Matatelinga.com - Setiap hari pria ini menyusuri sungai bersama anak-anak untuk memungut sampah dan diubah menjadi miniatur tank, robot, motor Harley Davidson, dan berbagai kerajinan lain. Keterbatasan fisik dirinya, pria asal Semarang Jawa Tengah tak menyurutkan dirinya peduli lingkungan.
Meski berjalan tertatih dengan bantuan tongkat dan kaki palsu, Agung Setia Budi selalu mengajak anak-anak untuk memungut sampah di sekitar sungai dekat tempat tinggalnya. Sampah menjadi persoalan serius di kawasan padat penduduk di kampung Sumeneban, kelurahan Kauman, Semarang.
Kemudian, sampah yang didominasi botol-botol bekas dibawa pulang untuk diubah menjadi berbagai kerajinan. Belasan anak-anak yang mengikutinya diajari cara membuat bunga. Agung
Juga menanamkan peduli lingkungan sejak dini kepada anak-anak, dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Tak hanya botol air mineral, Agung juga memanfaatkan sampah lainnya seperti korek gas dan kartu perdana telepon seluler. Melalui tangan-tangan kreatifnya, barang-barang yang semula hanya menjadi sampah itu diubah menjadi kerajinan miniatur tank, robot, motor harley davidson, dan lainnya.
Pria yang akrab disapa Agung Wong itu mulai fokus memanfaatkan sampah setelah kakinya di amputasi akibat menderita diabetes melitus pada 2013, selain membuat kaki palsunya sendiri dari paralon bekas, dia juga mulai mengolah sampah-sampah yang banyak ditemukan di sekitar rumahnya.
Beragam kerajinan yang dibuatnya ternyata mampu mengundang perhatian banyak pihak, hingga memiliki nilai ekonomi. “Dengan memanfaatkan media sosial, kini telah merambah ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga pulau Kalimantan,” ujar Agung.
Kerajinan karyanya dibanderol harga mulai Rp50 ribu hingga Rp300 ribu per buah, tergantung pada tingkat kerumitannya. Dia tak pernah kesulitan mencari bahan baku, karena warga sekitar kerap memberinya barang-barang bekas untuk diolah menjadi kerajinan.
Agung pun mendirikan komunitas harapan untuk melakukan berbagai kegiatan belajar dan bermain bersama anak-anak. Mereka tak hanya belajar berbagai kerajinan secara gratis, tetapi juga ditumbuhkan kesadaran untuk mencintai lingkungan.