Senin, 13 Juli 2026 WIB

Akibat Demo Besar Guncang China, Wall Street Melemah di Akhir Perdagangan

Redaksi - Selasa, 29 November 2022 08:15 WIB
Akibat Demo Besar Guncang China, Wall Street Melemah di Akhir Perdagangan
Hand over
Ilustrasi
MATATELINGA, New York : Nilainya kerap sekali mengalami perubahan hampir pada setiap harinya. Dan kali ini, pasar saham terkena imbas protes di kota-kota besar China terhadap kebijakan ketat Covid-19 yang memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi. Dan pada akhirnya bursa saham AS, Wall Street melemah di akhir perdagangan Senin.


Saham Pinduoduo Inc di AS melonjak 12,6%, setelah platform e-commerce China itu mengalahkan estimasi pendapatan kuartal ketiga, dibantu oleh penguncian terkait Covid di negara yang memaksa konsumen berbelanja daring.

Saham AS dari perusahaan teknologi China lainnya juga naik, dengan Baidu dan Tencent Holdings masing-masing menguat lebih dari 2,0 persen.

Baca Juga:Proyek Tahun Jamak, Dinas BMBK Sumut Optimisme Capai Target Akhir Tahun

Saham Amazon.com Inc naik 0,6% setelah laporan industri memperkirakan pengeluaran selama Cyber ​​Monday, hari belanja daring terbesar AS, akan naik sebanyak 11,6 miliar dolar AS.

Perdagangan beragam di saham-saham pertumbuhan kelas berat lainnya, termasuk Microsoft Corp, Meta Platforms Inc, Nvidia Corp dan Tesla Inc.


Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 497,57 poin atau 1,45% menjadi 33.849,46 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 62,18 poin atau 1,54% menjadi 3.963,94 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 176,86 poin atau 1,58% menjadi 11.049,50 poin.

11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor real estat dan energi masing-masing tergelincir 2,81 persen dan 2,74 persen, memimpin penurunan.

Dengan waktu dua hari perdagangan di November, indeks S&P 500 berada di jalur yang tepat untuk kenaikan sebesar 2,4% pada bulan tersebut.

[br]

Saham Cupertino, raksasa teknologi California anjlok 2,6% karena keresahan pekerja di pabrik iPhone di China memicu kekhawatiran akan pukulan yang lebih dalam pada produksi ponsel kelas atas yang sudah dibatasi.


Protes yang jarang terjadi di kota-kota besar China selama akhir pekan pun menentang pembatasan ketat nol-Covid di negara itu memperburuk kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

"Protes ini hanyalah bukti bahwa ini adalah semacam target bergerak di mana, apakah China akan terus berusaha untuk benar-benar membatasi penyebaran Covid?" kata Ahli Strategi Investasi Nasional US Bank Wealth Management, Tom Hainlin, seperti dikutip dari Okezone, Selasa (29/11/2022).

"Atau apakah mereka akan memiliki lebih banyak pendekatan 'hidup bersama COVID' yang telah kita lihat di Amerika Serikat dan negara lain?" tambahnya.
Editor
: Rizky
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru