Minggu, 28 Juni 2026 WIB

Merespons Kebijakan The Fed, Indeks Dolar Menguat

- Kamis, 20 Mei 2021 08:00 WIB
Merespons Kebijakan The Fed, Indeks Dolar Menguat
Ilustrasi
MATATELINGA. Jakarta â€" Menghentikan penurunan beruntun empat hari dan rebound dari level terendah multi-bulan setelah rilis risalah dari pertemuan kebijakan moneter terbaru Federal Resere membuka ruang untuk pembahasan tapering (pengurangan pembelian obligasi). Indeks dolar menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi Wib).


Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang dunia, terakhir naik 0,52% pada 90,254, dilansir oleh wartawan, Kamis (20/05/2021).

Dalam risalah tersebut, sejumlah anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Federal Reserve AS mengatakan bahwa jika pemulihan ekonomi terus mendapatkan momentum, akan tepat "di beberapa titik" untuk membahas pengetatan kebijakan akomodatifnya, memberikan dorongan pada greenback.

Baca Juga:Pemerintah Akhirnya Menetapkan Tanggal Pendaftaran CPNS dan PPPK 2021, Cek Disini!

Namun, risalah tersebut berasal dari pertemuan yang terjadi sebelum rilis data ekonomi utama, yang menunjukkan pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja dan lonjakan harga yang didorong oleh ketidakseimbangan penawaran/permintaan.

Dolar juga mendapat manfaat dari sentimen risk-off (penghindaran risiko) yang luas, yang membuat indeks saham utama AS merosot dan mata uang kripto anjlok.


"Ketika kami melihat pergerakan besar menjauh dari Bitcoin, itu adalah indikasi bahwa investor menjauh dari aset berisiko, dan itu menguntungkan dolar," kata Gaffney. Itu adalah indikasi pelarian ke tempat yang aman.

Sejak itu, Fed berulang kali menawarkan jaminan bahwa lonjakan harga-harga dalam waktu dekat tidak akan menyebabkan inflasi jangka panjang.

"The Fed umumnya menyanyi dari lembaran lagu yang sama, menyatakan bahwa inflasi akan bersifat sementara," tambah Gaffney. “Secara umum, mereka telah melakukan pekerjaan yang baik dalam menjaga front yang cukup bersatu.â€

[br]

Imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai tertinggi sesi setelah rilis risalah Fed.


Sementara itu, tekanan harga-harga dirasakan di tempat lain. Inflasi Inggris lebih dari dua kali lipat pada April menjadi 1,5% dari bulan sebelumnya, memicu kekhawatiran serupa atas inflasi jangka panjang. Pound Inggris turun 0,58% terhadap dolar menjadi 1,4106 dolar AS.


Kanada juga merilis data inflasi terbaru, yang menunjukkan harga konsumen melonjak ke tingkat tahunan 3,4%. Greenback menguat 0,64% terhadap dolar Kanada menjadi 1,214 dolar AS, tetapi masih melayang di dekat level terlemah sejak Mei 2015.

Euro berbalik arah setelah menyentuh level tertinggi terhadap dolar AS sejak awal Januari, jatuh 0,5% menjadi 1,2164 dolar AS. Terhadap yen Jepang, dolar naik 0,25% menjadi 109,26 yen. (Mtc/Okz)

Editor
: Rizky
Sumber
: Okezone
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru