 1996 hingga 2001 dan telah berjuang selama 20 tahun untuk menggulingkan pemerintah yang didukung Barat di Kabul dengan menerapkan kembali pemerintahan Islam. Mereka membuat dorongan baru sekarang untuk merebut wilayah ketika pasukan asing menarik diri dari Afghanistan.
“(Taliban) harus mengakhiri pendudukan tanah saudara-saudara mereka dan menunjukkan kepada dunia bahwa perdamaian berlaku di Afghanistan segera,” kata Erdogan kepada wartawan sebelum berangkat untuk perjalanan ke Siprus utara, Senin (19/07/2021). (Mtc/Okz)