Selasa, 28 April 2026 WIB

Harga Minyak Turun Hingga USD2 Per Barel, Ini Dia Biang Keroknya?

Redaksi - Jumat, 24 Juni 2022 08:05 WIB
Harga Minyak Turun Hingga USD2 Per Barel, Ini Dia Biang Keroknya?
Hand over
Ilustrasi
MATATELINGA. New York - Hal ini setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberikan pernyataan yang memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga AS dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Harga minyak turun hingga USD2 per barel pada akhir perdagangan Kamis.


Harga bensin yang tinggi dapat mulai memperlambat permintaan. Di mana harga eceran AS saat ini rata-rata USD4,94 per galon atau turun sekitar 10 sen dari harga tertingginya.

Para penyulingan minyak utama AS dan Menteri Energi Jennifer Granholm bertemu dalam pertemuan darurat mengenai masalah tersebut untuk menurunkan harga. Menurut sumber yang mengetahui diskusi tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk bekerja sama.

Baca Juga:Wakil Gubernur Sumut Dorong Bank Sumut Sasar Seluruh UMKM Kabupaten/Kota

Perkiraan terbaru oleh American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin AS naik minggu lalu, yang juga membebani harga.

Perkiraan mingguan resmi untuk persediaan minyak AS dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (23/06/2022) tetapi masalah teknis akan menunda angka-angka itu hingga minggu depan, kata Badan Informasi Energi AS, tanpa memberikan garis waktu yang spesifik.


Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus jatuh USD1,69 atau 1,5% menjadi USD110,05 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus merosot USD1,92 atau 1,8% menjadi USD104,27 per barel.

Powell menyampaikan bahwa fokus The Fed untuk membatasi inflasi adalah tanpa syarat dan pasar tenaga kerja kuat secara tidak berkelanjutan, merupakan komentar yang memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga lebih lanjut.

[br]

Investor telah memangkas posisi dalam aset-aset berisiko karena mereka menilai tentang apakah bank-bank sentral yang melawan inflasi dapat mendorong ekonomi dunia ke dalam resesi dengan suku bunga yang lebih tinggi.

"Jika AS, dan seluruh dunia mengalami resesi, Anda dapat mempengaruhi permintaan secara signifikan," kata Konsultan Minyak Houston Andrew Lipow, seperti dikutip dari Okezone, Jum'at (24/06/2022).
Editor
: Rizky
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru